Referensi
World Health Organization, “Access to Cataract Surgery,” diakses 9 Oktober 2026.
World Health Organization, “Blindness and Vision Impairment,” diakses 9 Oktober 2026.
National Eye Institute, “Cataracts,” diakses 9 Oktober 2026.
World Health Organization, "Summary of Recommendations for Quality of Care in Cataract Surgery Management (Geneva: World Health Organization, 2026)", diakses 9 Oktober 2026.
JEC Gelar Operasi Katarak Gratis bagi 101 Pasien hingga Desember

Gerakan Matahati, JEC, Lions Eye Bank Jakarta, dan Lions Club Indonesia menyiapkan operasi katarak bagi 101 pasien pada periode Oktober–Desember 2026.
Kuota tersebar di 16 unit JEC di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.
Calon pasien menjalani skrining dan pemeriksaan; operasi dilakukan sesuai indikasi medis dan disertai pemantauan pascaoperasi.
Pandangan berkabut, warna yang tampak memudar, atau silau saat melihat lampu kerap dianggap sebagai bagian biasa dari pertambahan usia. Namun, perubahan penglihatan seperti ini juga dapat menjadi gejala katarak, yaitu kekeruhan pada lensa mata yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di Jakarta, Kamis (8/10/2026), Gerakan Matahati bersama JEC Eye Hospitals and Clinics, Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), dan Lions Club Indonesia memulai program operasi katarak bagi 101 pasien. Program bertajuk “Tribute 101 Tahun Pandji Wisaksana” ini diluncurkan bertepatan dengan World Sight Day 2026. Operasi dijadwalkan berlangsung di jaringan JEC pada Oktober hingga Desember 2026.
Table of Content
1. Program ini menargetkan 101 pasien hingga Desember
Sebanyak 101 pasien akan menjalani operasi katarak sebagai penghormatan atas 101 tahun Pandji Wisaksana, pendiri Gerakan Matahati. Program ini juga menjadi bagian dari target Matahati untuk memfasilitasi 1.010 operasi katarak tanpa biaya alias gratis bagi masyarakat hingga akhir 2026.
Gerakan Matahati, yang diresmikan pada 2008, menggerakkan dukungan sosial dan mitra. JEC menyediakan dokter spesialis mata, tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan, serta ruang operasi. LEBJ dan Lions Club Indonesia turut menjadi mitra dalam program tersebut.
2. Kuota dibagi ke 16 unit JEC
Sebanyak 101 pasien dialokasikan ke 16 unit JEC di lima wilayah. Rinciannya:
Wilayah
Kuota
Unit JEC
Jabodetabek
51 pasien
JEC @ Menteng (8), JEC @ Kedoya (8), JEC Primasana @ Tanjung Priok (5), JEC @ Cibubur (5), JEC @ Tambora (5), JEC @ Cinere (5), JEC @ Bekasi (5), JEC @ Tangerang (10)
Jawa Tengah
13 pasien
JEC CANDI @ Semarang (8), JEC ANWARI @ Purwokerto (5)
Jawa Timur
19 pasien
JEC JAVA @ Kediri (9), JEC JAVA @ Surabaya (5), JEC JAVA @ Pasuruan (5)
Bali
5 pasien
JEC BALI @ Denpasar (5)
Sulawesi
13 pasien
JEC ORBITA @ Makassar (8), JEC ORBITA @ Kendari (5)
3. Perubahan penglihatan sebaiknya diperiksa

ilustrasi katarak (commons.wikimedia.org/Rakesh Ahuja, MD) Katarak terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh. Gejalanya dapat berupa pandangan buram atau berkabut, warna tampak pudar, sulit melihat pada malam hari, dan silau terhadap cahaya. Pada tahap awal, katarak bisa belum menimbulkan keluhan yang terasa.
Kepala LEBJ sekaligus dokter spesialis mata JEC, dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), mengingatkan bahwa perubahan penglihatan jangan langsung dianggap sebagai dampak biasa dari usia. Pemeriksaan mata membantu dokter mencari penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan katarak memengaruhi lebih dari 94 juta orang. WHO juga menyebut sekitar satu dari dua orang yang membutuhkan operasi katarak belum mendapat akses terhadap tindakan tersebut.
4. Operasi diputuskan berdasarkan kondisi pasien
Diagnosis katarak tidak otomatis berarti seseorang harus segera dioperasi. Dokter mata akan menilai kondisi lensa, penglihatan, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
Operasi umumnya dipertimbangkan ketika katarak mulai mengganggu kegiatan seperti membaca atau menonton.
Dalam operasi katarak, lensa yang keruh diangkat dan diganti dengan lensa buatan yang disebut lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Jenis lensa dan tindakan ditentukan berdasarkan kebutuhan serta pemeriksaan pasien.
5. Pasien tetap mendapat pemeriksaan dan pemantauan

Dr. dr. Setiyo Budi Riyanto, Sp.M(K), Direktur RS Mata JEC @ Kedoya sekaligus Kepala Layanan Bedah Katarak dan Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics. (Dok. JEC) Direktur RS Mata JEC @ Kedoya sekaligus Ketua Katarak dan Bedah Refraktif JEC Group, Dr. dr. Setiyo Budi Riyanto, Sp.M(K), menegaskan, “standar klinis tidak dibedakan antara pasien reguler dan pasien yang mengikuti program bakti sosial.”
Menurutnya, setiap pasien menjalani pemeriksaan komprehensif, tindakan berdasarkan indikasi medis, operasi oleh dokter spesialis mata, pemilihan IOL sesuai kebutuhan, dan pemantauan setelah operasi. Alur yang mencakup tahap sebelum, saat, dan setelah tindakan juga menjadi bagian dari rekomendasi WHO untuk menjaga mutu layanan operasi katarak.
Pemantauan setelah operasi penting agar tim medis dapat menilai proses pemulihan dan memberi tindak lanjut yang diperlukan. Dalam program ini, seluruh rangkaian pelayanan ditargetkan selesai pada Desember 2026.






![[QUIZ] Dari Posisi Duduk Saat Kerja, Kami Tebak Risiko Kesehatan Kmu](https://image.idntimes.com/post/20221024/pexels-thirdman-7181187-7dc273c135a9419c4df8c9f0f777a2c3-e5503d0b87e14b9fdd9a21a54fd5462b.jpg)
















