“Bacillus cereus food intoxication and toxicoinfection.” Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety. Diakses September 2026.
“The Food Poisoning Toxins of Bacillus cereus.” Toxins. Diakses September 2026.
“The Bacillus cereus Food Infection as Multifactorial Process.” Toxins. Diakses September 2026.
“Food–bacteria interplay: pathometabolism of emetic Bacillus cereus.” Frontiers in Microbiology. Diakses September 2026.
“The major toxins of Bacillus cereus – Current knowledge on distribution, regulation and mechanism of action.” EXCLI Journal. Diakses September 2026.
Bacillus cereus, Bakteri yang Bisa Sebabkan Keracunan Makanan

- Bacillus cereus dapat ditemukan pada nasi, pasta, sereal, tepung, dan makanan berpati; sporanya dari lingkungan mampu bertahan melewati proses memasak.
- Jika makanan matang dibiarkan lama pada suhu ruang, spora dapat berkembang menjadi bakteri penghasil toksin. Penyimpanan segera dalam wadah bersih penting diperhatikan.
- Keracunan Bacillus cereus dapat memicu mual-muntah atau kram perut dan diare. Tampilan serta aroma makanan yang normal tidak selalu menandakan makanan aman.
Pernah makan nasi, lauk, atau makanan bertepung yang sudah lama dibiarkan di suhu ruang? Meski tampilannya masih terlihat normal dan aromanya gak aneh, makanan seperti ini tetap bisa menjadi tempat tumbuhnya bakteri tertentu, salah satunya Bacillus cereus. Bakteri ini menarik perhatian karena dapat menghasilkan toksin yang memicu keracunan makanan, lho.
Bacillus cereus bisa ditemukan pada makanan seperti nasi, pasta, hingga berbagai olahan berbahan tepung, terutama kalau makanan tersebut ditangani atau disimpan dengan kurang tepat. Yang bikin perlu diperhatikan, bakteri ini dapat bertahan dalam bentuk spora sehingga gak cukup hanya mengandalkan tampilan atau aroma makanan untuk menilainya. Nah, bagaimana bakteri ini bisa masuk ke makanan dan apa saja yang perlu diwaspadai? Yuk, simak penjelasannya!
1. Bacillus cereus bisa ditemukan di berbagai makanan

ilustrasi mengukus nasi uduk dengan rice cooker (freepik.com/freepik) Ketika memikirkan tentang bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, nasi mungkin bukan makanan yang pertama kali muncul dalam pikiran. Namun, Bacillus cereus dapat ditemukan di nasi, pasta, sereal, tepung, dan berbagai makanan yang mengandung pati. Bakteri ini umumnya berasal dari lingkungan dan bisa ikut serta dalam bahan makanan, lho.
Yang membuatnya agak tricky, Bacillus cereus dapat membentuk spora yang tahan terhadap kondisi tertentu. Spora ini dapat bertahan selama proses memasak, lalu tumbuh ketika makanan disimpan dalam situasi yang ideal untuk pertumbuhannya. Karena itu, cara menyimpan makanan setelah dimasak juga gak kalah penting.
2. Spora Bacillus cereus bisa bertahan setelah makanan dimasak

ilustrasi memasak dengan api sedang cenderung kecil (freepik.com/freepik) Memasak makanan sampai matang memang penting untuk mengurangi mikroorganisme yang aktif, tetapi spora Bacillus cereus punya kemampuan bertahan terhadap panas. Jadi, makanan yang sudah matang bukan berarti otomatis bebas dari risiko bakteri ini. Apalagi kalau makanan tersebut kemudian dibiarkan begitu saja dalam kondisi yang mendukung spora untuk berkembang.
Di sinilah kebiasaan setelah memasak menjadi berpengaruh, seperti membiarkan nasi atau pasta terlalu lama pada suhu kamar. Apabila keadaan memungkinkan, spora tersebut bisa berkembang menjadi bakteri yang menghasilkan toksin tertentu. Jadi, bukan cuma proses memasaknya yang perlu diperhatikan, cara menyimpan makanan setelah matang juga penting.
3. Keracunan Bacillus cereus bisa menimbulkan dua pola gejala

ilustrasi mual berulang kali (freepik.com/jcomp) Keracunan yang disebabkan oleh Bacillus cereus umumnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu sindrom emetik dan diare. Sindrom emetik lebih sering dikaitkan dengan toksin yang terbentuk dalam makanan dan biasanya diwarnai oleh gejala mual serta muntah. Di sisi lain, diare terjadi ketika bakteri atau toksinnya berinteraksi di dalam saluran pencernaan dan dapat menyebabkan kram perut serta diare.
Perbedaan ini juga menyebabkan waktu kemunculan gejala bisa berbeda. Untuk tipe emetik, gejala biasanya muncul lebih cepat, sementara untuk tipe diare, gejala memerlukan waktu yang lebih lama setelah mengonsumsi makanan. Walaupun umumnya berlangsung dalam waktu singkat, gejala tersebut tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
4. Nasi yang dibiarkan terlalu lama bisa terkontaminasi Bacillus cereus

ilustrasi nasi putih (freepik.com/jcomp) Nasi yang sudah dimasak merupakan salah satu jenis makanan yang sering berisiko menyebabkan keracunan Bacillus cereus, terutama apabila penyimpanannya kurang tepat. Spora bakteri yang ada pada bahan mentah dapat bertahan selama proses memasak, lalu berkembang ketika nasi dibiarkan dalam kondisi yang menguntungkan. Itu sebabnya nasi yang dibiarkan berlama-lama pada suhu ruang sebaiknya gak dianggap sepele.
Hal yang sama juga berlaku untuk makanan berbahan pati lainnya, seperti pasta dan mi. Jadi, kalau masih ada sisa nasi atau makanan bertepung setelah makan, sebaiknya segera disimpan dengan cara yang benar daripada ditinggalkan di meja makan selama berjam-jam. Kebiasaan sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi peluang bakteri berkembang.
5. Tampilan dan aroma makanan gak selalu bisa jadi patokan

ilustrasi makanan di lunch box plastik (freepik.com/freepik) Salah satu hal yang bikin keracunan makanan sulit ditebak adalah makanan yang terkontaminasi belum tentu terlihat berbeda. Makanan bisa saja masih tampak normal, tetapi bakteri atau toksin tertentu sudah ada di dalamnya. Karena itu, mengandalkan bau atau tampilan saja gak cukup untuk memastikan makanan benar-benar aman.
Setelah makanan matang, cara menyimpan dan menanganinya juga gak boleh dilewatkan begitu saja. Sebaiknya jangan membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang dan pastikan wadah yang digunakan bersih sebelum makanan disimpan. Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan ini bisa membantu mengurangi risiko Bacillus cereus berkembang, lho.
Bacillus cereus memang bisa ditemukan pada berbagai makanan, terutama jika penanganan dan penyimpanannya kurang tepat. Menjaga makanan tetap bersih dan gak membiarkannya terlalu lama di suhu ruang jadi langkah sederhana yang penting dilakukan. Nah, mulai lebih perhatian pada cara menyimpan makanan supaya tetap aman disantap, ya!
Referensi


















