Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Staphylococcus aureus, Bakteri Penyebab Keracunan Makanan

Mengenal Staphylococcus aureus, Bakteri Penyebab Keracunan Makanan
bakteri Staphylococcus aureus perbesaran 20.000 kali (commons.wikimedia.org/Matthew J. Arduino)
  • Staphylococcus aureus adalah bakteri yang umum hidup di kulit, hidung, dan tenggorokan, tetapi dapat memicu keracunan saat mencemari makanan berprotein tinggi seperti telur, daging, dan unggas.
  • Kontaminasi biasanya berasal dari penjamah makanan yang terinfeksi; bakteri menghasilkan enterotoksin tahan panas dan dingin, sehingga pemanasan ulang atau pendinginan tidak menghilangkan toksin.
  • Gejala muncul 2–8 jam setelah konsumsi, termasuk mual, muntah, diare, dan dehidrasi; pencegahan dilakukan melalui higiene, penyimpanan tepat, pemisahan bahan, serta melarang penjamah terinfeksi mengolah makanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Belakangan ini, berita soal kasus keracunan makanan massal mungkin cukup sering wara-wiri di linimasa kamu. Muncul pertanyaan, sebenarnya apa, sih, yang bikin makanan bisa jadi sumber penyakit seperti ini?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan keracunan makanan sebagai kondisi seseorang jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang sudah tercemar bakteri, virus, parasit, atau zat toksik lainnya. Dua "biang keladi" yang paling sering disebut dalam kasus-kasus semacam ini adalah bakteri Escherichia coli dan Salmonella.

Namun ternyata, bukan cuma dua bakteri itu yang patut diwaspadai. Ada satu lagi yang justru sudah ada di tubuh kita sehari-hari, yaitu Staphylococcus aureus. Bakteri ini lazim ditemukan di permukaan kulit manusia, tapi bisa menyebabkan keracunan jika berada di makanan. Lalu, seperti apa gejala keracunan akibat bakteri ini, dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak selengkapnya!

  1. 1. Mengenal karakteristik Staphylococcus aureus

    Staphylococcus aureus atau S. aureus adalah bakteri gram positif yang berbentuk bulat berkelompok menyerupai anggur. Bakteri ini sebenarnya berhabitat alami di hidung, tenggorokan, rambut, kulit dan membran mukosa dari orang-orang yang sehat.

    Hanya saja, pada orang yang sehat, jumlah bakteri ini masih berada dalam batas normal. S. aureus akan menimbulkan penyakit infeksi jika daya tahan tubuh seseorang melemah atau jumlahnya menjadi berlebihan. Selain itu, bakteri ini juga sering ditemukan pada makanan dengan kandungan protein tinggi. Contohnya telur, daging, atau unggas.

  2. 2. Cara Staphylococcus aureus mencemari makanan

    ilustrasi daging iris
    ilustrasi daging iris (unsplash.com/Harrison Chang)

    Kontaminasi S. aureus biasanya dibawa dari orang yang menyiapkan makanan tersebut. Bakteri ini dapat masuk ke makanan melalui kontak dari orang yang menangani makanan itu, terutama orang yang telah terinfeksi S. aureus.

    S. aureus yang telah mencemari makanan akan berkembang biak dan mengeluarkan enterotoksin yang membahayakan jika dikonsumsi. Makanan yang telah tercemar enterotoksin dari S. aureus inilah yang menjadi penyebab terjadinya kasus keracunan makanan.

    Toksin dari S. aureus ini bersifat tahan panas dan dapat bertahan di suhu dingin. Itu artinya, zat tersebut tidak akan hilang dengan memanaskan kembali makanan ataupun menyimpan makanan dalam suhu dingin.

  3. 3. Gejala keracunan makanan akibat Staphylococcus aureus

    S. aureus dapat menghasilkan enterotoksin apabila jumlahnya melebihi 10⁴ koloni per gram makanan. Menelan enterotoksin dalam jumlah 100 nanogram bersama dengan makanan sudah cukup untuk membuat orang yang mengonsumsinya mengalami gejala keracunan makanan.

    Gejala keracunan biasanya akan muncul 2 hingga 8 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi S. aureus. Efek yang dirasakan biasanya berupa mual, muntah, kram perut, diare, berkeringat, pusing, dan dehidrasi. Biasanya gejala ini akan berlangsung selama 2 hari.

  4. 4. Cara mencegah makanan tercemar Staphylococcus aureus

    Ilustrasi bakteri Staphylococcus aureus (pexels.com/Pixabay)
    Ilustrasi bakteri Staphylococcus aureus (pexels.com/Pixabay)

    Sekalipun enterotoksin S. aureus sangat sulit untuk dihilangkan karena sifatnya yang tahan suhu panas maupun dingin, tetapi ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan agar makanan tidak terkontaminasi. Berikut ini di antaranya:

    1. Menerapkan kebersihan diri yang baik setiap mengolah makanan.
    2. Selalu mencuci tangan sebelum mengolah makanan, setelah menggunakan kamar mandi, ataupun setelah kontak dengan bahan mentah.
    3. Mencuci peralatan dan permukaan dapur dengan bersih terutama setelah kontak dengan bahan mentah agar tidak terjadi kontaminasi silang.
    4. Menyimpan produk segar seperti daging sapi ataupun unggas di dalam lemari es di bawah suhu 5 derajat Celsius.
    5. Memisahkan penyimpanan untuk bahan segar dengan produk siap konsumsi agar tidak terjadi kontaminasi silang.
    6. Memasak makanan dengan benar yaitu di atas suhu 60 derajat Celsius, karena tidak seperti toksinnya, bakteri S. aureus tidak tahan terhadap suhu panas.
    7. Orang yang terinfeksi S. aureus sebaiknya tidak terlibat dalam memproses, memasak, hingga menyajikan makanan.

    Selain itu, pemerintah juga sudah ikut terlibat dalam pencegahan kasus keracunan makanan. Melalui regulasi BPOM hingga SNI, pemerintah telah memberikan aturan tertulis mengenai batas cemaran mikroba pada berbagai pangan olahan seperti susu, telur, daging, unggas dan lainnya.

    Kasus keracunan makanan dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Namun, kita juga dapat mencegahnya dengan menerapkan sanitasi dan praktik higiene yang baik dalam mengolah makanan. Dengan begitu kita juga telah melindungi bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang lain dari potensi terjadinya keracunan makanan. Gimana, kamu jadi semakin tahu tentang pentingnya menjaga kebersihan, bukan?

    Referensi

    Badan Litbangkes. “Bakteri Patogen Penyebab Foodborne Disease.” Prosiding Seminar Biologi (UIN Alauddin Makassar). Diakses September 2026.

    World Health Organization. “Foodborne Diseases.” Diakses September 2026.

    Gill, Alexander, Xianqin Yang, Helen N. Onyeaka, Ozioma F. Nwabor, dan lainnya. “Staphylococcus aureus.” ScienceDirect Topics. Diakses September 2026.

    Puspadewi, Ririn, Putranti Adirestuti, dan Rina Anugrah. “Kajian Kontaminasi Staphylococcus aureus pada Pangan.” Dipresentasikan pada Seminar Nasional Nutrisi, Keamanan Pangan, dan Produk Halal, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, April 2014. Diakses melalui ResearchGate, September 2026.

    Apriliansyah, Mutiara, Ade Zuhrotun, dan Dwie Astrini. “Bakteri Utama Penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan.” Jurnal Farmasi Klinik Indonesia 11, no. 3 (September 2022): 239–55. Diakses September 2026.

    Fakultas Kedokteran Hewan UGM. “Mari Mengenal Foodborne Illness karena Staphylococcus.” Produk Hewan Aman. 17 Mei 2018. Diakses September 2026.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 13 Tahun 2019 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan. Jakarta: BPOM RI, 2019. Diakses September 2026.

    Badan Standardisasi Nasional. SNI 01-6366-2000: Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan. Jakarta: BSN, 2000. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More