Robert E. Brannigan et al., “Updates to Male Infertility: AUA/ASRM Guideline (2024),” The Journal of Urology 212, no. 6 (2024): 789–799, https://doi.org/10.1097/JU.0000000000004180.
American Society for Reproductive Medicine, “Diagnosis and Treatment of Infertility in Men: AUA/ASRM Guideline,” diakses September 2026.
Pravesh Kumar Bundhun et al., “Tobacco Smoking and Semen Quality in Infertile Males: A Systematic Review and Meta-Analysis,” BMC Public Health 19 (2019): 36, https://doi.org/10.1186/s12889-018-6319-3.
European Association of Urology, “Male Infertility,” EAU Guidelines on Sexual and Reproductive Health, diakses September 2026.
Rashmi Agarwal et al., “Mediterranean Diet, Semen Quality, and Medically Assisted Reproductive Outcomes in the Male Population: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Advances in Nutrition 16, no. 8 (2025): 100454, https://doi.org/10.1016/j.advnut.2025.100454.
American Society for Reproductive Medicine, “Definition of Infertility: A Committee Opinion,” 2023, diakses September 2026.
7 Tips Menjaga Kesuburan Pria yang Perlu Dijaga Sejak Dini

Kesuburan pria dipengaruhi kualitas sperma, hormon, kesehatan reproduksi, dan kondisi pasangan.
Berhenti merokok, menjaga berat badan, membatasi alkohol, serta menghindari testosteron tanpa indikasi medis dapat membantu menekan faktor risiko.
Jika kehamilan belum terjadi sesuai batas waktu yang dianjurkan, pemeriksaan perlu dilakukan oleh kedua pasangan.
Kesuburan pria tidak hanya ditentukan oleh jumlah sperma. Kemampuan sperma untuk bergerak, bentuknya, keseimbangan hormon, kondisi saluran reproduksi, hingga kesehatan pasangan turut memengaruhi peluang terjadinya kehamilan. Karena itu, menjaga kesuburan perlu dilakukan sejak muda sebelum menikah.
Panduan American Urological Association (AUA) dan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyebutkan bahwa faktor gaya hidup, obat-obatan, paparan lingkungan, serta kebiasaan tertentu perlu dibahas dalam evaluasi kesuburan pria.
Table of Content
1. Pertahankan berat badan sehat dan tetap aktif
Kelebihan berat badan dan minim aktivitas fisik dikaitkan dengan kualitas sperma serta kadar hormon yang lebih buruk. Penurunan berat badan pada pria dengan berat badan berlebih atau obesitas mungkin membantu memperbaiki beberapa parameter sperma.
Aktivitas fisik rutin dengan intensitas yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi sekaligus kesehatan jantung dan metabolisme. Fokusnya bukan olahraga ekstrem, melainkan kebiasaan aktif bergerak yang dapat dipertahankan.
2. Berhenti merokok
Rokok mengandung berbagai zat yang dapat memengaruhi sistem reproduksi. Kebiasaan buruk ini berkaitan dengan jumlah sperma yang lebih rendah dan lebih banyak kelainan bentuk sperma.
Berhenti merokok tidak selalu langsung mengoptimalkan kesuburan, tetapi ini menghilangkan salah satu paparan yang dapat dimodifikasi.
Jika sulit berhenti, bantuan dokter atau layanan konseling berhenti merokok dapat membuat prosesnya lebih terarah.
3. Jangan menggunakan testosteron atau steroid anabolik sembarangan

ilustrasi seorang pria berolahraga di gym (pexels.com/Andrea Piacquadio) Testosteron dari luar tubuh dan steroid anabolik, termasuk yang digunakan untuk membentuk otot, dapat menekan hormon yang dibutuhkan untuk produksi sperma. Akibatnya, jumlah sperma bisa turun drastis, bahkan berhenti sementara.
Terapi testosteron tidak digunakan untuk mengatasi infertilitas pada pria yang masih ingin memiliki anak. Jika seseorang sedang mengonsumsi testosteron atau steroid, ia perlu berkonsultasi dengan dokter. Obat yang diresepkan tidak sebaiknya dihentikan sendiri tanpa pengawasan medis.
4. Batasi alkohol, terutama konsumsi berat
Hubungan antara alkohol dan kesuburan tidak selalu sederhana. Konsumsi dalam jumlah sedang belum secara konsisten terbukti merusak semua parameter sperma, tetapi konsumsi berat dan berulang dikaitkan dengan gangguan kesuburan serta penurunan testosteron.
Karena respons setiap orang berbeda, membatasi alkohol—terutama ketika sedang merencanakan kehamilan—merupakan langkah yang lebih aman.
5. Utamakan pola makan seimbang
Pola makan yang banyak mengandung sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, dan lemak tak jenuh dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Pola makan Mediterania juga dikaitkan dengan kualitas air mani yang lebih baik.
Suplemen antioksidan dan vitamin tidak boleh dianggap sebagai jalan pintas. Manfaat klinis suplemen tersebut masih meragukan, sehingga penggunaannya sebaiknya dibicarakan dengan dokter, terutama jika ada penyakit atau obat lain yang sedang dikonsumsi.
6. Cegah dan obati infeksi saluran reproduksi

ilustrasi pasien berkonsultasi dengan dokter (pexels.com/MART PRODUCTION) Infeksi menular seksual (IMS) dan infeksi pada saluran reproduksi, seperti epididimitis atau radang testis, dapat mengganggu kesehatan reproduksi. Penggunaan kondom, pemeriksaan ketika memiliki risiko paparan, serta pengobatan sesuai resep membantu mencegah komplikasi.
Jika didiagnosis mengalami IMS, pasangan seksual juga perlu mendapat evaluasi dan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dokter.
7. Kurangi paparan panas dan bahan kimia berisiko
Paparan panas yang berulang atau berkepanjangan pada area testis dan paparan bahan kimia di tempat kerja dapat dibahas bersama dokter, terutama jika pekerjaan melibatkan pelarut, pestisida, logam berat, atau zat industri tertentu. Gunakan alat pelindung diri dan ikuti prosedur keselamatan kerja.
Bukti mengenai kebiasaan seperti jenis pakaian dalam, penggunaan laptop di pangkuan, atau sauna belum cukup seragam untuk dijadikan penyebab tunggal infertilitas. Karena itu, langkah yang paling penting adalah mengurangi paparan berlebihan yang memang dapat dihindari.
Kapan perlu memeriksakan kesuburan?
Evaluasi dapat dimulai setelah 12 bulan hubungan seksual rutin tanpa kontrasepsi jika pasangan perempuan berusia di bawah 35 tahun. Pemeriksaan dianjurkan setelah 6 bulan bila pasangan perempuan berusia 35 tahun atau lebih. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada kedua pasangan secara bersamaan.
Pria juga sebaiknya tidak menunda pemeriksaan jika mengalami gangguan ereksi atau ejakulasi, riwayat cedera atau operasi testis, IMS, testis tidak turun, kemoterapi, atau pernah menggunakan steroid anabolik.
Analisis air mani biasanya menjadi salah satu pemeriksaan awal. Hasilnya akan membantu dokter menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lanjutan.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)














.jpg)




![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Coba Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)

