Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Fentanyl: Manfaat Medis, Efek Samping, dan Risikonya
ilustrasi fentanyl (pexels.com/Michelle Leman)
  • Fentanyl adalah opioid sintetis yang digunakan untuk anestesi dan menangani nyeri berat dalam kondisi medis tertentu.

  • Potensinya tinggi. Pemakaian tanpa pengawasan, produk ilegal yang kadarnya tidak diketahui, serta campuran alkohol atau obat penenang dapat meningkatkan risiko overdosis.

  • Napas lambat atau dangkal dan sulit dibangunkan adalah tanda gawat darurat. Nalokson dapat membalikkan overdosis opioid jika tersedia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di ruang operasi, fentanyl dan fentanil dapat membantu mengendalikan nyeri pasien. Namun, obat yang sama juga berisiko menekan pernapasan, terutama jika digunakan tanpa pengawasan atau kandungannya tidak diketahui.

Karena itu, penting membedakan fentanyl yang diresepkan dan diberikan tenaga medis dari fentanyl ilegal.

1. Berawal dari upaya mencari obat pereda nyeri

Fentanyl adalah opioid sintetis—obat buatan laboratorium yang bekerja pada sistem saraf untuk meredakan nyeri. Senyawa ini disintesis pada 1960 oleh Paul Janssen, lalu diteliti sebagai obat anestesi.

Studi sejarah mencatat penggunaannya pada pasien yang menjalani operasi jantung, sekaligus menyoroti risiko seperti depresi pernapasan dan kekakuan otot.

2. Kapan fentanyl digunakan secara medis?

Tenaga medis dapat menggunakan fentanyl untuk anestesi dan nyeri berat, misalnya setelah operasi atau pada kanker stadium lanjut.

Bentuk dan cara pemberiannya berbeda-beda. Sebagai contoh, fentanyl dalam bentuk plester kulit ditujukan untuk nyeri kronis yang memerlukan obat opioid terus-menerus, ketika pilihan lain tidak memadai. Label obat ini membatasi penggunaannya pada pasien yang sudah memiliki toleransi terhadap opioid; plester tersebut bukan obat untuk nyeri mendadak atau nyeri ringan.

3. Lebih kuat dari morfin

Fentanyl patch. (commons.wikimedia.org/User:Crohnie at the English Wikipedia)

Fentanyl diperkirakan sekitar 50–100 kali lebih kuat daripada morfin dalam efek pereda nyerinya. Perbandingan ini bukan panduan untuk menentukan dosis aman: risiko bergantung pada bentuk obat, cara pemberian, kondisi pasien, dan pengawasan medis.

Dosis yang tepat untuk satu pasien belum tentu aman bagi orang lain.

4. Fentanyl ilegal berbeda dari obat resep

Fentanyl farmasi dibuat untuk penggunaan medis dengan dosis dan mutu yang dikendalikan. Sebaliknya, produk ilegal dapat memiliki kandungan dan kekuatan yang tidak diketahui.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, fentanyl ilegal ditemukan dalam bubuk maupun pil palsu yang menyerupai obat resep. Orang yang mengonsumsinya bisa tidak tahu bahwa produk tersebut mengandung fentanyl.

5. Efek sampingnya bisa ringan hingga mengancam nyawa

Efek samping yang dapat muncul antara lain mengantuk, pusing, mual, muntah, dan sembelit.

Risiko paling serius adalah pernapasan yang melambat atau menjadi dangkal. Alkohol, obat tidur, obat penenang seperti benzodiazepin, dan obat lain yang menekan sistem saraf dapat memperberat efek tersebut.

Pada pengguna plester fentanyl, paparan panas langsung, misalnya dari bantalan pemanas atau sauna, juga dapat meningkatkan penyerapan obat dan risiko overdosis.

6. Kenali tanda overdosis dan segera cari pertolongan

ilustrasi overdosis obat (pexels.com/Kevin Bidwell)

Orang yang mengalami overdosis opioid mungkin sulit dibangunkan, bernapas lambat atau dangkal, mengeluarkan suara seperti tersedak atau mendengkur, dan pupilnya sangat kecil.

Jika itu terjadi, segera hubungi layanan gawat darurat setempat. Berikan nalokson jika tersedia, baringkan orang tersebut miring, dan tetap dampingi sampai bantuan datang. Nalokson dapat membalikkan efek overdosis opioid, termasuk fentanyl, tetapi pertolongan medis tetap diperlukan.

Fentanyl dapat berperan penting dalam perawatan nyeri ketika diresepkan dan dipantau dengan tepat. Namun, kekuatannya membuat penggunaan tanpa resep, berbagi obat, atau mengubah cara pemakaian menjadi berbahaya. Jika seseorang memakai fentanyl resep, perubahan dosis atau penghentian obat sebaiknya dibicarakan dengan dokter.

Referensi

Carlos A. Valdez, Roald N. Leif, and Brian P. Mayer, “An Efficient, Optimized Synthesis of Fentanyl and Related Analogs,” PLOS ONE 9, no. 9 (2014): e108250, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0108250.

T. H. Stanley, “The History and Development of the Fentanyl Series,” Journal of Pain and Symptom Management 7, no. 3, suppl. (1992): S3–S7, https://doi.org/10.1016/0885-3924(92)90047-L.

Centers for Disease Control and Prevention, “Fentanyl Facts,” diakses September 2026.

DailyMed, “Fentanyl Transdermal System,” diakses September 2026.

U.S. Drug Enforcement Administration, “Fentanyl,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Fentanyl Facts," diakses September 2026.

U.S. National Library of Medicine, “Fentanyl: Drug Information,” MedlinePlus, diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “5 Things to Know About Naloxone,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article