Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dulu, Pasien Sifilis Sengaja Ditulari Malaria untuk Diobati

Dulu, Pasien Sifilis Sengaja Ditulari Malaria untuk Diobati
ilustrasi dokter merawat pasien (IDN Times/NRF)
  • Pada 1917, Julius Wagner-Jauregg menerapkan malarioterapi dengan sengaja memicu malaria pada pasien neurosifilis untuk menghasilkan demam tinggi berulang, lalu mengobati malaria memakai kina.

  • Laporan awal mencatat sebagian pasien membaik, tetapi hasilnya tidak pasti: dari 9 pasien, 1 meninggal; catatan lain menunjukkan kematian akibat malaria sekitar 5–13 persen.

  • Malarioterapi ditinggalkan setelah penisilin tersedia. Kini neurosifilis ditangani dengan penisilin G intravena selama 10–14 hari, disertai pemeriksaan dokter dan pemantauan respons terapi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada 1917, ketika penisilin belum tersedia sebagai pengobatan, dokter Julius Wagner-Jauregg mencoba pendekatan yang kini membuat orang memicingkan mata, yaitu membuat pasien dengan komplikasi sifilis terkena malaria. Ia berharap demam akibat infeksi tersebut dapat memperbaiki kondisi mereka.

Praktik ini dikenal sebagai malarioterapi. Sasaran utamanya adalah pasien dengan general paresis, bentuk neurosifilis yang menyebabkan kemunduran fungsi otak.

Pada masa itu, penyakit tersebut dapat merenggut kemampuan berpikir, bergerak, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

  1. 1. Mengapa malaria yang dipilih?

    Gagasan itu berangkat dari pengamatan bahwa sebagian pasien mengalami perbaikan setelah penyakit yang menimbulkan demam. Malaria dianggap memungkinkan dokter memicu demam tinggi berulang, kemudian mengobati infeksinya dengan kina atau quinine, obat yang sudah tersedia saat itu.

    Dengan demikian, dokter berusaha memanfaatkan respons tubuh terhadap infeksi lain untuk menghadapi penyakit yang pilihan terapinya saat itu sangat terbatas. Namun, kemampuan mengobati malaria tidak membuat tindakan menginfeksikan pasien menjadi bebas risiko.

  2. 2. Ada yang membaik, tetapi ada pula pasien yang meninggal

    Seorang pasien pria terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan infus dan alat pemantau terpasang di tangannya.
    ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (magnific.com/magnific)

    Tinjauan sejarah dalam jurnal Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical merangkum laporan awal terhadap sembilan pasien. Tiga dilaporkan pulih sepenuhnya, tiga membaik, dua tidak mengalami perubahan, dan satu meninggal akibat malaria.

    Terapi ini kemudian menyebar dan mengantarkan Wagner-Jauregg memperoleh Nobel Kedokteran pada 1927. Namun, laporan sejarah juga mencatat kematian akibat malaria sekitar 5–13 persen pada berbagai kelompok pasien yang menjalani terapi.

  3. 3. Membaik belum tentu berarti infeksinya hilang

    Penilaian terhadap keberhasilan terapi saat itu memiliki keterbatasan. Respons pasien sulit diprediksi dan lamanya perbaikan bervariasi. Perbaikan gejala juga tidak selalu sejalan dengan perubahan hasil tes darah untuk sifilis.

    Karena itu, laporan pasien yang membaik tidak membuktikan bakteri penyebab sifilis mati. Juga, tidak ada penelitian terkontrol yang memadai untuk praktik tersebut.

  4. 4. Penisilin mengubah arah pengobatan

    Malarioterapi untuk sifilis ditinggalkan setelah penisilin dan antibiotik efektif lainnya tersedia. Pengobatan dapat diarahkan pada infeksi penyebabnya tanpa sengaja menulari malaria.

    Saat ini, pedomannya penisilin G diberikan secara intravena selama 10–14 hari untuk neurosifilis pada orang dewasa. Penanganannya memerlukan pemeriksaan dokter dan pemantauan respons terapi.

    Sifilis memang dapat melibatkan sistem saraf pada berbagai tahap penyakit. Keluhan seperti perubahan kemampuan berpikir, gangguan penglihatan atau pendengaran, dan kelemahan anggota tubuh perlu dinilai secara medis. Terapi malaria merupakan bagian dari sejarah pengobatan, sedangkan penanganan saat ini mengikuti diagnosis dan terapi antibiotik yang sesuai.

    Referensi

    Science History Institute, “When Mosquitoes Cured Insanity,” diakses September 2026.

    Daniel Roberto Coradi Freitas, João Barberino Santos, dan Cleudson Nery Castro, “Healing with Malaria: A Brief Historical Review of Malariotherapy for Neurosyphilis, Mental Disorders and Other Infectious Diseases,” Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical 47, no. 2 (2014): 260–61, https://doi.org/10.1590/0037-8682-0209-2013.

    Centers for Disease Control, “Imported Malaria Associated with Malariotherapy of Lyme Disease—New Jersey,” Morbidity and Mortality Weekly Report 40, no. 6 (1991): 106–8, https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001850.htm.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Neurosyphilis, Ocular Syphilis, and Otosyphilis,” Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, terakhir ditinjau 22 Juli 2021, https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/neurosyphilis.htm

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More