Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: Kurangi Waktu Duduk, Risiko Kanker Payudara Bisa Turun
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Studi 2025 pada 9.706 perempuan dengan obesitas menemukan prevalensi kanker payudara cenderung lebih tinggi pada durasi duduk lebih lama, terutama pada peserta yang kurang aktif.

  • Karena memakai data satu waktu dan diagnosis berdasarkan laporan peserta, studi tersebut belum membuktikan duduk lama menyebabkan kanker payudara; riset jangka panjang masih diperlukan.

  • Bukti aktivitas fisik lebih kuat: perempuan paling aktif memiliki risiko 12–21 persen lebih rendah. Ahli menganjurkan membatasi duduk dan memenuhi target aktivitas mingguan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perjalanan kantor duduk di kendaraan, pagi sampai sore duduk di kursi kerja, sepulang kerja beristirahat di sofa. Faktanya, duduk telah menjadi bagian biasa dari hari banyak orang. Namun, para peneliti mulai mengkaji apakah waktu duduk yang lama berkaitan dengan risiko kanker payudara.

Duduk atau berbaring saat terjaga dengan sedikit energi yang dikeluarkan tubuh disebut perilaku sedenter. Seseorang bisa tetap rutin berolahraga, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya duduk. Jadi, olahraga dan waktu duduk adalah dua hal yang berkaitan, tetapi tidak sama. Perilaku sedenter dalam jumlah tinggi juga dikaitkan dengan sejumlah dampak kesehatan, termasuk kanker secara umum.

Temuan penelitian

Studi yang terbit pada 2025 menganalisis data survei kesehatan Amerika Serikat periode 1999–2020. Peneliti memeriksa 9.706 perempuan dengan obesitas; 271 di antaranya melaporkan pernah didiagnosis kanker payudara.

Peserta dikelompokkan berdasarkan lama duduk sehari: kurang dari 4 jam, 4–6 jam, 6–8 jam, atau lebih dari 8 jam.

Peneliti menemukan bahwa kelompok dengan durasi duduk lebih lama cenderung memiliki prevalensi kanker payudara lebih tinggi dibanding kelompok dengan durasi duduk kurang dari 4 jam. Pola hubungan ini terlihat pada kelompok yang kurang aktif secara fisik, tetapi tidak terlihat pada kelompok yang aktif.

Temuan penelitian bukan sebab akibat

ilustrasi simbol kanker payudara (magnific.com/magnific)

Studi 2025 tersebut menggunakan data cross-sectional, yaitu data yang menggambarkan kondisi peserta pada satu waktu. Karena itu, penelitian ini tidak dapat memastikan apakah kebiasaan duduk lama berkontribusi pada kanker atau justru dipengaruhi oleh kondisi kesehatan lain. Selain itu, diagnosis kanker didasarkan pada laporan peserta, bukan catatan medis. Para peneliti juga menegaskan perlunya studi jangka panjang untuk menelusuri hubungan tersebut lebih lanjut.

Studi lain pada 2022 menggunakan metode Mendelian randomization, yang memanfaatkan data genetik untuk menilai kemungkinan hubungan sebab akibat. Analisis terhadap lebih dari 130 ribu perempuan keturunan Eropa menemukan bahwa kecenderungan genetik untuk lebih banyak duduk berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi pada salah satu subtipe kanker payudara. Namun, metode ini bukan uji coba yang secara langsung mengurangi waktu duduk dan kemudian mengamati dampaknya terhadap risiko kanker.

Sementara itu, bukti mengenai aktivitas fisik dan risiko kanker payudara jauh lebih kuat. Sebuah metaanalisis menunjukkan bahwa perempuan yang paling aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara 12–21 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang paling tidak aktif. Meski demikian, temuan ini menunjukkan hubungan, bukan jaminan bahwa olahraga dapat sepenuhnya mencegah kanker payudara.

Mulai dengan lebih sering bergerak

Mengurangi waktu duduk tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kamu bisa menyelingi pekerjaan dengan berdiri atau berjalan sebentar, berjalan saat menelepon, atau mengambil minum sendiri. Intinya, cobalah menambah gerak dalam aktivitas sehari-hari.

Para ahli menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Selain itu, batasi waktu sedenter, termasuk duduk terlalu lama.

Mengurangi waktu duduk dan lebih banyak bergerak merupakan langkah yang baik bagi kesehatan secara keseluruhan. Namun, berdasarkan bukti yang ada saat ini, kebiasaan tersebut belum dapat dianggap sebagai cara yang pasti untuk mencegah kanker payudara.

Referensi

National Cancer Institute, “Physical Activity and Cancer Fact Sheet,” diakses 20 Oktober 2026.

World Health Organization, “Physical Activity,” diakses 20 Oktober 2026.

Lizhen Wang et al., “Association between Daily Sitting Time and Breast Cancer among Obese Women: A Nationwide Population-Based Study,” BMC Women’s Health 25 (2025): 337, https://doi.org/10.1186/s12905-025-03894-x.

Suzanne C. Dixon-Suen et al., “Physical Activity, Sedentary Time and Breast Cancer Risk: A Mendelian Randomisation Study,” British Journal of Sports Medicine 56, no. 20 (2022): 1157–70, https://doi.org/10.1136/bjsports-2021-105132.

World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour," diakses 20 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article