- Kapsaisin mengiritasi saraf pencernaan (TRPV1)
Kenapa Makan Pedas Menyebabkan Cegukan? Ini Penjelasannya

Cegukan adalah kontraksi refleks diafragma yang diikuti oleh penutupan glotis, memunculkan suara “hic”.
Kapsaisin dalam makanan pedas dapat mengiritasi saraf di saluran cerna, terutama frenik dan vagus, sehingga memicu spasme diafragma.
Faktor lain seperti refluks asam, menelan udara dengan cepat, atau sensitivitas saraf individu dapat memperbesar kemungkinan cegukan setelah makan makanan pedas.
Saat makan makanan pedas, sensasi panas yang muncul itu lebih dari rasa, itu adalah reaksi saraf. Kapsaisin, yaitu senyawa aktif yang memberi sensasi pedas pada cabai dan cabai rawit, berinteraksi dengan reseptor rasa sakit dan panas yang disebut TRPV1 di mulut dan sepanjang saluran pencernaan. Saat kapsaisin mengikat reseptor ini, tubuh mengirimkan sinyal ke otak yang ditafsirkan sebagai rasa panas meskipun suhu sebenarnya tidak berubah.
Namun, jalan sinyal ini juga bisa memengaruhi saraf yang mengontrol diafragma, otot utama yang membantu bernapas. Ketika sistem ini terstimulasi atau terganggu, timbul respons refleks yang tiba-tiba, yaitu cegukan.
Table of Content
1. Secara fisiologis, apa itu cegukan?
Cegukan (hiccup) adalah kontraksi otomatis dan berulang dari diafragma dan otot-otot pernapasan lainnya yang diikuti dengan penutupan cepat glotis (bukaan antara pita suara), yang menghasilkan suara “hic”. Reaksi ini dikendalikan oleh refleks saraf yang kompleks dengan bagian pengirim (aferen), pusat pemrosesan di batang otak, dan bagian pengeluaran (eferen) melalui saraf seperti frenik dan vagus.
Refleks ini, walau tidak sepenuhnya dipahami secara rinci, dapat dipicu oleh berbagai rangsangan yang mengiritasi jalur saraf tersebut, termasuk perubahan tekanan di perut, distensi lambung (peregangan atau pembesaran lambung), atau iritasi pada saluran cerna.
2. Mengapa makanan pedas bisa memicu cegukan?

Ada beberapa penjelasan mengapa makanan pedas bisa memicu cegukan:
Kapsaisin mengikat reseptor TRPV1 yang mendeteksi sensasi panas dan nyeri di mulut, esofagus, dan lambung. Paparan kapsaisin ini tidak hanya menimbulkan sensasi panas, tetapi dapat memicu respons saraf yang ikut terhubung dengan jalur refleks cegukan. Ketika reseptor ini aktif, sinyal yang dilepaskan dapat membingungkan saraf seperti frenik dan vagus yang berhubungan dengan diafragma, memicu kontraksi tak terkendali.
- Iritasi esofagus dan stimulus saraf vagus
Selain itu, kapsaisin dapat mengiritasi esofagus saat makanan pedas lewat. Iritasi ini bisa merangsang saraf vagus, yang menyediakan input sensorik hingga batang otak dan memainkan peran dalam refleks cegukan. Ketika saraf vagus terganggu oleh iritasi kimia (seperti kapsaisin) atau mekanik (seperti refluks asam), diafragma dapat mengalami kontraksi refleks.
- Gas dan udara yang tertelan saat makan
Saat kamu menikmati makanan pedas, kamu sering kali cenderung makan dengan cepat dan menelan lebih banyak air liur karena sensasi panas. Kebiasaan ini bisa menyebabkan kamu menelan udara (aerofagia), yang menambah distensi lambung. Distensi perut bisa menekan diafragma dan memicu refleks cegukan melalui jalur saraf yang sama.
- Refluks asam dapat memperburuk respons saraf
Makanan pedas juga dikenal dapat memperburuk refluks asam (GERD) pada sebagian orang dengan saluran pencernaan yang sensitif. Asam lambung yang naik ke esofagus merangsang saraf vagus dan dapat memicu cegukan sebagai respons refleks. Meski mekanisme pasti masih dipelajari, tetapi hubungan antara refluks dan hiperaktivasi saraf refleks sudah dicatat dalam literatur medis tentang cegukan.
3. Siapa yang lebih rentan?
Respons terhadap makanan pedas sangat bervariasi. Beberapa orang hampir tidak pernah mengalami cegukan setelah makanan pedas, sementara yang lain bisa langsung cenderung cepat cegukan. Ini berkaitan dengan sensitivitas individu terhadap kapsaisin dan iritasi saraf, serta faktor lain seperti makan cepat atau kecenderungan refluks.
Banyak ahli juga mencatat bahwa tidak semua orang mengalami mekanisme yang sama, karena variasi anatomi dan fisiologi saraf dapat memengaruhi respons refleks ini secara berbeda.
4. Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?

Sebagian besar cegukan akibat makanan pedas bersifat sementara dan tidak berbahaya, mereda dalam beberapa menit. Namun, jika cegukan terjadi terus-menerus (lebih dari 48 jam) atau berulang sangat sering tanpa sebab jelas, ini bisa menunjukkan gangguan yang lebih serius termasuk gangguan saraf, refluks kronis, atau kondisi lain yang memengaruhi refleks diafragma. Dalam kasus seperti itu, evaluasi medis oleh dokter dianjurkan.
Cegukan yang dipicu makan pedas bukan cuma kebetulan. Interaksi antara kapsaisin dan sistem saraf pencernaan, terutama di sepanjang jalur saraf frenik dan vagus yang terlibat dalam refleks diafragma, memainkan peran penting.
Ketika kapsaisin merangsang atau mengiritasi saraf-saraf ini, impuls dapat memicu kontraksi diafragma yang tiba-tiba (cegukan). Umumnya tidak serius, cegukan ini adalah contoh bagaimana sensasi makan dapat memicu refleks saraf yang kompleks dalam tubuh.
Referensi
Juan Brañuelas Quiroga, José Urbano García, and Julio Bolaños Guedes, “Hiccups: A Common Problem With Some Unusual Causes and Cures,” British Journal of General Practice 66, no. 652 (October 27, 2016): 584–86, https://doi.org/10.3399/bjgp16x687913.
Full-Young Chang and Ching-Liang Lu, “Hiccup: Mystery, Nature and Treatment,” Journal of Neurogastroenterology and Motility 18, no. 2 (April 10, 2012): 123–30, https://doi.org/10.5056/jnm.2012.18.2.123.
“Why Do Spicy Foods Cause Hiccups?” Medical News Today. Diakses Februari 2026.








![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Karakter One Piece](https://image.idntimes.com/post/20240928/snapinstaapp-452636034-827692952790694-3801622178133972082-n-1080-f33a875018adce7eefd5054721cbef1e-ed62346690aea3bb6677ab87f39e4157.jpg)









