Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Semmelweis, Dokter yang Buktikan Cuci Tangan Selamatkan Ibu

4 min read
Semmelweis, Dokter yang Buktikan Cuci Tangan Selamatkan Ibu
ilustrasi Ignaz Semmelweis (commons.wikimedia.org/Jenő Doby)
  • Ignaz Semmelweis menemukan angka kematian ibu jauh lebih tinggi di klinik yang ditangani dokter dan mahasiswa kedokteran.

  • Setelah petugas diwajibkan mencuci tangan dengan larutan kapur berklorin, kematian akibat demam nifas turun drastis.

  • Penemuannya sempat ditolak, tetapi kini kebersihan tangan menjadi bagian penting dari keselamatan pasien.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada pertengahan abad ke-19, melahirkan di rumah sakit belum tentu lebih aman. Di salah satu rumah sakit bersalin terbesar saat itu, banyak ibu meninggal beberapa hari setelah melahirkan akibat demam nifas, yaitu infeksi serius yang dapat menyebabkan demam tinggi dan kerusakan organ.

Di Wina, Austria, dokter asal Hungaria bernama Ignaz Philipp Semmelweis melihat kejanggalan yang mencolok. Ia menemukan bahwa angka kematian ibu di dua klinik bersalin dalam rumah sakit yang sama ternyata sangat berbeda.

  1. Angka kematian yang membuat Semmelweis curiga

    Vienna Maternity Hospital memiliki dua klinik. Klinik pertama digunakan untuk melatih dokter dan mahasiswa kedokteran, sedangkan klinik kedua menjadi tempat pelatihan bidan.

    Pada 1840–1846, angka kematian ibu di klinik pertama mencapai 98,4 per 1.000 kelahiran. Di klinik kedua, angkanya hanya 36,2 per 1.000 kelahiran. Hampir semua kematian tersebut berkaitan dengan demam nifas.

    Perbedaan ini tidak mudah dijelaskan. Kedua klinik berada di rumah sakit yang sama, menerima pasien pada hari yang bergantian, dan tidak secara khusus memilih pasien berdasarkan kondisi medis.

    Semmelweis kemudian memperhatikan kebiasaan para petugas. Hari kerja dokter dan mahasiswa kedokteran sering dimulai dengan melakukan autopsi terhadap jenazah ibu yang meninggal. Setelah itu, mereka langsung menuju ruang bersalin dan melakukan pemeriksaan tanpa mencuci tangan.

    Sementara itu, para bidan di klinik kedua tidak melakukan autopsi. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi petunjuk penting.

  2. Kematian seorang kolega memperkuat dugaannya

    Ilustrasi seseorang mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir sebagai bagian dari menjaga kebersihan tangan.
    ilustrasi cuci tangan (magnific.com/magnific)

    Pada 1847, seorang dokter bernama Jakob Kolletschka meninggal setelah tangannya terluka oleh pisau saat melakukan autopsi. Hasil pemeriksaan terhadap tubuh Kolletschka menunjukkan kerusakan yang mirip dengan kondisi para ibu yang meninggal akibat demam nifas.

    Semmelweis menduga ada materi dari jenazah yang terbawa di tangan dokter dan mahasiswa kedokteran, lalu masuk ke tubuh ibu melalui pemeriksaan persalinan. Saat itu, teori kuman belum diterima secara luas sehingga ia belum mampu menjelaskan mekanismenya dengan istilah mikroorganisme seperti yang digunakan sekarang. Namun, ia memiliki satu cara untuk menguji dugaannya.

  3. Larutan kapur berklorin mengubah angka kematian

    Pada Mei 1847, Semmelweis mewajibkan dokter dan mahasiswa kedokteran mencuci tangan dengan larutan kapur berklorin sebelum memasuki ruang bersalin. Larutan tersebut dipilih karena mampu menghilangkan bau dari jaringan yang membusuk, yang oleh Semmelweis dianggap sebagai tanda adanya materi berbahaya.

    Hasilnya, pada 1848, angka kematian di klinik pertama turun menjadi 12,7 per 1.000 kelahiran, hampir sama dengan klinik bidan yang mencatat 13,3 kematian per 1.000 kelahiran.

    Perubahan itu menjadi salah satu bukti awal bahwa tindakan sederhana sebelum menyentuh pasien dapat memutus penularan infeksi dan menyelamatkan nyawa.

  4. Penemuannya sempat ditolak

    Meski datanya kuat, tetapi gagasan Semmelweis tidak langsung diterima. Ia belum dapat menjelaskan keberadaan bakteri dan tidak memiliki teori ilmiah yang saat itu dianggap cukup untuk menerangkan hasil pengamatannya.

    Semmelweis juga terlambat menerbitkan penjelasan lengkap tentang temuannya. Praktik antisepsis baru diterapkan lebih luas di bidang kebidanan pada 1880-an, setelah penelitian Louis Pasteur tentang kuman dan metode antisepsis Joseph Lister lebih dikenal.

    Jadi, walaupun pada waktu Semmelweis belum mengetahui nama mikroorganisme yang berpindah dari tangan ke tubuh pasien, tetapi ia menemukan cara untuk menghentikan perpindahan tersebut.

  5. Warisannya masih terasa di ruang bersalin

    Ilustrasi tenaga medis membantu proses persalinan seorang ibu di ruang bersalin rumah sakit dengan perlengkapan medis.
    ilustrasi tim medis sedang membantu persalinan di rumah sakit (magnific.com/DC Studio)

    Lebih dari 170 tahun kemudian, kebersihan tangan tetap menjadi bagian penting dari keselamatan pasien. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sebagian besar infeksi yang didapat selama perawatan di fasilitas kesehatan dapat dicegah melalui kebersihan tangan pada waktu yang tepat. Program peningkatan kebersihan tangan bahkan diperkirakan dapat mencegah hingga 50 persen infeksi yang sebenarnya bisa dihindari.

    Penelitian di bangsal bersalin Zanzibar juga menunjukkan bahwa kebersihan tangan yang buruk masih menjadi salah satu persoalan pencegahan infeksi pada ibu dan bayi. Ketersediaan wastafel, sabun, cairan pembersih tangan, sarung tangan, dan fasilitas yang mudah dijangkau ikut menentukan apakah petugas dapat menjalankan prosedur tersebut secara konsisten.

    Semmelweis memang menggunakan larutan kapur berklorin dalam konteks medis pada zamannya. Praktik modern mengikuti pedoman keselamatan dengan sabun dan air atau cairan pembersih tangan berbasis alkohol sesuai kondisi. Yang bertahan dari penemuannya adalah prinsipnya, bahwa tangan petugas kesehatan harus dibersihkan sebelum menyentuh pasien.

    Referensi

    Irvine Loudon, “Ignaz Phillip Semmelweis’ Studies of Death in Childbirth,” Journal of the Royal Society of Medicine 106, no. 11 (2013): 461–463, https://doi.org/10.1177/0141076813507844.

    Sheuli Paul, Shradha Salunkhe, Kasireddy Sravanthi, and Shailaja V. Mane, “Pioneering Hand Hygiene: Ignaz Semmelweis and the Fight Against Puerperal Fever,” Cureus 16, no. 10 (2024): e71689, https://doi.org/10.7759/cureus.71689.

    World Health Organization, “Hand Hygiene,” diakses September 2026.

    Mícheál de Barra et al., “Understanding Infection Prevention Behaviour in Maternity Wards: A Mixed-Methods Analysis of Hand Hygiene in Zanzibar,” Social Science & Medicine 272 (2021): 113543, https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2020.113543.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More