Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jalan Kaki Saja Cukup untuk Menurunkan Kolesterol?

Jalan Kaki Saja Cukup untuk Menurunkan Kolesterol?
ilustrasi berjalan kaki (pexels.com/Daniel Reche)
Intinya Sih
  • Jalan kaki intensitas sedang seperti jalan cepat terbukti membantu menurunkan LDL dan meningkatkan HDL, terutama jika dilakukan rutin minimal 150 menit per minggu.

  • Untuk kadar kolesterol sangat tinggi atau ada risiko penyakit jantung, jalan kaki saja tidak cukup. Panduan medis menyarankan kombinasi gaya hidup sehat dan terapi obat sesuai kebutuhan.

  • Agar efektif, jalan kaki perlu dilakukan dengan durasi dan intensitas cukup serta dikombinasikan dengan pola makan sehat, berat badan ideal, tidur cukup, dan berhenti merokok.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jalan kaki adalah aktivitas fisik yang sederhana. Tidak perlu kelas khusus, tidak perlu sepatu super mahal. Cukup keluar rumah, bergerak, dan dilakukan berulang. Karena kesederhanaannya ini, banyak orang bertanya-tanya apakah jalan kaki saja cukup untuk menurunkan kadar kolesterol tubuh?

Jalan kaki adalah salah satu bentuk aktivitas aerobik yang baik untuk kesehatan jantung. Aktivitas fisik dapat membantu menurunkan low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan menaikkan high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik. Namun, dampaknya bergantung pada intensitas, durasi, konsistensi, pola makan, berat badan, faktor genetik, dan seberapa tinggi risiko penyakit jantung seseorang.

Table of Content

1. Jalan kaki bisa membantu, asal bukan jalan santai sebentar

1. Jalan kaki bisa membantu, asal bukan jalan santai sebentar

Yang paling sering direkomendasikan adalah brisk walking atau jalan cepat. Patokannya sederhana: napas terasa lebih cepat, tubuh mulai hangat, tetapi kamu masih bisa berbicara. Ini termasuk aktivitas intensitas sedang.

Orang dewasa direkomendasikan setidaknya melakukan 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, misalnya jalan cepat 30 menit, 5 hari dalam seminggu, ditambah latihan penguatan otot 2 hari per minggu.

Jalan kaki bisa menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mulai aktif.

Sebuah metaanalisis tentang jalan kaki dan profil lipid menyimpulkan bahwa jalan kaki dapat menurunkan LDL dan rasio kolesterol total terhadap HDL pada orang dewasa, bahkan tanpa perubahan besar pada komposisi tubuh.

Studi acak pada 67 pria dengan hiperkolesterolemia juga menemukan bahwa 12 minggu jalan kaki intensitas sedang memperbaiki rasio kolesterol total/HDL, terutama lewat peningkatan HDL.

Namun, efeknya biasanya bertahap, tidak dramatis dan tidak instan. Latihan fisik memang memperbaiki kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, dan very low-density lipoprotein (VLDL), tetapi efeknya tergolong moderat jika dibandingkan dengan obat penurun lipid. Kombinasi latihan aerobik dan latihan kekuatan dinilai paling optimal untuk memperbaiki profil lipid.

2. Kapan jalan kaki saja mungkin belum cukup?

Bagi orang yang sebelumnya jarak bergerak, kadar kolesterolnya sedikit meningkat, atau ingin memperbaiki gaya hidup secara bertahap, jalan kaki bisa menjadi awal yang baik.

Namun, jika LDL sangat tinggi, ada riwayat penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal kronis, riwayat keluarga serangan jantung usia muda, atau faktor risiko lain, jalan kaki saja seringnya tidak cukup.

Panduan American College of Cardiology dan American Heart Association (ACC/AHA) 2026 tentang dislipidemia (kondisi ketika kadar kolesterol, LDL, HDL, atau trigliserida dalam darah di luar batas normal) menekankan bahwa gaya hidup sehat tetap menjadi langkah pertama, tetapi terapi penurun lipid perlu dipertimbangkan lebih awal jika angka lipid belum berada dalam rentang yang ditargetkan setelah optimasi gaya hidup.

Panduan ini juga menegaskan bahwa target LDL bergantung pada tingkat risiko. Makin tinggi risiko seseorang, makin rendah target LDL yang biasanya dibutuhkan.

Juga, perlu diketahui bahwa kolesterol tinggi bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti pola makan tinggi lemak jenuh, berat badan berlebih, kurang gerak, merokok, kurang tidur, diabetes, hipotiroid, penyakit ginjal, hingga faktor genetik seperti hiperkolesterolemia familial. Pada kondisi seperti ini, olahraga perlu menjadi bagian dari rencana yang lebih menyeluruh.

Jika kadar kolesterol tetap tinggi setelah beberapa bulan perubahan gaya hidup, LDL sangat tinggi sejak awal, trigliserida sangat tinggi, atau kamu punya faktor risiko kardiovaskular lain, sebaiknya jangan cuma mengandalkan jalan kaki. Pemeriksaan dokter penting untuk menilai apakah perlu obat, pemeriksaan tambahan seperti apoB atau Lp(a), atau evaluasi penyebab lain.

3. Cara membuat jalan kaki lebih efektif untuk kolesterol

Seseorang berjalan cepat di jalan pedesaan saat matahari terbit, mengenakan jaket merah dan celana hitam di antara pepohonan hijau.
ilustrasi jalan cepat atau brisk walking (unsplash.com/Emma Simpson)

Kalau mau menjadikan jalan kaki sebagai strategi menurunkan kolesterol, sebaiknya jangan menjadikan jumlah langkah sebagai target, tetapi lakukan cukup intens, cukup sering, dan cukup lama.

Mulailah dari target realistis, seperti jalan cepat 20–30 menit, 5 hari seminggu.

Kalau belum kuat, bagi menjadi 10 menit pagi, 10 menit siang, dan 10 menit sore. Setelah tubuh terbiasa, tambah durasi dulu, baru naikkan intensitas. Misalnya, selingi jalan cepat 1–2 menit di antara jalan santai, pilih rute sedikit menanjak, atau percepat langkah namun jangan sampai tersengal berlebihan.

Agar efeknya lebih terasa, kombinasikan dengan perubahan makan. Kurangi lemak jenuh dari gorengan, daging berlemak, mentega, santan, dan makanan ultraproses. Perbanyak serat larut dari oat, kacang-kacangan, buah, sayur, serta pilih sumber lemak yang lebih sehat seperti ikan, kacang, alpukat, dan minyak nabati secukupnya.

Pola makan, aktivitas fisik, berhenti merokok, berat badan sehat, dan tidur cukup sama-sama berperan dalam pengelolaan kolesterol.

Jalan kaki memang menyehatkan, tetapi untuk menurunkan kolesterol secara bermakna, jalan kaki perlu dilakukan seperti kebiasaan serius, bukan aktivitas sesekali. Jika angka kolesterol atau risiko jantung sudah tinggi, jalan kaki tetap penting, tetapi mungkin perlu pengobatan dari dokter.

Referensi

American Heart Association. “Prevention and Treatment of High Cholesterol (Hyperlipidemia).” Diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Adult Activity: An Overview.” Diakses Juli 2026.

American Heart Association. “American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids.” Diakses Juli 2026.

Kelley, George A., Kristi S. Kelley, and Zung V. Tran. “Walking, Lipids, and Lipoproteins: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials.” Preventive Medicine 38, no. 5 (2004): 651–661. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2003.12.012.

Coghill, Nikki, and Ashley R. Cooper. “The Effect of a Home-Based Walking Program on Risk Factors for Coronary Heart Disease in Hypercholesterolaemic Men: A Randomized Controlled Trial.” Preventive Medicine 46, no. 6 (2008): 545–551. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2008.01.002.

Smart, Neil A., Gina N. Wood, Melissa J. Pearson, Gudrun Dieberg, Tom van der Touw, and Karam Kostner. “Exercise Training for the Management of Dyslipidaemia: A Position Statement from Exercise and Sports Science Australia (ESSA).” Journal of Science and Medicine in Sport (2025). https://doi.org/10.1016/j.jsams.2025.11.004.

Blumenthal, Roger S., Peter B. Morris, Mario Gaudino, et al. “2026 ACC/AHA/AACVPR/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ASPC/NLA/PCNA Guideline on the Management of Dyslipidemia.” Journal of the American College of Cardiology, published online March 13, 2026. https://doi.org/10.1016/j.jacc.2025.11.016.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More