Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Makanan Ultraproses Naikkan Risiko Serangan Jantung hingga 47 Persen

Makanan Ultraproses Naikkan Risiko Serangan Jantung hingga 47 Persen
ilustrasi makanan ultraproses (unsplash.com/Denny Müller)
Intinya Sih
  • Sebuah studi dalam The American Journal of Medicine menemukan konsumsi makanan ultraproses (UPF) tinggi meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke hingga 47 persen dibandingkan konsumsi terendah.

  • Para peneliti menegaskan temuan ini cukup signifikan untuk memengaruhi praktik klinis dan kebijakan kesehatan, karena UPF juga terkait obesitas, hipertensi, serta penanda inflamasi tinggi.

  • Para ahli menyerukan pengurangan konsumsi UPF melalui edukasi publik dan kebijakan yang memudahkan akses makanan bergizi agar masyarakat lebih mudah beralih ke pola makan sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Rak toko penuh dengan makanan yang tinggal buka dan santap. Minuman bersoda, camilan kemasan, sosis, nuget, hingga roti manis dengan masa simpan panjang. Semuanya praktis, terjangkau, dan terasa akrab di lidah. Namun, di balik kemudahan itu, ada pertanyaan besar tentang dampaknya bagi kesehatan jantung.

Makanan ultraproses (ultra-processed foods/UPF) adalah produk industri yang mengalami banyak tahapan pengolahan dan biasanya mengandung tambahan gula, garam, lemak, pati olahan, serta zat aditif seperti emulsifier dan perisa buatan. Dalam pola makan modern, UPF makin sering ditemui dalam pola makan sehari-hari. Sebagai contoh, di Amerika Serikat (AS), sekitar 60 persen asupan kalori orang dewasa dan 70 persen anak-anak berasal dari kelompok makanan ini.

Risiko serangan jantung dan stroke meningkat

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The American Journal of Medicine menganalisis data 4.787 orang dewasa dari survei nasional kesehatan dan gizi AS (NHANES) periode 2021–2023. Peserta melaporkan konsumsi makanan mereka selama dua hari, lalu peneliti menghitung proporsi kalori yang berasal dari UPF menggunakan sistem klasifikasi pangan yang tervalidasi.

Hasilnya konsisten dan mengkhawatirkan. Individu dalam kelompok dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki risiko penyakit kardiovaskular, yang didefinisikan sebagai riwayat serangan jantung atau stroke, 47 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah, setelah memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, ras/etnis, kebiasaan merokok, dan pendapatan.

Penulis senior studi tersebut, Charles H. Hennekens, menyebut peningkatan risiko tersebut bukan sekadar angka kecil tanpa implikasi nyata, tetapi cukup besar untuk memengaruhi praktik klinis dan kebijakan kesehatan masyarakat.

Temuan ini memperkuat bukti sebelumnya bahwa konsumsi UPF tinggi berkaitan dengan sindrom metabolik, obesitas, hipertensi, dislipidemia, resistansi insulin, serta peningkatan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP), yaitu penanda inflamasi yang diketahui memprediksi risiko penyakit kardiovaskular di masa depan.

Lebih dari sekadar pilihan individu

Ilustrasi makanan ultraproses.
ilustrasi makanan ultraproses (unsplash.com/Phil Aicken)

Para peneliti menyoroti bahwa perubahan kesadaran publik terhadap UPF mungkin menyerupai perjalanan panjang edukasi bahaya rokok pada abad lalu. Dibutuhkan waktu, bukti ilmiah yang konsisten, serta kebijakan yang kuat untuk mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama ketika industri pangan ultraproses didominasi perusahaan besar dengan distribusi luas.

Dampaknya juga tak berhenti pada jantung dan stroke. Faktor risiko yang serupa—pola makan tinggi UPF, gaya hidup sedenter, dan obesitas—juga beririsan dengan peningkatan kanker kolorektal, termasuk pada usia lebih muda.

Meski uji klinis acak berskala besar masih diperlukan untuk memastikan hubungan kausal, tetapi para peneliti menekankan bahwa tenaga kesehatan sudah sepatutnya menyarankan pengurangan konsumsi UPF sebagai bagian dari perubahan gaya hidup terapeutik. Upaya ini perlu dibarengi pendekatan kesehatan masyarakat yang membuat pilihan makanan bergizi lebih mudah diakses dan terjangkau.

Ini bukan cuma menahan diri dari makanan olahan atau camilan kemasan, tetapi demi menciptakan lingkungan yang memudahkan orang memilih makanan utuh dan bergizi. Kesadaran adalah langkah pertama, tetapi dukungan sistem yang kuat akan menentukan langkah berikutnya.

Referensi

Yanna Willett et al., “Consumption of Ultra-processed Foods and Increased Risks of Cardiovascular Disease in US Adults,” The American Journal of Medicine, January 1, 2026, https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2026.01.012.

"Ultra-processed Foods Linked to Greater Heart Attack, Stroke Risk." Florida Atlantic University. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More