Willem J. Kolff and Belding H. Scribner, “The Development of Renal Hemodialysis,” Nature Medicine 8, no. 10 (2002): 1063–65, https://doi.org/10.1038/nm771.
Rijksmuseum Boerhaave, “Kolff’s Artificial Kidney,” diakses September 2026.
Faeq Husain-Syed, Ulrike Enke, Friedrich Lübbecke, and Horst-Walter Birk, “Celebrating 100 Years of Hemodialysis and the Legacy of Georg Haas,” Kidney International Reports 10, no. 3 (2025): 964–65, https://doi.org/10.1016/j.ekir.2025.01.003.
Zbylut J. Twardowski, “History of Hemodialyzers’ Designs,” Hemodialysis International 12, no. 2 (2008): 173–210, https://doi.org/10.1111/j.1542-4758.2008.00253.x.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Hemodialysis,” last reviewed January 2018, diakses September 2026.
Mesin Dialisis Pertama Dibuat dari Selubung Sosis? Ini Ceritanya

Pada 1939, Willem J. Kolff terdorong menciptakan alat pembersih darah setelah merawat pasien uremia yang meninggal akibat ginjal gagal membuang zat sisa.
Di Belanda yang diduduki Jerman, Kolff dan Hendrik Berk membuat ginjal buatan drum berputar memakai tabung selofan pembungkus sosis sebagai membran semipermeabel.
Meski Georg Haas lebih dulu melakukan hemodialisis manusia, tetapi alat Kolff menjadi efektif secara klinis dan menyelamatkan Maria Schafstaat pada 1945; prinsipnya bertahan dalam dialisis modern.
Pada tahun 1939, dokter muda Willem J. Kolff merawat seorang laki-laki berusia 22 tahun yang perlahan meninggal akibat uremia. Kondisi ini terjadi ketika ginjal tidak mampu membuang zat sisa sehingga berbagai senyawa berbahaya menumpuk di dalam darah.
Kolff memperkirakan pasien itu mungkin dapat bertahan apabila sebagian urea bisa dikeluarkan dari tubuhnya setiap hari. Kematian tersebut kemudian mendorongnya mencari cara untuk membersihkan darah menggunakan alat di luar tubuh.
Pencariannya membawanya pada benda yang ketika itu lebih dekat dengan industri makanan daripada ruang perawatan, yaitu selubung sosis buatan.
Table of Content
Bukan kulit sosis hewani, ya!
Kolff tidak menggunakan kulit sosis alami atau selubung bekas makanan. Bahan yang dipakainya adalah tabung selofan yang saat itu diproduksi sebagai pembungkus sosis buatan.
Selofan bersifat semipermeabel, yang artinya molekul kecil seperti urea dapat melewatinya, sedangkan komponen darah yang lebih besar tetap tertahan.
Dalam percobaan sederhana, Kolff memasukkan darah yang telah ditambahkan urea ke dalam tabung selofan, lalu menggoyangkannya di dalam larutan garam. Dalam 5 menit, hampir seluruh urea tambahan tersebut telah berpindah ke larutan di luar tabung.
Prinsipnya menyerupai perpindahan zat dari tempat yang konsentrasinya tinggi menuju tempat dengan konsentrasi lebih rendah. Darah berada di satu sisi membran, sedangkan cairan dialisis berada di sisi lainnya.
Selofan dililitkan pada drum yang berputar
Di tengah pendudukan Jerman atas Belanda, Kolff melanjutkan penelitiannya di sebuah rumah sakit di Kampen. Bersama teknisi Hendrik Berk, ia mengembangkan alat yang kemudian dikenal sebagai rotating-drum artificial kidney atau ginjal buatan dengan drum berputar.
Tabung selofan berisi darah dililitkan mengelilingi drum besar. Bagian bawah drum terendam dalam tangki berisi cairan dialisis. Ketika drum berputar, darah mengalir dengan bantuan gravitasi dan zat sisa berpindah melewati selofan menuju cairan di dalam tangki.
Rijksmuseum Boerhaave mencatat bahwa alat tersebut dirakit dari berbagai bahan yang tersedia, antara lain bilah kayu, rantai sepeda, selang karet, motor mesin jahit, komponen pendingin mobil Ford Model T, dan tangki dari pabrik enamel. Selubung sosis merupakan membran penyaringnya.
Bukan dialisis manusia yang pertama

Replika ginjal buatan pertama karya Georg Haas yang dibuat dan digunakan untuk dialisis pada manusia pada tahun 1924. (de.wikipedia.org/Superikonoskop) Penyebutan alat Kolff sebagai “mesin dialisis pertama” perlu sedikit diluruskan. Dokter Jerman Georg Haas telah melakukan hemodialisis pertama pada manusia pada tahun 1924. Namun, perawatan tersebut masih terbatas dan belum berhasil menyelamatkan pasien.
Kontribusi Kolff adalah mengembangkan ginjal buatan pertama yang dinilai efektif secara klinis. Alat buatannya memiliki permukaan membran yang lebih luas sehingga mampu membersihkan lebih banyak darah.
Tinjauan mengenai sejarah dialyzer menyebut perkembangan membran, pencegahan pembekuan darah, dan perluasan area penyaringan sebagai bagian penting yang akhirnya membuat hemodialisis dapat diterapkan sebagai terapi.
Keberhasilan datang setelah banyak kehilangan
Pasien pertama menjalani perawatan dengan alat Kolff pada 1943. Ia adalah perempuan berusia 28 tahun dengan gagal ginjal kronis.
Dialisis menurunkan kadar urea dan membuatnya kembali cukup sadar untuk membaca koran. Namun, setelah menjalani beberapa kali prosedur, akses ke pembuluh darahnya tidak dapat dipertahankan dan ia meninggal.
Keberhasilan yang jelas baru datang pada 11 September 1945. Pasien ke-17, Maria Schafstaat, merupakan perempuan berusia 67 tahun yang mengalami koma akibat sindrom hepatorenal—gangguan ginjal yang berkaitan dengan penyakit hati. Setelah darahnya dibersihkan menggunakan alat tersebut, ia sadar kembali dan tercatat sebagai pasien pertama yang nyawanya diselamatkan melalui dialisis.
Tak ada lagi selubung sosis, tetapi prinsipnya bertahan
Mesin modern tidak lagi menggunakan selofan pembungkus sosis. Darah kini dialirkan melalui dialyzer yang berisi ribuan serat berongga berukuran sangat kecil. Cairan dialisis mengalir di luar serat tersebut, sementara zat sisa, kelebihan garam, dan air berpindah keluar dari darah. Darah yang telah disaring kemudian dikembalikan ke tubuh.
Hemodialisis dapat menggantikan sebagian fungsi penyaringan ginjal, membantu mengendalikan tekanan darah, serta menjaga keseimbangan mineral. Namun, prosedur ini bukan obat yang menyembuhkan gagal ginjal.
Pada akhirnya, selofan pembungkus sosis menjadi bagian penting dari ginjal buatan pertama yang efektif secara klinis—teknologi yang kemudian berkembang menjadi mesin dialisis modern.
Referensi












![[QUIZ] Dari Jadwal Gym Kamu, Cek Kamu Overtraining atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)





