Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Operasi Katarak: Lensa Monofokal atau Multifokal?

4 min read
Operasi Katarak: Lensa Monofokal atau Multifokal?
ilustrasi mata (pexels.com/James Ampong Quilario)
  • Lensa monofokal memiliki satu titik fokus dan biasanya diatur untuk melihat jauh. Untuk membaca, pasien umumnya masih membutuhkan kacamata.

  • Lensa multifokal dirancang untuk membantu melihat pada beberapa jarak, tetapi dapat menimbulkan silau atau lingkaran cahaya.

  • Lensa yang paling sesuai ditentukan dari kondisi mata, kegiatan sehari-hari, dan kenyamanan pasien, bukan cuma dari harga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat katarak mulai mengganggu kegiatan seperti membaca, menyetir, atau melihat layar, dokter dapat menyarankan operasi. Lensa alami yang keruh akan diangkat lalu diganti dengan lensa buatan yang disebut lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Pilihan lensanya perlu disesuaikan dengan kebutuhan penglihatan sehari-hari.

Spesialis mata, dr. Milzan Murtadha, Sp.M, dari JEC Eye Hospitals & Clinics, dalam sesi media di Jakarta Pusat pada Rabu (30/9), menjelaskan bahwa lensa standar atau monofokal umumnya difokuskan untuk penglihatan jauh, biasanya membuat pasien tetap membutuhkan kacamata plus untuk melihat dekat. Sementara itu, lensa multifokal dirancang dengan beberapa fokus untuk membantu penglihatan jauh, menengah, dan dekat.

  1. 1. Lensa monofokal

    Lensa monofokal dirancang untuk memberikan fokus terbaik pada satu jarak. Kebanyakan pasien memilih agar fokusnya diatur untuk melihat jauh, misalnya saat berjalan, menonton televisi, atau menyetir. Untuk membaca buku atau melihat ponsel dari dekat, kacamata baca masih mungkin diperlukan.

    Fokus monofokal juga dapat direncanakan untuk jarak dekat. Ada pula strategi monovision, yaitu satu mata diatur untuk melihat jauh dan mata lainnya untuk jarak dekat. Namun, strategi ini tidak cocok untuk semua orang. Dokter perlu menilai kondisi mata dan pasien perlu memahami kompromi yang mungkin muncul.

  2. 2. Lensa multifokal

    Lensa multifokal memiliki lebih dari satu zona fokus. Tujuannya membantu pasien melihat pada jarak jauh dan dekat. Beberapa desain juga membantu penglihatan menengah, seperti saat menggunakan komputer. Karena itu, lensa ini dapat mengurangi kebutuhan memakai kacamata untuk berbagai aktivitas, meski ini tidak menjamin pasien sepenuhnya bebas dari kacamata.

    Sebuah tinjauan membandingkan lensa multifokal dan monofokal menganalisis 20 penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa lensa multifokal dapat membantu penglihatan dekat dan mengurangi ketergantungan pada kacamata. Namun, pasien dengan lensa multifokal lebih mungkin mengalami silau atau melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu. Para peneliti juga mencatat bahwa besarnya manfaat penglihatan dekat masih memiliki ketidakpastian.

    Efek seperti silau dan lingkaran cahaya bisa terasa lebih mengganggu di tempat gelap. Maka dari itu, kebiasaan menyetir malam hari, misalnya, perlu dibicarakan sebelum memilih lensa. Kondisi mata lain, seperti glaukoma atau degenerasi makula yang telah mengganggu penglihatan, dapat memengaruhi kecocokan lensa multifokal.

    Menurut laporan American Academy of Ophthalmology pada 2021, menilai penelitian tentang lensa multifokal dan lensa dengan rentang fokus diperpanjang. Sebagian besar lensa yang ditinjau menunjukkan kebebasan dari kacamata yang lebih baik dibanding lensa monofokal. Hasil ini menggambarkan manfaat yang mungkin diperoleh, tetapi tidak berarti satu jenis lensa akan memberi hasil yang sama bagi setiap pasien.

  3. 3. Harga bukan satu-satunya ukuran kecocokan

    Dokter Milzan Murtadha, SpM, spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, berpose untuk dokumentasi.
    Dokter Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics. (Dok. JEC Eye Hospitals and Clinics)

    Kadang lensa yang paling canggih bukan solusi tepat untuk pasien. Pada akhirnya, dokter perlu memeriksa kondisi mata dan mengukur kebutuhan koreksi, termasuk apakah ada silinder atau masalah lain yang dapat memengaruhi hasil penglihatan.

    Kegiatan yang paling sering dilakukan pasien juga penting, misalnya apakah pasien lebih banyak membaca, bekerja di depan komputer, atau menyetir pada malam hari.

    “Tidak semua yang paling mahal itu sama dengan yang paling bagus, tetap semua harus dikondisikan, di-customize untuk tiap pasien,” dr. Milzan menekankan. Ia juga menyebut ada pasien yang hasilnya lebih sesuai dengan lensa monofokal.

    Sebelum memutuskan, pasien dapat mendiskusikan beberapa hal dengan dokter mata, seperti:

    • Aktivitas apa yang paling ingin didukung setelah operasi?
    • Apakah masih nyaman menggunakan kacamata baca?
    • Seberapa sering pasien menyetir pada malam hari?
    • Apakah kondisi mata lain atau silinder memengaruhi pilihan lensa?
    • Apa manfaat dan keterbatasan lensa yang direkomendasikan?

    Diskusi tersebut membantu menyamakan harapan dengan hasil yang mungkin dicapai. Tujuan operasi bukan cuma mengganti lensa yang keruh, tetapi juga memilih koreksi penglihatan yang sesuai dengan kondisi mata dan keseharian pasien.

    Referensi

    National Eye Institute, “Cataracts,” diakses September 2026.

    Cheryl terHorst, “Factors to Consider in Choosing an IOL for Cataract Surgery,” American Academy of Ophthalmology, diakses September 2026.

    Samantha R. de Silva et al., “Multifocal versus Monofocal Intraocular Lenses after Cataract Extraction,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 12 (2016): CD003169, https://doi.org/10.1002/14651858.CD003169.pub4.

    Julie M. Schallhorn et al., “Multifocal and Accommodating Intraocular Lenses for the Treatment of Presbyopia: A Report by the American Academy of Ophthalmology,” Ophthalmology 128, no. 10 (2021): 1469–82, https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2021.03.013.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More