Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: Jalan Lebih Banyak atau Lebih Cepat Terkait Umur Panjang
ilustrasi jalan kaki (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Studi pada lebih dari 64 ribu orang dewasa menemukan bahwa jumlah langkah dan tempo berjalan sama-sama berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah.

  • Kelompok yang berjalan 7.500–10.000 langkah per hari memiliki angka kematian terendah dalam penelitian tersebut. Namun, temuan ini tidak menetapkan 10.000 langkah sebagai batas minimum.

  • Karena penelitian ini bersifat observasional, hasilnya menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa berjalan lebih cepat atau lebih jauh pasti membuat seseorang hidup lebih lama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam keseharian, langkah terakumulasi saat kamu berjalan kaki ke halte atau stasiun, menaiki tangga, atau berkeliling sebentar setelah makan.

Banyak orang berpatokan pada 10.000 langkah untuk target aktivitas fisik. Akan tetapi, tidak semua orang punya waktu atau kondisi tubuh untuk mengejar angka 10.000 langkah setiap hari. Sebuah penelitian terbaru memberi petunjuk bahwa selain jumlah langkah, tempo berjalan juga berkaitan dengan risiko kematian.

Penelitian yang terbit dalam British Journal of Sports Medicine itu menganalisis data 64.743 orang dewasa di Inggris. Usia rata-rata peserta sekitar 61 tahun. Mereka memakai alat pemantau aktivitas di pergelangan tangan selama satu minggu, lalu kondisi kesehatannya diikuti sekitar delapan tahun. Dalam masa pengamatan itu, tercatat 1.697 kematian, termasuk 502 akibat penyakit kardiovaskular.

Jumlah langkah dan tempo berjalan sama-sama diperhitungkan

Para peneliti membagi peserta berdasarkan jumlah langkah harian, yaitu:

  • Kurang dari 5.000

  • 5.000–7.500

  • 7.500–10.000

  • Lebih dari 10.000 langkah

Mereka juga melihat kecepatan berjalan, yang dihitung dari rata-rata langkah per menit selama 30 menit paling aktif dalam sehari.

Hasilnya, peserta yang berjalan 7.500-10.000 langkah per hari memiliki risiko kematian paling rendah. Namun, manfaat tidak hanya terlihat pada jumlah langkah. Pada orang yang berjalan kurang dari 5.000 langkah per hari, mereka yang berjalan lebih cepat juga cenderung memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan mereka yang berjalan lebih lambat. Pola yang sama juga terlihat untuk kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat berjalan tidak hanya bergantung pada jumlah langkah. Berjalan lebih banyak dan berjalan lebih cepat sama-sama berkaitan dengan hasil kesehatan yang lebih baik. Namun, angka seperti 90 atau 100 langkah per menit dalam penelitian ini bukan target yang harus dicapai semua orang. Angka tersebut hanya digunakan untuk menggambarkan seberapa cepat peserta berjalan pada periode paling aktif dalam hari mereka.

Hubungan yang ditemukan belum membuktikan sebab-akibat

ilustrasi olahraga jalan kaki (pexels.com/Cara Denison)

Penelitian ini hanya mengamati kebiasaan berjalan dan kondisi kesehatan peserta, sehingga tidak membuktikan bahwa berjalan lebih banyak atau lebih cepat secara langsung membuat seseorang hidup lebih lama. Bisa saja ada faktor lain yang turut berperan. Misalnya, orang yang sudah memiliki masalah kesehatan mungkin lebih sulit berjalan cepat atau mencapai banyak langkah setiap hari.

Selain itu, peserta penelitian berasal dari UK Biobank dengan usia rata-rata sekitar 61 tahun. Karena itu, hasilnya belum tentu sama pada semua kelompok usia atau populasi.

Yang terpenting, temuan ini tidak berarti semua orang harus mengejar 10.000 langkah per hari atau memaksa diri berjalan cepat. Pedoman WHO menyarankan orang dewasa untuk rutin melakukan aktivitas fisik setiap minggu, dan menegaskan bahwa sedikit aktivitas tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Bagi orang yang belum aktif, langkah terbaik adalah mulai dari yang mampu dilakukan lalu meningkatkannya secara bertahap.

Jadi, daripada fokus pada target angka tertentu, berjalan lebih sering dan bergerak lebih banyak dalam aktivitas sehari-hari mungkin menjadi pesan dari penelitian ini.

Referensi

Le Wei, Matthew N. Ahmadi, Nicholas A. Koemel, Raaj Kishore Biswas, Borja del Pozo Cruz, dan Emmanuel Stamatakis, “Combinations of Stepping Intensity and Daily Step Counts against All-Cause and Cardiovascular Disease Mortality: Insights from a Device-Based Prospective Study,” British Journal of Sports Medicine 60, no. 18 (2026): 1401–1408, https://doi.org/10.1136/bjsports-2025-111173.

World Health Organization, WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour (Geneva: World Health Organization, 2020), https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128.

Curated For You

Editorial Team

Related Article