“Scientists Reveal Why Breast Cancer Risk Rises With Age.” ScienceAlert. Diakses Oktober 2026.
“Breast Cancer Risk Factors.” Siloam Hospitals. Diakses Oktober 2026.
“Breast Cancer Risk Factors.” Cancer Research UK. Diakses Oktober 2026.
“Risk Factors for Breast Cancer.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Oktober 2026.
“Understanding Breast Cancer: The Basics.” WebMD. Diakses Oktober 2026.
“Breast Cancer.” World Health Organization (WHO). Diakses Oktober 2026.
6 Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Payudara, Apa Aja?

Kanker payudara terjadi saat sel tumbuh tak terkendali dan membentuk tumor ganas yang dapat menyebar; penyebab pastinya belum banyak diketahui.
Risiko meningkat pada orang dengan riwayat keluarga atau mutasi BRCA, perempuan, usia di atas 50 tahun, serta berat badan berlebih atau obesitas.
Paparan radiasi dada berulang, terutama sebelum usia 30 tahun, dan gaya hidup buruk seperti merokok serta jarang olahraga turut meningkatkan risiko kanker payudara.
Menderita kanker payudara menjadi mimpi buruk banyak orang. Bagaimana tidak, kanker payudara sama seperti kanker jenis lainnya, merupakan penyakit yang dapat mengancam nyawa. Meski seiring waktu, tingkat kelangsungan hidup dan kesembuhan penyakit ini semakin tinggi. Namun tetap saja, melawan kanker payudara bukanlah "perang" yang mudah untuk dimenangkan.
Dilansir WebMd, kanker payudara terjadi ketika sel-sel di salah satu atau kedua payudara tumbuh di luar kendali. Sel-sel tersebut kemudian membentuk tumor bersifat ganas yang dapat menyebar ke area luar payudara. Kanker payudara sendiri biasanya dimulai di kelenjar penghasil ASI, sebelum akhirnya menyebar ke kelenjar getah bening dan organ lainnya. Sayangnya hingga saat ini, penyebab kanker payudara belum banyak diketahui. Meski begitu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Apa aja?
1. Riwayat keluarga

gambar nenek, ibu, dan anak-anak sedang bermain bersama (unsplash.com/Land O'Lakea, Inc.) Jika kamu memiliki orang tua, saudara, atau anak yang pernah menderita kanker payudara, maka risiko kamu menderita penyakit yang sama juga jadi lebih tinggi. Hal ini sering kali dikaitkan dengan perubahan mutasi pada gen tertentu seperti BRCA1 dan BRCA2 yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. BRCA1 dan BRCA2 sendiri merupakan gen penekan tumor yang bertugas untuk menghambat pertumbuhan sel abnormal.
Ketika gen ini mengalami mutasi, maka risiko seseorang terkena kanker juga akan jadi lebih tinggi. Meski riwayat keluarga merupakan salah satu faktor utama, kanker payudara sendiri bukan penyakit keturunan. Itu artinya, siapa pun bisa terkena kanker payudara meski tidak memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2. Menjadi perempuan

gambar sekelompok perempuan berkumpul bersama (unsplash.com/Joel Muniz) Kanker payudara sebenarnya tidak pilih-pilih dalam menentukan "korbannya". Baik laki-laki maupun perempuan, bisa menderita penyakit ini. Namun dibandingkan dengan laki-laki, perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker payudara. Nyatanya 80% kasus kanker payudara terjadi pada perempuan, dan hanya 0,5-1 persen kasus yang terjadi pada laki-laki.
Ini karena perempuan memiliki kadar estrogen dan progesteron yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Estrogen dan progesteron sendiri merupakan dua senyawa kimia yang memainkan peranan penting dalam sistem reproduksi manusia. Ketika kadar senyawa kimia ini berada di atas normal, hal itu dapat meningkatkan risiko terjadinya pertumbuhan sel kanker.
3. Berusia di atas 50 tahun

gambar seorang perempuan lanjut usia (unsplash.com/Benjamin Brunner) Pada dasarnya, risiko kanker payudara akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Saat ini, mayoritas penderita kanker payudara adalah perempuan yang berusia di atas 50 tahun. Sebuah studi menemukan bahwa jaringan payudara pada perempuan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, dengan perubahan paling signifikan yang terjadi setelah menopause. Seiring bertambahnya usia, jumlah sel dalam jaringan payudara mengalami penurunan dan perubahan struktur jaringan.
Hal ini menciptakan kondisi di mana sel kanker dapat lebih mudah bertahan hidup dan berkembang. Untuk itu, penting bagi perempuan terutama di atas usia 40 tahun untuk melakukan pemeriksaan terkait kondisi kesehatan payudara-nya secara rutin. Bahkan jika sel kanker ditemukan, pengobatannya bisa dilakukan sejak awal. Untuk kanker payudara sendiri, semakin awal pengobatan dilakukan, maka akan semakin tinggi juga tingkat kesembuhannya.
4. Berat badan berlebih atau obesitas

gambar seorang perempuan dengan berat badan berlebih (unsplash.com/Sasun Bughdaryan) Gak bisa dipungkiri, berat badan berlebih terutama diusia senja dapat mengundang berbagai jenis penyakit berbahaya. Bagi perempuan terutama, berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Kenapa bisa begitu? Ini karena berat badan berlebih atau obesitas dapat menyebabkan penumpukan jaringan lemak (disebut juga jaringan adiposa) di dalam tubuh. Penumpukan ini pada akhirnya menghasilkan senyawa estrogen secara berlebihan, yang juga memicu kenaikan risiko terhadap sejumlah penyakit baru, termasuk kanker payudara.
5. Riwayat pengobatan dengan menggunakan terapi radiasi

gambar petugas kesehatan sedang melakukan CT Scan (unsplash.com/Navy Medicine) Terapi radiasi memang bisa jadi salah satu cara pengobatan untuk beberapa penyakit. Namun di sisi lain, terapi radiasi yang berulang juga bisa meningkatkan risiko penyakit baru. Terpapar sinar radiasi dosis tinggi secara berulang dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Terutama jika kamu mendapatkan terapi radiasi di bagian dada satu payudara sebelum berusia 30 tahun. Untuk menghindari hal tersebut, saat ini dokter dan tenaga kesehatan meminimalkan paparan radiasi dalam praktik medis. Meski rontgen atau CT scan sendiri menggunakan dosis radiasi yang rendah, banyak dokter lebih memilih untuk tidak melakukan dua hal tersebut, kecuali benar-benar dibutuhkan.
6. Gaya hidup buruk

gambar seorang perempuan sedang memegang gelas berisi red wine (unsplash.com/Gabriel Hohenstein) Merokok, konsumsi garam dan gula berlebih, jarang olahraga, dan gaya hidup buruk lainnya juga dapat mempengaruhi tubuh kita. Saat masih muda, semua kebiasaan buruk itu mungkin gak memberikan efek apapun. Namun seiring bertambahnya usia, kebiasaan seperti itu akan mengundang banyak penyakit. Bagi perempuan terutama, gaya hidup buruk dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Ini karena, gaya hidup yang buruk dapat memicu peradangan dan mutasi gen, hingga akhirnya pertumbuhan sel-sel abnormal penyebab berbagai jenis kanker termasuk kanker payudara.
Kanker payudara memang tidak bisa dicegah, tetapi kita setidaknya dapat meminimalkan risikonya dengan menghindari faktor-faktor di atas dan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke rumah sakit jika menemukan benjolan atau gejala yang tidak biasa. Meski benjolan pada payudara sendiri tidak selalu berarti kanker, gejala apapun yang tidak biasa tetap membutuhkan pengobatan.
Referensi




![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)

















