Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Operasi Katarak Kini Fokus pada Kualitas Penglihatan Pasien

5 min read
Operasi Katarak Kini Fokus pada Kualitas Penglihatan Pasien
Dokter Milzan Murtadha, Sp.M, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals & Clinics. (Dok. JEC Eye Hospitals & Clinics)
  • Katarak mengganggu aktivitas harian. Operasi dipertimbangkan saat penglihatan memengaruhi rutinitas, dengan target kualitas penglihatan yang mendukung kemandirian pasien.

  • FLACS memakai laser pada beberapa tahap operasi dan mengurangi energi ultrasonik.

  • Pilihan lensa tanam dan teknik operasi disesuaikan dengan kondisi mata, astigmatisme, aktivitas, serta harapan penggunaan kacamata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Katarak dapat membuat pandangan perlahan berkabut. Membaca tulisan kecil, melihat layar, atau berkendara bisa menjadi sulit. Katarak bukan cuma masalah pada ketajaman penglihatan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menjalani rutinitas secara nyaman dan mandiri.

Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 11,97 persen penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyebut sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak tercatat sepanjang 2025.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 94 juta orang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat atau kebutaan akibat katarak; sekitar 1 dari 2 orang yang butuh operasi katarak belum dapat mengaksesnya.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang perkembangan penanganan katarak dan tujuan meningkatkan quality of vision atau kualitas penglihatan setelah operasi.

  1. 1. Waktu operasi ditentukan dari dampaknya pada keseharian

    Katarak terjadi ketika lensa alami di dalam mata menjadi keruh. Operasi dilakukan dengan mengangkat lensa tersebut dan menggantinya dengan lensa buatan.

    Dokter dapat menyarankan operasi ketika katarak mulai mengganggu kegiatan seperti membaca, berkendara, atau menonton. Keputusan waktu operasi mempertimbangkan kondisi mata dan seberapa besar penglihatan sudah memengaruhi aktivitas pasien.

    Spesialis mata dr. Milzan Murtadha, Sp.M, dari JEC Eye Hospitals & Clinics, dalam sesi media di Jakarta Pusat pada Rabu (30/9), mengatakan bahwa tujuan operasi melampaui penglihatan yang lebih jelas.

    “Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari.”

    Pemeriksaan akan membantu dokter memahami kondisi mata dan kebutuhan visual pasien.

  2. 2. Pilihan operasi dengan FLACS

    Pada operasi katarak standar, dokter menggunakan gelombang ultrasonik untuk memecah lensa yang keruh, kemudian mengangkatnya dan menggantinya dengan lensa tanam. Pada Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS), laser membantu beberapa tahapan operasi, seperti membuat bukaan kapsul lensa dan memecah lensa sebelum diangkat. Cara ini dapat mengurangi kebutuhan energi ultrasonik.

    Namun, penggunaan laser tidak selalu menghasilkan penglihatan yang lebih baik. Tinjauan Cochrane tahun 2023 yang mencakup 42 studi dengan 5.831 peserta menemukan bahwa FLACS dan operasi katarak standar menunjukkan hasil yang serupa dalam hal komplikasi, ketajaman penglihatan, dan kualitas hidup.

    Metaanalisis tahun 2025 terhadap 46 uji klinis dengan 8.871 mata memang menemukan penglihatan sedikit lebih baik pada minggu pertama setelah FLACS. Namun, setelahnya tidak ada perbedaan bermakna dalam hasil penglihatan, komplikasi, maupun kepuasan pasien.

    Hal itu menunjukkan bahwa FLACS merupakan salah satu pendekatan operasi, sementara pilihan teknik tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasien dan penilaian dokter.

  3. 3. Jenis lensa tanam memengaruhi fokus penglihatan

    Ilustrasi seorang perempuan muda menutup mata sambil mengintip di antara jari-jari tangannya dengan ekspresi ceria.
    ilustrasi kesehatan mata (magnific.com/benzoix)

    Setelah lensa yang keruh diangkat, dokter memasang lensa intraokular (IOL). Secara umum, pilihan yang tersedia meliputi:

    • Monofokal: emiliki satu titik fokus dan umumnya diatur untuk melihat jauh. Pasien biasanya masih memerlukan kacamata baca untuk melihat dekat.
    • Multifokal: dirancang untuk membantu penglihatan pada beberapa jarak, seperti jauh dan dekat. Sebagian desain juga membantu melihat jarak menengah, misalnya layar komputer.
    • Extended depth of focus (EDOF): memperluas rentang fokus, terutama untuk melihat jauh hingga menengah. Kebutuhan kacamata untuk membaca dekat tetap perlu dibicarakan.
    • Toric: membantu mengoreksi astigmatisme atau mata silinder. Lensa ini dapat tersedia bersama pilihan fokus lain.

    Multifokal dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata, tetapi pada beberapa pasien dapat menimbulkan silau atau lingkaran cahaya. Karena itu, pilihan lensa perlu mempertimbangkan kebiasaan seperti menyetir pada malam hari, membaca, atau bekerja di depan layar.

    Kondisi kornea, retina, dan saraf mata juga menjadi bagian dari pemeriksaan.

  4. 4. Lensa yang paling mahal belum tentu paling sesuai

    Pemilihan lensa dan teknik operasi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Dokter akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan mata, anatomi mata, astigmatisme, aktivitas sehari-hari, serta harapan pasien terkait kebutuhan kacamata setelah operasi.

    “Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien,” kata dr. Milzan. Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua yang paling mahal itu paling bagus. Pilihan yang tepat perlu disesuaikan dengan setiap pasien.

    Sebelum operasi, beri tahu dokter mengenai aktivitas yang ingin tetap nyaman dilakukan setelah tindakan, misalnya membaca, bekerja di depan komputer, atau menyetir pada malam hari. Diskusi ini membantu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan harapan pasien.

    Referensi

    Badan Pusat Statistik, “SUPAS 2025: Angka Kelahiran Total (TFR) Sebesar 2,13, Angka Kematian Bayi (IMR) Sebesar 14,12, dan Persentase Lansia Mencapai 11,97 Persen,” diakses September 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Wamenkes: 600 Ribu Warga Buta Akibat Katarak, Pemerintah Perkuat Skrining Nasional,” diakses September 2026.

    World Health Organization, “Blindness and Vision Impairment,” diakses September 2026.

    National Eye Institute, “Cataracts,” diakses September 2026.

    Mayo Clinic, “Cataract Surgery,” diakses September 2026.

    A. Narayan, J. R. Evans, D. O’Brart, C. Bunce, D. M. Gore, dan A. C. Day, “Laser-Assisted Cataract Surgery versus Standard Ultrasound Phacoemulsification Cataract Surgery,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 6 (2023): CD010735, https://doi.org/10.1002/14651858.CD010735.pub3.

    Ssu-Hsien Lee, Yu-Chieh Chiu, Ping-Chiao Tsai, Jen-Hung Wang, dan Cheng-Jen Chiu, “Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery versus Conventional Phacoemulsification Cataract Surgery: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials,” Scientific Reports 15, no. 1 (2025): 27569, https://doi.org/10.1038/s41598-025-13174-1.

    American Academy of Ophthalmology, “Factors to Consider in Choosing an IOL for Cataract Surgery,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More