Beberapa penelitian menemukan bahwa tingkat kecemasan ternyata jauh lebih tinggi pada orang yang punya GERD dibandingkan orang yang tidak punya GERD. Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya jelas, tetapi para peneliti punya dua teori tentang hubungan antara GERD dan kecemasan ini.
Teori pertama, kecemasan bisa memicu munculnya GERD, atau membuat seseorang lebih rentan terkena GERD. Karena banyak orang dengan GERD juga mengalami kecemasan, beberapa ahli menduga bahwa kecemasan dapat membuat seseorang lebih mudah mengembangkan GERD.
Teori kedua, kondisi psikologis seperti kecemasan diduga bisa menimbulkan perubahan dalam tubuh yang memicu GERD. Misalnya, kecemasan bisa memengaruhi pergerakan otot kerongkongan (esophageal motility) atau meningkatkan produksi asam lambung melalui respons stres tubuh. Teori ini sempat dibuktikan lewat penelitian pada tikus, meski pada manusia bukti terbarunya masih belum kuat.
Menariknya, hubungan ini juga bisa terjadi sebaliknya: gejala GERD dapat memperburuk kecemasan. Ada penelitian yang menemukan bahwa makin parah gejala GERD, makin tinggi juga tingkat kecemasan seseorang. Rasanya masuk akal: mengalami sensasi panas di dada, nyeri, atau rasa asam naik ke tenggorokan berulang kali tentu bisa membuat pikiran tambah stres.
Salah satu studi yang memantau orang dengan GERD selama 24 jam menemukan bahwa tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan nyeri di dada (posisi di belakang tulang dada) dan sensasi terbakar yang lebih parah. Penelitian lain juga mendukung hal ini: pada pasien GERD, kecemasan lebih tinggi dialami oleh mereka yang juga sering mengalami nyeri dada.
Penelitian lain pun menemukan kaitan positif antara GERD, kecemasan, dan kualitas tidur yang buruk. Sulit tidur memang sering menjadi masalah pada keduanya.
Sayangnya, karena metode penelitian yang ada, para ahli belum bisa memastikan mana yang lebih dulu: apakah kecemasan membuat gejala GERD makin parah, atau GERD justru yang menambah kecemasan. Yang jelas, keduanya saling berkaitan.