Referensi
National Library of Medicine, “John H. Gibbon Papers,” arsip Finding Aids, diakses 5 Oktober 2026.
William L. Holman, Joseph Timpa, dan James K. Kirklin, “Origins and Evolution of Extracorporeal Circulation: JACC Historical Breakthroughs in Perspective,” Journal of the American College of Cardiology 79, no. 16 (2022): 1606–22, https://doi.org/10.1016/j.jacc.2022.02.027.
Jefferson University Archives and Special Collections, “John H. Gibbon,” diakses 5 Oktober 2026.
Mark Kurusz, “May 6, 1953: The Untold Story,” ASAIO Journal 58, no. 1 (2012): 2–5, https://doi.org/10.1097/MAT.0b013e31823ccfe7.
Holman, Timpa, dan Kirklin, “Origins and Evolution of Extracorporeal Circulation”; Mayo Clinic, “1955: Opening the Era of Heart Bypass Surgery,” diakses 5 Oktober 2026.
Cleveland Clinic, “Cardiopulmonary Bypass,” diakses 5 Oktober 2026.
Mesin Jantung-Paru, Teknologi yang Mengubah Operasi Jantung

Mesin jantung-paru mengambil alih sementara tugas memompa darah dan menambahkan oksigen ketika dokter perlu mengoperasi jantung.
Gagasan John H. Gibbon tumbuh dari pengalaman klinis pada 1931, lalu dikembangkan lewat eksperimen selama bertahun-tahun.
Operasi sukses pada tahun 1953 menjadi tonggak penting, tetapi teknologi ini masih berisiko dan perlu disempurnakan sebelum bisa digunakan lebih luas.
Dulu kala, sebelum dokter mampu memperbaiki bagian dalam jantung, mereka menghadapi persoalan mendasar mengenai bagaimana menjaga darah tetap mengalir dan membawa oksigen jika jantung harus dihentikan sementara. Mesin jantung-paru hadir untuk menjawab kebutuhan itu.
Namun, teknologi yang kini menjadi bagian dari operasi tertentu ini lahir dari eksperimen panjang, rentetan kegagalan, dan kerja banyak orang.
Table of Content
Sebuah pertanyaan yang muncul pada tahun 1931
Pada tahun 1931, John H. Gibbon, seorang dokter bedah muda di Massachusetts General Hospital, Amerika Serikat, menyaksikan seorang pasien meninggal akibat emboli paru, yaitu kondisi sumbatan pembuluh darah di paru-paru. Gibbon kemudian memikirkan apakah mungkin darah dialirkan keluar tubuh, diberi oksigen, lalu dipompa kembali sambil dokter menangani masalah di dalam tubuh pasien.
Pada waktu itu, gagasan tersebut sulit diwujudkan. Bagaimana bisa darah harus terus bergerak dan mendapat oksigen di luar tubuh tanpa rusak atau membeku. Alatnya juga harus mampu mengembalikan darah ke pasien dengan aliran yang cukup. Itu berarti mesin tersebut perlu mengambil alih dua tugas sekaligus, yaitu memompa darah seperti jantung dan melakukan pertukaran gas seperti paru-paru.
Gibbon tentu tidak menyelesaikan persoalan tersebut dalam waktu singkat. Salah satu catatan arsip National Library of Medicine menuliskan bahwa pada tahun 1935, sebuah prototipe mampu menopang seekor kucing selama 26 menit. Penelitian lalu terhenti selama Perang Dunia II.
Setelah perang, Gibbon melanjutkan pekerjaannya bersama tim dan insinyur IBM. Eksperimen berikutnya memakai mesin yang lebih baik untuk menopang anjing dalam waktu lebih lama.
Riwayat mesin ini bukan kisah satu penemuan yang mulus. Pompa, alat pertukaran oksigen, dan cara mengendalikan aliran darah berkembang melalui sumbangan banyak peneliti, dokter, dan insinyur.
6 Mei 1953, sebuah operasi yang membuka jalan

ilustrasi mesin bypass jantung-paru (nhlbi.nih.gov) Tonggak penting itu datang pada 6 Mei 1953.
Gibbon menggunakan mesin jantung-paru untuk mengoperasi seorang pasien bernama Cecelia Bavolek, perempuan berusia 18 tahun dengan defek septum atrium, yaitu kondisi lubang pada sekat yang memisahkan dua ruang atas jantung. Dengan aliran darah dan oksigen tetap terjaga oleh mesin, dokter dapat memperbaiki kelainan tersebut. Ini tercatat sebagai operasi jantung terbuka pertama yang berhasil dengan bantuan mesin jantung-paru.
Bavolek berada di mesin selama sekitar 45 menit. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa sirkulasi tubuh dapat dipertahankan ketika dokter bekerja langsung pada jantung. Namun, operasi tersebut bukan akhir dari rangkaian tantangan. Sejarah awal prosedur ini juga mencatat komplikasi teknis yang hampir berujung fatal dan menuntut tindakan cepat dari tim medis di ruang operasi.
Bavolek menjadi satu-satunya pasien yang selamat dari empat operasi manusia pertama Gibbon. Tiga pasien lainnya tutup usia. Setelah rangkaian itu, Gibbon menghentikan operasinya. Catatan sejarah menyebutkan bahwa mesin tersebut masih berada pada tahap awal, bahwa keberhasilan pertama membuka jalan baru, meski keselamatan dan keandalannya belum terjamin.
Dari keberhasilan pertama menuju penggunaan lebih luas
Pada tahun 1955, tim dokter di Mayo Clinic yang dipimpin John Kirklin mengembangkan dan memodifikasi mesin Gibbon. Pada 22 Maret tahun itu, Kirklin menggunakannya dalam operasi jantung terbuka terhadap Linda Stout, seorang pasien yang usianya baru 5 tahun.
Pengalaman tim Mayo Clinic membantu menunjukkan bahwa operasi dengan bantuan mesin jantung-paru dapat dilakukan dalam rangkaian kasus yang lebih konsisten.
Progres tersebut tidak menghapus risiko, tetapi membantu mengubah mesin jantung-paru dari eksperimen yang rapuh menjadi teknologi yang bisa terus dikembangkan. Sejumlah tim lain juga berkontribusi pada kemajuan sirkulasi di luar tubuh. Karena itu, sejarahnya ini merupakan torehan kerja berkelanjutan dalam bidang kedokteran dan rekayasa.
Bagaimana mesin jantung-paru bekerja?
Dalam prosedur yang memakai mesin jantung-paru, darah dialirkan dari tubuh pasien melalui selang menuju rangkaian di luar tubuh. Mesin kemudian mendorong darah melewati alat yang menambahkan oksigen dan membuang karbon dioksida, sebelum darah dialirkan kembali ke tubuh. Dengan cara itu, mesin mengambil alih sementara fungsi utama jantung dan paru-paru.
Pada banyak operasi, dokter juga memberikan larutan khusus untuk menghentikan detak jantung sementara, agar dapat bekerja pada bagian yang perlu diperbaiki, dan sementara itu mesin menjaga sirkulasi darah. Sepanjang prosedur dilakukan, tim medis memantau aliran dan kondisi pasien. Setelah perbaikan selesai, dokter secara bertahap mengembalikan kerja jantung dan paru-paru, lalu mengurangi bantuan mesin.
Proses ini melibatkan banyak tenaga ahli, termasuk dokter bedah, dokter anestesi, dan perfusionis—tenaga profesional yang mengoperasikan serta memantau mesin sirkulasi. Mesin memberi waktu dan ruang bagi dokter untuk menangani jantung, tetapi keselamatan pasien juga bergantung pada koordinasi tim dan pemantauan tanpa henti.
Tidak semua operasi jantung membutuhkan mesin jantung-paru atau penghentian detak jantung. Penggunaannya bergantung pada jenis operasi dan kondisi pasien. Namun, ketika mesin itu diperlukan, fungsinya tidak berubah, yaitu menjaga darah terus beredar dan membawa oksigen selama dokter melakukan tindakan.
Dari pertanyaan Gibbon setelah kehilangan seorang pasien pada tahun 1931 hingga operasi Bavolek pada 1953, perjalanan mesin jantung-paru menunjukkan bagaimana kebutuhan klinis dapat mendorong eksperimen panjang. Tetap saja mesin tersebut tidak dapat menggantikan jantung dan paru-paru secara permanen. Namun, mengambil alih tugas keduanya untuk sementara sehingga operasi tertentu bisa dilakukan dapat menyelamatkan banyak nyawa.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















