Comscore Tracker

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketuban

Untuk mengetahui kondisi kesehatan janin dalam kandungan

Selama proses kehamilan berlangsung, janin dilindungi oleh cairan amnion atau air ketuban yang mengandung hormon, enzim, protein, zat lain, hingga sel-sel tertentu. Menariknya, air ketuban bisa dijadikan media diagnosis untuk mengetahui kondisi perkembangan janin dalam rahim, yaitu lewat prosedur amniosentesis.

Amniosentesis adalah prosedur tes prenatal dengan pengambilan sampel air ketuban untuk memeriksa kondisi janin dalam kandungan. Amniosentesis memungkinkan dokter mengidentifikasi kondisi janin terkait dengan masalah genetik atau kecacatan lahir.

Ingin tahu lebih lanjut tentang salah satu tes prenatal ini? Yuk, baca sampai habis!

1. Bagaimana prosedur amniosentesis dilakukan?

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketubanpexels.com/Amina Filkins

Melansir Healthline, prosedur pelaksanaan amniosentesis biasanya menggunakan jarum tipis dan panjang untuk mengambil sedikit cairan ketuban dalam jumlah yang tidak lebih dari 1 ons. Amniosentesis sendiri umumnya dilakukan pada trimester kedua atau setelah minggu ke-15.

Setelah sampel air ketuban diambil, tahap selanjutnya adalah pengujian cairan untuk mengetahui indikasi kelainan genetik atau kondisi tertentu, seperti sindrom Down, sindrom Edward, sindrom Patau, spina bifida, atau fibrosis kistik.

Hasil tes amniosentesis dapat membantu dokter menentukan keputusan terbaik terkait tindak lanjut pada kehamilan seseorang.

2. Kehamilan dengan risiko cacat lahir biasanya dianjurkan menjalani amniosentesis

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketubanpexels.com/Monika Balciuniene

Melansir Mayo Clinic, amniosentesis dapat dilakukan karena berbagai alasan yang mendasarinya, seperti:

  • Pengujian genetik: amniosentesis genetik melibatkan pengambilan sampel air ketuban dan mengujinya dalam laboratorium untuk mengidentifikasi kondisi tertentu.
  • Pengujian paru-paru janin: pengambilan sampel air ketuban dan menguji kesiapan serta kesehatan paru-paru bayi yang akan dilahirkan.
  • Mengurangi polihidramnion: amniosentesis mungkin juga akan diberlakukan untuk mengeluarkan kelebihan air ketuban dari rahim.
  • Indikasi infeksi janin: terkadang amniosentesis juga digunakan untuk mengevaluasi kondisi janin dari infeksi atau penyakit lain.

Perlu diingat bahwa amniosentesis tidak berlaku pada semua ibu hamil. Dokter biasanya tidak merekomendasikan amniosentesis kepada ibu hamil yang mengalami kondisi tertentu, seperti hepatitis B, hepatitis C, atau HIV/AIDS.

Baca Juga: 5 Gangguan Plasenta yang Bahayakan Ibu dan Janin, Bumil Harus Tahu

3. Akurasi dan risiko amniosentesis

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketubanpexels.com/Andrew Wilus

Meskipun amniosentesis diperkirakan memiliki tingkat akurasi sebesar 99,4 persen, tetapi penting juga untuk mewaspadai akan risiko atau komplikasi potensial yang mungkin dapat terjadi.

Salah satu risikonya adalah keguguran dalam 23 minggu pertama. Risiko ini diperkirakan terjadi pada 1 dari setiap 100 ibu hamil. Sementara itu, infeksi, cedera, kram, dan kelahiran prematur dapat menjadi komplikasi potensial yang dapat terjadi meski sangat jarang terjadi.

4. Alternatif prosedur lain

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketubanpexels.com/Amina Filkins

Melansir National Health Service, terdapat alternatif lain untuk menggantikan amniosentesis, yaitu dengan tes chorionic villus sampling (CVS). 

Penerapan tes CVS melibatkan sampel kecil sel dari plasenta untuk pengujian. CVS biasanya dilakukan antara minggu ke 11 sampai 14 kehamilan. Namun, tetap ada risiko  keguguran yang cenderung sama dengan amniosentesis, yakni 1 dari setiap 100 ibu hamil. 

5. Hasil tes amniosentesis

Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketubanpexels.com/Jonathan Borba

Apabila hasil amniosentesis normal, kemungkinan besar janin dalam kandungan tidak memiliki kelainan genetik maupun kelainan kromosom.

Jika hasilnya tidak normal, ada kemungkinan masalah genetik atau kelainan kromosom. Hal tersebut tidak berarti mutlak, sehingga tes diagnostik tambahan mungkin akan direkomendasikan dokter untuk memastikannya.

Sebelum memutuskan menjalani amniosentesis, ada baiknya ibu hamil berdiskusi terlebih dahulu pada dokter untuk mempertimbangkan kemungkinan risiko dan komplikasi yang dapat terjadi.

Apabila mengalami demam, pendarahan, keputihan, atau sakit perut yang parah setelah melakukan amniosentesis, maka harus segera mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Baca Juga: Estrogen Lindungi Ibu Hamil dari COVID-19? Ini Kata Dokter Obgyn!

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya