Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Flu Membaik Lalu Demam Lagi? Waspadai Infeksi Sekunder

4 min read
Flu Membaik Lalu Demam Lagi? Waspadai Infeksi Sekunder
ilustrasi demam (magnific.com/DC Studio)
  • Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali atau memburuk perlu diperiksa.

  • Pola ini bisa menandakan komplikasi atau infeksi sekunder, tetapi tidak memastikan penyebabnya bakteri maupun pneumonia pneumokokus.

  • Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan. Sesak berat, nyeri dada menetap, atau kebingungan perlu pertolongan segera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Demam dan batuk akibat flu bisa saja mulai membaik sehingga kamu merasa sudah pulih. Namun, jika beberapa hari kemudian demam muncul kembali atau kamu malah mengalami sesak napas, kondisi ini perlu diwaspadai. Gejala yang sempat membaik lalu kembali atau memburuk merupakan salah satu tanda peringatan komplikasi flu yang perlu perhatian medis.

Dokter Kristin Tjandra, dokter keluarga dari Prodia, membahas pola tersebut saat diwawancarai dalam acara edukasi kesehatan “Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti” di Jakarta, Kamis (24/9). Ia menjelaskan bahwa infeksi lain dapat terjadi saat seseorang belum pulih sepenuhnya.

  1. 1. Gejala yang kambuh perlu diperhatikan

    Dokter Kristin menggambarkan seseorang yang telah terdiagnosis flu dan mulai membaik, tetapi kemudian kondisinya kembali turun. “Dua hari kemudian akhirnya jatuh lagi,” ujarnya.

    Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali atau memburuk bisa menjadi tanda komplikasi flu. Batuk dan rasa lelah memang dapat bertahan lebih lama setelah flu, tetapi gejala yang kembali disertai demam atau sesak sebaiknya diperiksa oleh dokter.

  2. 2. Infeksi sekunder tidak selalu berarti infeksi bakteri

    Dokter Kristin mengibaratkan virus sebagai sesuatu yang “membuka jalan” bagi infeksi lain. Ia mengatakan, “Daya tahan tubuh turun, mungkin belum sepenuhnya fine, belum sepenuhnya sehat … terjadilah infeksi sekunder.”

    Ia juga menjelaskan bahwa infeksi sekunder bisa ya dari si virus itu sendiri, mungkin virus yang berbeda, atau dari bakteri.

    Flu sendiri dapat menyebabkan pneumonia akibat virus influenza. Pneumonia juga dapat terjadi ketika flu disertai infeksi bakteri. Keduanya tidak bisa dibedakan hanya dari pola demam yang kembali.

  3. 3. Pneumokokus hanya salah satu kemungkinan

    Mikrograf berwarna memperlihatkan bakteri Streptococcus pneumoniae, salah satu penyebab umum pneumonia pada manusia.
    Bakteri Streptococcus pneumoniae yang jadi penyebab umum pneumonia. (commons.wikimedia.org/CDC/Janice Carr)

    Pneumokokus (Streptococcus pneumoniae) memang merupakan salah satu penyebab pneumonia yang dapat muncul setelah influenza. Namun, pneumonia pasca flu juga bisa disebabkan oleh bakteri lain, seperti Staphylococcus aureus dan streptokokus grup A. Selain itu, influenza sendiri dapat menyebabkan pneumonia tanpa adanya infeksi bakteri tambahan.

    Karena itu, demam dan sesak napas yang muncul kembali setelah flu tidak otomatis menandakan pneumonia akibat pneumokokus. Warna dahak juga tidak dapat digunakan untuk memastikan kuman penyebabnya. Diperlukan pemeriksaan medis untuk menentukan apakah gejala tersebut disebabkan oleh pneumonia atau kondisi lain.

  4. 4. Pemeriksaan membantu menentukan penyebabnya

    Saat berkonsultasi dengan dokter, sampaikan kapan gejala flu mulai muncul, kapan sempat membaik, dan kapan demam atau sesak kembali. Dokter akan menilai gejala dan kondisi pernapasan. Sesuai temuan, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti foto rontgen dada atau tes lainnya.

    Hasil pemeriksaan membantu dokter menentukan apakah penanganan suportif cukup atau diperlukan obat tertentu. Keputusan penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dengan hasil tes virus positif bergantung pada kondisi klinis dan faktor risiko masing-masing. Antibiotik tidak mengobati virus flu, sehingga penggunaannya perlu berdasarkan penilaian dokter.

  5. 5. Jangan tunda pertolongan jika mengalami sesak atau nyeri dada

    Dokter Kristin mengingatkan bahwa infeksi sekunder kadang-kadang lebih berat daripada infeksi yang pertama. Ia menyarankan orang yang mulai merasa pulih agar tidak langsung mengabaikan perubahan kondisi.

    “Pastikan dulu udah fine dulu, baru boleh beraktivitas dengan baik.”

    Segera cari pertolongan medis jika demam atau batuk kembali, terutama jika disertai sesak. Sesak berat, nyeri atau tekanan dada yang menetap, bibir kebiruan, atau kebingungan mendadak memerlukan pertolongan segera.

    Gejala yang kambuh setelah flu dapat menjadi tanda komplikasi, tetapi tidak menunjukkan dengan pasti apakah penyebabnya virus, bakteri, atau pneumonia pneumokokus. Pemeriksaan membantu menemukan penyebab dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu”, diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Signs and Symptoms of Influenza”, diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Outpatient Clinical Care for Adults”, diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Pneumonia”, diakses Oktober 2026.

    National Health Service, “Pneumonia”, diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu,” diakses Oktober 2026.

    Barbara E. Jones et al., “Diagnosis and Management of Community-Acquired Pneumonia: An Official American Thoracic Society Clinical Practice Guideline,” American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine 212, no. 1 (2026): 24–44, https://doi.org/10.1164/rccm.202507-1692ST.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More