ilustrasi simbol kanker payudara (magnific.com/magnific)
Studi 2025 tersebut menggunakan data cross-sectional, yaitu data yang menggambarkan kondisi peserta pada satu waktu. Karena itu, penelitian ini tidak dapat memastikan apakah kebiasaan duduk lama berkontribusi pada kanker atau justru dipengaruhi oleh kondisi kesehatan lain. Selain itu, diagnosis kanker didasarkan pada laporan peserta, bukan catatan medis. Para peneliti juga menegaskan perlunya studi jangka panjang untuk menelusuri hubungan tersebut lebih lanjut.
Studi lain pada 2022 menggunakan metode Mendelian randomization, yang memanfaatkan data genetik untuk menilai kemungkinan hubungan sebab akibat. Analisis terhadap lebih dari 130 ribu perempuan keturunan Eropa menemukan bahwa kecenderungan genetik untuk lebih banyak duduk berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi pada salah satu subtipe kanker payudara. Namun, metode ini bukan uji coba yang secara langsung mengurangi waktu duduk dan kemudian mengamati dampaknya terhadap risiko kanker.
Sementara itu, bukti mengenai aktivitas fisik dan risiko kanker payudara jauh lebih kuat. Sebuah metaanalisis menunjukkan bahwa perempuan yang paling aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara 12–21 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang paling tidak aktif. Meski demikian, temuan ini menunjukkan hubungan, bukan jaminan bahwa olahraga dapat sepenuhnya mencegah kanker payudara.