Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengabaikan Gejala Ini saat Haji Bisa Berakibat Fatal
Jemaah calon haji masih terlihat lengang di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (10/5/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)
  • Kondisi fisik ekstrem saat haji meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, terutama penyakit terkait panas dan infeksi.

  • Banyak gejala awal terlihat ringan, tetapi bisa berkembang cepat menjadi kondisi fatal jika diabaikan.

  • Respons cepat dan pemahaman gejala adalah kunci pencegahan komplikasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap gejala kesehatan selama ibadah haji, yang justru menunjukkan sisi positif berupa meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab jemaah terhadap kondisi tubuh mereka. Dengan penjelasan rinci tentang tanda-tanda bahaya dan langkah pencegahan sederhana, artikel ini membantu menciptakan pengalaman ibadah yang lebih aman, sehat, dan penuh kesiapan fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jutaan jemaah berkumpul di satu lokasi, berjalan jauh, beragam aktivitas, dan terpapar panas ekstrem membuat tubuh bekerja lebih keras dari biasanya, sering kali di luar batas yang disadari.

Di tengah kekhusyukan, sinyal-sinyal kecil dari tubuh kerap terabaikan. Rasa lelah dianggap wajar, pusing dianggap sementara, atau batuk dianggap biasa. Padahal, dalam saat beribadah haji, beberapa gejala yang tampak ringan bisa menjadi awal dari kondisi serius yang berkembang cepat.

Share artikel ini ke keluarga kamu yang tahun ini beribadah haji, sebaiknnya jangan mengabaikan gejala-gejala ini karena ada potensi berakibat fatal.

1. Pusing, lemah, dan kebingungan (tanda heat stroke)

Paparan suhu tinggi dalam waktu lama adalah salah satu risiko terbesar saat haji. Gejala awal seperti pusing, lemas, sakit kepala, hingga sulit berkonsentrasi sering muncul terlebih dulu. Banyak jemaah menganggap ini sebagai kelelahan biasa, padahal bisa menjadi tanda awal heat exhaustion yang berpotensi berkembang menjadi heat stroke.

Heat stroke adalah kondisi darurat medis yang ditandai dengan gangguan sistem saraf pusat, seperti kebingungan, disorientasi, hingga penurunan kesadaran, disertai suhu tubuh yang sangat tinggi. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ hingga kematian.

Penyakit terkit panas (heat-related illness) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas selama musim haji. Risiko meningkat pada lansia, individu dengan penyakit kronis, dan mereka yang mengalami dehidrasi. Mengenali gejala sejak awal dan segera mencari tempat teduh serta rehidrasi bisa menyelamatkan nyawa.

2. Haus berlebihan, jarang buang air kecil (dehidrasi berat)

Ribuan jemaah calon haji masih bermukim di Madinah, Arab Saudi, sebelum mereka menuju puncak haji di Mekkah, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)

Dehidrasi sering dimulai dengan gejala yang tampak ringan: haus, bibir kering, dan kelelahan. Namun, dalam kondisi panas ekstrem dan aktivitas tinggi seperti saat haji, dehidrasi bisa berkembang cepat menjadi kondisi serius.

Dehidrasi berat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, gangguan ginjal, hingga syok. Salah satu tanda penting adalah penurunan frekuensi buang air kecil atau warna urine sangat gelap.

Dehidrasi adalah masalah umum pada jemaah haji, terutama karena kurangnya asupan cairan yang cukup dan paparan panas berkepanjangan. Pencegahan sederhana seperti minum secara teratur, bahkan sebelum merasa haus, menjadi langkah krusial.

3. Sesak napas dan nyeri dada

Kerumunan besar dan aktivitas fisik intens dapat memperberat kondisi jantung dan paru-paru. Sesak napas atau nyeri dada tidak boleh dianggap remeh, terutama pada jemaah dengan riwayat penyakit jantung atau hipertensi.

Nyeri dada yang disertai sesak napas bisa menjadi tanda serangan jantung atau gangguan jantung lainnya. Saat beribadah haji, stres fisik dan emosional dapat menjadi pemicu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kejadian kardiovaskular meningkat selama haji, terutama pada kelompok lansia. Deteksi dini dan akses cepat ke layanan medis sangat penting untuk mencegah komplikasi fatal.

4. Batuk, demam, dan nyeri tenggorokan (infeksi pernapasan)

Jemaah haji hendak melaksanakan lempar jumrah (IDN Times/Rochmanudin)

Lingkungan padat selama haji meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan. Batuk ringan atau demam sering diremehkan, padahal bisa menjadi awal dari infeksi serius seperti pneumonia.

Infeksi saluran pernapasan juga umum terjadi selama haji. Virus seperti influenza dan bakteri penyebab pneumonia mudah menyebar dalam kerumunan.

Studi menunjukkan jemaah haji memiliki risiko tinggi mengalami infeksi pernapasan akibat paparan lingkungan padat dan kelelahan fisik. Penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, dan segera memeriksakan diri jika gejala memburuk sangat dianjurkan.

5. Kaki bengkak, nyeri, atau luka yang tak sembuh-sembuh

Jalan kaki jarak jauh dapat menyebabkan masalah pada kaki, mulai dari lecet hingga pembengkakan. Pada individu dengan diabetes atau gangguan sirkulasi, luka kecil bisa berkembang menjadi infeksi serius.

Perawatan kaki sangat penting bagi jemaah yang memiliki diabetes karena risiko infeksi dan komplikasi meningkat. Luka yang tidak ditangani dapat menyebabkan ulkus atau borok hingga amputasi.

Infeksi kaki adalah salah satu komplikasi serius yang sering diabaikan pada kondisi aktivitas tinggi seperti haji. Pemeriksaan rutin kaki dan penggunaan alas kaki yang tepat menjadi langkah pencegahan penting.

Memang semua orang inginnya khusyuk beribadah saat haji. Namun, jangan abaikan gejala-gejala di atas. Mengabaikannya berarti memberi waktu bagi kondisi serius untuk berkembang. Dengan mengenali tanda bahaya sejak awal dan meresponsnya dengan cepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan. Tubuh pun tetap sehat, aman, hingga perjalanan selesai.

Referensi

World Health Organization. “Public Health for Mass Gatherings: Key Considerations.” Diakses Mei 2026.

Jaffar A. Al-Tawfiq and Ziad A. Memish, “Mass Gatherings and Infectious Diseases,” Infectious Disease Clinics of North America 26, no. 3 (July 3, 2012): 725–37, https://doi.org/10.1016/j.idc.2012.05.005.

Centers for Disease Control and Prevention. “Heat-Related Illness.” Diakses Mei 2026.

Shuja Shafi et al., “Hajj: Health Lessons for Mass Gatherings,” Journal of Infection and Public Health 1, no. 1 (January 1, 2008): 27–32, https://doi.org/10.1016/j.jiph.2008.08.008.

Abdullah Al Shimemeri, “Cardiovascular Disease in Hajj Pilgrims,” Journal of the Saudi Heart Association 24, no. 2 (February 16, 2012): 123–27, https://doi.org/10.1016/j.jsha.2012.02.004.

Meity Ardiana et al., “The Impact of Classical Cardiovascular Risk Factors on Hospitalization and Mortality Among Hajj Pilgrims,” The Scientific World JOURNAL 2023 (April 18, 2023): 1–9, https://doi.org/10.1155/2023/9037159.

American Heart Association. “Heart Attack Symptoms.” Diakses Mei 2026.

Tariq A. Madani et al., “Causes of Admission to Intensive Care Units in the Hajj Period of the Islamic Year 1424 (2004),” Annals of Saudi Medicine 27, no. 2 (March 1, 2007): 101–5, https://doi.org/10.5144/0256-4947.2007.101.

Salma M. Alsayed et al., “Pattern of Respiratory Viruses Among Pilgrims During 2019 Hajj Season Who Sought Healthcare Due to Severe Respiratory Symptoms,” Pathogens 10, no. 3 (March 8, 2021): 315, https://doi.org/10.3390/pathogens10030315.

International Diabetes Federation. “Diabetes and Foot Care.” Diakses Mei 2026.

David G. Armstrong et al., “Diabetic Foot Ulcers,” JAMA 330, no. 1 (July 3, 2023): 62, https://doi.org/10.1001/jama.2023.10578.

Editorial Team