Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Flu Setelah Kontak dengan Babi, Kapan Harus ke Dokter?
ilustrasi peternakan babi (unsplash.com/Amber Kipp)
  • Jika gejala flu muncul setelah kontak dekat dengan babi, segera hubungi dokter dan jelaskan kapan serta bagaimana paparannya.

  • Sesak napas, nyeri dada, kebingungan, kejang, atau tanda dehidrasi perlu pertolongan medis segera.

  • Gejala flu varian sulit dibedakan dari flu biasa. Tes cepat yang umum juga tidak selalu bisa menunjukkan asal virusnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seseorang baru pulang dari peternakan atau membantu merawat babi. Beberapa hari kemudian, mengalami ia demam dan batuk. Keluhan itu bisa disebabkan flu musiman atau virus pernapasan lain. Namun, riwayat kontak dengan babi tetap perlu disampaikan kepada tenaga medis karena virus influenza yang biasanya beredar pada babi sesekali dapat menginfeksi manusia.

Ketika virus influenza yang umumnya menyebar pada babi ditemukan pada manusia, infeksinya disebut influenza varian. Ini berbeda dari influenza musiman yang biasa beredar pada manusia.

1. Hubungi dokter jika gejala muncul setelah kontak dekat dengan babi

Paparan terhadap babi dalam 7 hari sebelum gejala muncul dapat menjadi petunjuk penting saat dokter menilai kemungkinan influenza varian.

Paparan ini mencakup menyentuh babi atau cairan tubuhnya, memberi makan atau membersihkan kandang, berada di lingkungan yang terkontaminasi, terutama jika ada babi yang sakit, atau melakukan kontak dekat dengan orang yang baru terpapar babi dan kemudian jatuh sakit.

Jika dalam periode tersebut muncul demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, atau keluhan mirip flu lainnya, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan. Sampaikan kapan paparan terjadi, aktivitas yang dilakukan saat itu, serta apakah babi yang terlibat tampak sakit. Informasi ini sebaiknya diberikan sejak awal, jangan menunggu sampai kondisi memburuk.

Gejala influenza varian sering kali mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan rasa lemas. Sebagian orang juga dapat mengalami mual, muntah, diare, atau mata merah. Karena gejalanya serupa, influenza varian dan flu musiman umumnya tidak dapat dibedakan hanya berdasarkan gejala saja.

2. Ketahui siapa yang perlu menghubungi dokter lebih awal

Anak di bawah 5 tahun, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi flu. Jika termasuk salah satu kelompok ini dan mengalami gejala setelah terpapar babi, hubungi tenaga medis sesegera mungkin, meski keluhannya terasa ringan.

Dokter dapat menilai apakah pemeriksaan atau obat antivirus diperlukan. Obat antivirus harus diresepkan; manfaatnya umumnya lebih besar bila dimulai sedini mungkin setelah gejala muncul. Karena itu, jangan menunda menghubungi dokter untuk menunggu hasil tes mandiri.

3. Kenali tanda yang perlu pertolongan segera

ilustrasi sesak napas (magnific.com/rawpixel.com)

Pergilah ke instalasi gawat darurat atau cari pertolongan medis segera jika muncul:

  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.

  • Nyeri atau tekanan menetap di dada.

  • Kebingungan, sulit dibangunkan, atau kejang.

  • Tidak buang air kecil, kelemahan berat, atau nyeri otot parah.

  • Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali memburuk.

Pada anak, tanda bahaya juga mencakup napas cepat atau sulit, bibir kebiruan, dada tertarik saat bernapas, tidak buang air kecil selama 8 jam, tidak responsif seperti biasa, atau kejang.

Bayi usia di bawah 12 minggu perlu diperiksa oleh dokter jika mengalami demam.

Daftar di atas tidak mencakup semua kemungkinan; cari bantuan medis jika gejala terasa berat atau mengkhawatirkan.

4. Jangan mengandalkan tes cepat untuk memastikan asal virus

Tes flu cepat yang mendeteksi influenza A atau B tidak selalu dapat membedakan flu musiman dari virus influenza A varian yang berasal dari hewan. Hasil negatif dari jenis tes cepat tertentu juga tidak sepenuhnya menyingkirkan influenza.

Dokter akan mempertimbangkan riwayat paparan dan kondisi pasien untuk menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan; prosedurnya dapat berbeda menurut fasilitas dan pedoman setempat.

Karena itu, beri tahu dokter soal kontak dengan babi meskipun hasil tes cepat menyatakan “influenza A” atau hasilnya negatif. Paparan tersebut membantu tenaga medis menilai apakah pemeriksaan tambahan perlu dilakukan.

5. Sambil menunggu arahan, batasi kontak dengan orang lain

Jika sedang sakit, tinggal di rumah dan kurangi kontak dengan orang lain serta babi. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, buang tisu bekas, lalu cuci tangan. Langkah ini membantu mengurangi penyebaran virus pernapasan yang mungkin sedang dialami, apa pun penyebabnya.

Kontak dengan babi tidak berarti seseorang pasti tertular atau mengalami penyakit berat. Namun, infeksi varian pernah menyebabkan penyakit serius. Dalam laporan penelitian di Brasil, para peneliti mendeskripsikan 8 infeksi pada manusia yang terdeteksi pada 2020–2023: 6 kasus ringan dan dua kasus berat, termasuk 1 kematian.

Penularan influenza varian antarmanusia jarang terjadi, tetapi riwayat paparan tetap penting untuk dinilai. Ada satu hal yang kerap dikhawatirkan, bahwa influenza varian tidak diketahui menyebar melalui daging babi yang ditangani dan dimasak dengan benar.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention, “About Human Infections with Variant Influenza Viruses,” diakses Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Interim Guidance for Clinicians on Human Infections with Variant Influenza Viruses,” diakses Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of Variant Influenza Virus,” diakses Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu,” diakses Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Rapid Influenza Diagnostic Tests,” diakses Oktober 2026.

Paola Cristina Resende, Dennis M. Junqueira, Caroline Tochetto, et al., “Zoonotic Transmission of Novel Influenza A Variant Viruses Detected in Brazil during 2020 to 2023,” Nature Communications 15 (2024): 10748.

Curated For You

Editorial Team

Related Article