gambar seorang pria sedang batuk (unsplash.com/Towfiqu Barbhuiya)
Paparan vape dalam jangka pendek mungkin hanya menyebabkan pita suara dan tenggorokan teriritasi. Namun sepertinya yang kita tahu, kandungan nikotin pada vape menyebabkan kecanduan sehingga sulit bagi siapapun untuk bisa lepas. Dalam jangka panjang, penggunaan vape bukan hanya dapat menyebabkan iritasi tapi juga sejumlah masalah serius terhadap pita suara, termasuk polip.
Dilansir Cleveland Clinic, polip adalah pertumbuhan jinak (non-kanker) atau ganas (kanker) yang terbentuk pada pita suara. Polip terbentuk akibat penggunaan suara yang berlebihan atau penyalahgunaan suara secara berlebihan. Polip biasanya terbentuk pada satu pita suara, sebelum akhirnya menyebar ke pita suara lain. Salah satu jenis polip yakni, korditis polipoid dikaitkan dengan kebiasaan merokok dan vape. Pertumbuhan polip ini membuat suara mudah pecah, suara kasar dan serak, bahkan kehilangan suara. Gejalanya lainnya meliputi suara napas tersengal-sengal, kelelahan vokal, hilangnya jangkauan vokal, batuk, hingga nyeri tajam di leher yang menjalar ke telinga.
Vape mungkin hanya memiliki lebih sedikit racun ketimbang rokok, tetapi hal itu gak lantas membuatnya aman. Baik vape maupun rokok sama-sama menimbulkan konsekuensi serius bagi kesehatan. Gak hanya merusak sistem pernapasan, kebiasaan menghisap vape juga menyakiti pita suara dan mengubah suara kita.
Referensi
“Is Smoker’s Voice Real?” Cleveland Clinic. Diakses Oktober 2026.
“Vaping.” Cleveland Clinic. Diakses Oktober 2026.
“Does Vaping Hurt the Voice?” Center for Vocal Health. Diakses Oktober 2026.
“Vaping to Quit Smoking.” National Health Service (NHS). Diakses Oktober 2026.
“Vaping, Smoking, and Voice Damage.” Colorado Voice Clinic. Diakses Oktober 2026.