Comscore Tracker

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang 

Nyeri saat mengunyah, berbicara, ataupun menguap

Pernahkah kamu mengalami nyeri rahang yang sangat mengganggu setiap kali menggerakkan rahang? Seperti mengunyah, berbicara, atau saat menguap? Bila iya, mungkin kamu mengalami gangguan pada sendi temporomandibular.

Sendi temporomandibular adalah sendi engsel yang menghubungkan rahang bawah dengan tulang tengkorak, yang berada tepat di depan telinga. Baik rahang kiri maupun kanan memiliki sendi tersebut, yang memungkinkan gerakan rahang ke atas, bawah, atau dari sisi ke sisi. Sendi ini dapat kamu temukan dengan mudah dengan meraba persendian saat membuka dan menutup mulut.

Gangguan sendi temporomandibular merupakan masalah yang terjadi pada rahang dan otot-otot wajah yang mengendalikan gerakan rahang. Kondisi ini biasanya juga dikenal sebagai temporomandibular disorders (TMD). Ini dapat menyebabkan nyeri tumpul di dekat telinga, memicu sakit kepala, atau bahkan menyebabkan leher kaku.

Apa saja fakta medis tentang gangguan temporomandibular yang sebaiknya kamu ketahui? Yuk, simak lengkapnya di bawah ini, ya!

1. Gejala gangguan temporomandibular

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang ilustrasi gejala sakit rahang (pexels.com/Pavel Danilyuk)

TMD dapat menyebabkan gejala, seperti:

  • Nyeri wajah yang digambarkan dengan nyeri tumpul yang menyebar dari sendi temporomandibular hingga ke pelipis, rahang bawah, dan belakang leher
  • Sakit di dalam atau sekitar telinga yang tajam, yang dapat diperburuk dengan gerakan rahang. Ini bisa disertai telinga berdenging (tinitus) dan telinga tersumbat
  • Kesulitan dan nyeri saat menggerakkan rahang, seperti mengunyah, berbicara, dan lain-lain
  • Terkuncinya sendi, sehingga sulit untuk membuka dan menutup mulut
  • Menyebabkan bunyi "klik" atau sensasi seperti retakan saat menggerakkan rahang
  • Gejala potensial lain meliputi kejang otot rahang bawah, sakit mata, sakit lengan dan punggung, sakit kepala, pusing, kekakuan leher, dan tidur yang buruk

2. Penyebab dan faktor risikonya

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang ilustrasi menggemeretakkan gigi (pexels.com/Kindel Media)

Gangguan yang lebih sering terjadi pada wanita usia 20-40 tahun ini tidak diketahui pasti apa penyebabnya. Sering kali sulit untuk menentukan apa yang menyebabkan TMD, tetapi faktor seperti genetika, radang sendi, atau cedera rahang mungkin terkait dengan kondisi ini.

Beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko TMD meliputi:

  • Trauma rahang atau sendi, seperti menggemeretakkan gigi dalam jangka panjang, mengunyah permen karet yang berlebihan
  • Faktor psikologis seperti kecemasan, stres, atau depresi
  • Masalah rahang struktural yang hadir sejak lahir
  • Sensitivitas nyeri yang tinggi
  • Penyakit jaringan ikat tertentu yang memengaruhi sendi temporomandibular

Baca Juga: Sering Membunyikan Persendian, Apakah Ini Bisa Berbahaya?

3. Diagnosis gangguan temporomandibular

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang ilustrasi terapi radiasi (unsplash.com/National Cancer Institute)

Gangguan temporomandibular biasanya didiagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Jika dokter mencurigai adanya masalah, beberapa tes berikut mungkin diperlukan, termasuk:

  • Pencitraan seperti rontgen, CT scan, atau MRI untuk memberikan gambaran rinci kerusakan persendian
  • Artroskopi TMJ, dengan memasukkan tabung tipis kecil (kanula) dan kamera kecil (arthroscope) ke dalam ruang sendi

4. Perawatan rumahan yang dapat membantu meredakan gangguan temporomandibular 

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang ilustrasi makanan lunak dan keras (pexels.com/Andres Ayrton)

Pada beberapa kasus, gejala TMD dapat hilang dengan sendirinya. Namun, jika gejala menetap, beberapa perawatan rumahan berikut bisa kamu lakukan untuk meredakan gejala, di antaranya:

  • Minum obat antiinflamasi nonsteroid, seperti naproxen atau ibuprofen yang dapat meredakan nyeri otot dan pembengkakan
  • Menggunakan kompres panas atau dingin pada area yang sakit. Kompres es ke sisi wajah atau pelipis sekitar 10 menit, kemudian mengganti dengan kompres hangat selama 5 menit. Lakukan rutinitas tersebut beberapa kali setiap hari
  • Konsumsi makanan yang lunak atau memotong makanan menjadi potongan kecil untuk mengurangi gerakan rahang yang berat, seperti sup, yoghurt, atau telur orak-arik
  • Hindari gerakan rahang yang ekstrem, seperti mengunyah permen karet, berteriak, atau aktivitas apa pun yang memaksa gerakan rahang
  • Pelajari teknik relaksasi, seperti terapi untuk mengendurkan rahang

5. Prosedur lain jika tidak berhasil 

Fakta Gangguan Temporomandibular, Nyeri pada Sendi dan Otot Rahang ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Ketika pengobatan rumahan tidak berhasil, dokter mungkin akan merekomendasikan prosedur medis lain, seperti:

  • Suntikan kortikosteroid ke dalam sendi
  • Terapi seperti stimulasi saraf listrik transkutan, terapi gelombang radio, terapi laser tingkat rendah
  • Artrosentesis, yaitu prosedur invasif minimal dengan menyisipkan jarum kecil ke dalam sendi. Prosedur ini digunakan untuk menghilangkan cairan atau kotoran dalam sendi
  • Pembedahan artroskopi
  • Kondilotomi yang dimodifikasi, yaitu tindakan yang melibatkan pembedahan pada mandibula, bukan pada sendi temporomandibular secara langsung
  • Operasi sendi terbuka. Namun, tindakan ini biasanya melibatkan lebih banyak risiko daripada prosedur lainnya. Sehingga harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

Nah, itulah beberapa fakta medis mengenai gangguan sendi temporomandibular. Ini bukanlah kondisi yang bisa dicegah, tetapi bisa dikurangi gejalanya dengan menurunkan tingkat stres. Pada banyak kasus, pengobatan rumahan biasanya berhasil meredakan gejala, sedangkan perawatan yang agresif jarang diperlukan.

Baca Juga: Mengenal 9 Fakta Artritis, Radang Sendi yang Menyakitkan

Dwi wahyu intani Photo Verified Writer Dwi wahyu intani

@intanio99

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya