ilustrasi bubuk arsenik (pexels.com/MART PRODUCTION)
Arsenik (As) adalah jenis logam berat yang secara alami terdapat dan tersebar luas di alam, baik di udara, di air, maupun di tanah. Arsenik berasal dari mineral alami kerak bumi (batuan dan tanah). Logam ini dilepaskan ke lingkungan melalui berbagai aktivitas alami maupun manusia, seperti pelapukan batuan, gunung meletus, penambangan, peleburan bijih logam (emas, tembaga, timbal, dan seng), serta penggunaan pestisida maupun proses industri.
Arsenik yang dilepaskan ke lingkungan bisa mengalir ke perairan, terbang di udara, maupun mengendap di dalam tanah. Arsenik-arsenik ini kemudian bisa berikatan atau bergabung dengan zat organik dan anorganik lain di atmosfer. Hal ini menyebabkan terbentuknya senyawa arsenik organik dan senyawa arsenik anorganik, yang menentukan tingkat bahaya atau racun logam berat tersebut.
Arsenik organik adalah senyawa arsenik yang kurang beracun karena memiliki ikatan dengan karbon sehingga sifatnya lebih kompleks. Sementara itu, arsenik anorganik adalah senyawa yang lebih beracun karena tidak berikatan dengan karbon dan strukturnya lebih sederhana. Akibatnya, senyawa arsenik anorganik ini mudah berikatan dengan unsur lain di atmosfer, seperti oksigen, klorin, dan sulfur.
Arsenik yang berikatan dengan oksigen, misalnya, bisa menghasilkan senyawa arsenik trioksida. Ini adalah senyawa yang sangat beracun dan dikenal sebagai racun mematikan. Meski begitu, pada dasarnya, semua jenis arsenik, baik anorganik maupun organik, beracun bagi manusia. Hanya saja, itu bergantung pada tingkat paparannya.
Kandungan arsenik di setiap tempat juga berbeda-beda. Hal ini bergantung pada tingkat cemaran arsenik di lingkungan. Daerah yang berada dekat dengan pegunungan vulkanik, area pertanian yang mengandalkan penggunaan pestisida, area penambangan, atau berada di wilayah industrialisasi utama biasanya memiliki kandungan arsenik yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang tidak terdapat kegiatan-kegiatan tersebut.