Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Katarak Tak Hanya Menyerang Lansia, Kata Dokter Ini Faktor Risikonya

4 min read
Katarak Tak Hanya Menyerang Lansia, Kata Dokter Ini Faktor Risikonya
Dokter Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics. (Dok. JEC Eye Hospitals and Clinics)
  • Katarak dapat membuat pandangan berkabut, warna tampak pudar, silau, atau resep kacamata sering berubah. Namun, gejala serupa juga bisa disebabkan oleh masalah mata lain.

  • Usia adalah faktor risiko utama, tetapi diabetes, penggunaan steroid jangka panjang, rabun jauh tinggi, paparan sinar UV, dan merokok juga berkaitan dengan katarak.

  • Pemeriksaan dokter mata diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan penglihatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tulisan atau wajah di kejauhan mulai terlihat seperti tertutup kabut. Kamu sudah ganti kacamata, tetapi tetap saja penglihatan kurang jelas. Keluhan seperti ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga jangan diabaikan, karena salah satu kemungkinan penyebabnya adalah katarak.

Katarak terjadi ketika lensa alami mata menjadi keruh. Kondisi ini memang lebih sering berkaitan dengan pertambahan usia, tetapi bukan cuma lansia yang bisa mengalaminya. Diabetes, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, hingga kebiasaan merokok juga dapat berperan.

  1. 1. Pandangan berkabut dan kacamata sering berganti

    Menurut dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals & Clinics, dr. Milzan Murtadha, Sp.M, katarak merupakan kekeruhan pada lensa. Keluhan yang sering dirasakan pasien adalah pandangan “berkabut, ada seperti awan begitu”. Hal ini ia katakan dalam sesi bersama media di Jakarta Pusat, pada Rabu (30/9).

    "Ada pula yang sudah ganti-ganti kacamata, ke optik beberapa kali kok nggak ada yang pas,” ia menambahkan.

    Gejala katarak dapat berkembang perlahan. Selain pandangan kabur atau berkabut, warna bisa terlihat lebih pudar, mata lebih silau, muncul lingkaran cahaya di sekitar lampu, atau penglihatan malam terasa memburuk. Namun, gangguan penglihatan seperti ini tidak otomatis berarti katarak. Gejala serupa dapat menandakan masalah mata lain, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

  2. 2. Usia tetap faktor utama, tetapi bukan satu-satunya

    Seiring bertambahnya usia, protein pada lensa mata dapat berubah dan menggumpal sehingga lensa menjadi keruh. Karena proses ini berlangsung bertahap, sebagian orang baru menyadari perubahan penglihatan ketika mulai mengganggu kegiatan seperti membaca, menyetir, atau mengenali wajah.

    Katarak juga bisa terjadi sejak lahir atau muncul setelah cedera dan operasi mata. Riwayat keluarga pun dapat berperan. Jadi, meskipun usia merupakan faktor yang paling umum, katarak tidak hanya terjadi pada lansia. Sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko atau mempercepat terjadinya katarak.

  3. 3. Diabetes dapat berkaitan dengan katarak yang muncul lebih awal

    Seorang perempuan mengenakan atasan putih mengucek mata dengan tangan, menggambarkan rasa lelah atau iritasi pada mata.
    ilustrasi mengucek mata (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Diabetes termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan. Orang dengan diabetes dapat memiliki kemungkinan terkena katarak dua hingga lima kali lebih besar, dan katarak dapat muncul pada usia yang lebih muda.

    Orang dengan diabetes sebaiknya mengikuti anjuran pemeriksaan mata dari dokter, terutama jika penglihatan mulai berubah.

  4. 4. Penggunaan steroid jangka panjang perlu diawasi

    Obat golongan kortikosteroid dapat digunakan untuk berbagai kondisi medis. Namun, penggunaan dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko katarak. Risiko ini menjadi alasan untuk menggunakan steroid sesuai petunjuk dokter, termasuk obat tetes mata.

    “Jangan suka pakai steroid sendiri, itu bisa memperbesar risiko katarak,” dr. Milzan mengingatkan.

    Hindari memakai obat tetes steroid tanpa pemeriksaan atau menghentikan obat yang diresepkan secara tiba-tiba. Apabila khawatir dengan efek samping atau lama pemakaian, konsultasikan dengan dokter yang meresepkannya.

  5. 5. Mata minus tinggi juga berhubungan dengan beberapa jenis katarak

    Rabun jauh dengan ukuran minus tinggi—sekitar minus 6 dioptri atau lebih—dapat berkaitan dengan risiko masalah mata tertentu, termasuk beberapa jenis katarak.

    Menurut tinjauan sistematis dan metaanalisis dalam jurnal Investigative Ophthalmology & Visual Science, rabun jauh tinggi berhubungan dengan kemungkinan lebih besar mengalami katarak subkapsular posterior dan katarak nuklear.

    Orang dengan mata minus tinggi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mata sesuai kebutuhan, khususnya jika mengalami perubahan penglihatan.

  6. 6. Paparan UV dan kebiasaan merokok dapat menambah risiko

    Sinar matahari bersinar terang di antara dedaunan hijau, menciptakan suasana hangat pada siang hari.
    ilustrasi paparan sinar matahari (unsplash.com/Nadeem Choudhary)

    Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari dalam jangka panjang berkaitan dengan katarak. Tinjauan sistematis dan metaanalisis pada 2026 menemukan hubungan antara paparan matahari saat bekerja di luar ruangan dan katarak.

    Untuk mengurangi paparan pada mata, kamu disarankan menggunakan kacamata hitam yang melindungi dari sinar UV dan topi bertepi lebar saat berada di luar ruangan.

    Merokok juga tercatat sebagai faktor risiko katarak.

    Sebaiknya jangan menunggu perubahan penglihatan memburuk. Jika pandangan terus berkabut, penggunaan kacamata berulang kali tidak terasa membantu, atau muncul silau dan kesulitan melihat pada malam hari, sebaiknya buat janji temu dengan dokter mata. Pemeriksaan dapat membantu memastikan apakah penyebabnya katarak atau kondisi lainnya.

    Referensi

    National Eye Institute, “Causes of Cataracts,” diperbarui September 2026.

    National Eye Institute, “Cataracts,” diperbarui September 2026.

    National Eye Institute, “Diabetic Retinopathy,” diperbarui September 2026.

    Mayo Clinic, “Cataracts: Symptoms and Causes,” diperbarui September 2026.

    Annechien E. G. Haarman et al., “The Complications of Myopia: A Review and Meta-Analysis,” Investigative Ophthalmology & Visual Science 61, no. 4 (2020): 49, https://doi.org/10.1167/iovs.61.4.49.

    Stinna Skaaby, Jakob Bjerager, Esben Meulengracht Flachs, Ingrid Sivesind Mehlum, and Jens Peter Ellekilde Bonde, “Cataract in Outdoor Workers: A Systematic Review with Meta-Analysis,” Journal of Occupational Medicine and Toxicology (2026), https://doi.org/10.1186/s12995-026-00525-5.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More