Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sebelum Ada Termometer, Bagaimana Dokter Mengenali Demam?

4 min read
Sebelum Ada Termometer, Bagaimana Dokter Mengenali Demam?
Ilustrasi termometer telinga inframerah (unsplash.com/Kelly Sikkema)
  • Sebelum termometer digunakan secara luas, demam dinilai melalui kulit yang terasa panas, menggigil, keringat, dan perubahan kondisi tubuh.

  • Denyut nadi menjadi petunjuk penting, terutama sejak abad ke-17.

  • Termometer membuat penilaian demam lebih objektif dan memungkinkan dokter memantau perubahan suhu dari waktu ke waktu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jauh sebelum ada termometer digital, dokter sudah mengenali demam dari perubahan tubuh pasien. Namun, mereka belum bisa memastikan seberapa tinggi suhu tubuh atau membandingkannya secara akurat dari satu pasien ke pasien lain.

Pada masa itu, demam dinilai sebagai kumpulan tanda. Dokter memperhatikan kulit yang terasa panas, wajah yang memerah, menggigil, keringat, perubahan kesadaran, serta keluhan pasien. Pada zaman Hippocrates, tangan digunakan untuk menilai apakah tubuh terasa lebih panas atau dingin.

  1. 1. Tangan menjadi alat pertama

    Sentuhan tangan merupakan cara paling sederhana untuk mendeteksi peningkatan panas tubuh. Dokter atau perawat dapat membandingkan dahi, dada, atau anggota tubuh pasien dengan bagian tubuh orang sehat.

    Metode ini bisa memberi petunjuk bahwa seseorang sedang tidak sehat. Selain itu, hasilnya dapat dipengaruhi suhu ruangan, selimut, keringat, aktivitas fisik, dan suhu tangan pemeriksa.

    Dengan kata lain, pada masa lalu, dokter dapat menyimpulkan bahwa tubuh pasien terasa panas, tetapi tidak bisa menyatakan dalam angka.

  2. 2. Denyut nadi menjadi termometer alami

    Seiring berkembangnya pengamatan klinis, denyut nadi menjadi petunjuk penting. Sejarawan kedokteran J. Worth Estes mencatat bahwa pada abad ke-17, denyut nadi yang cepat menjadi kriteria paling umum untuk mengenali demam.

    Dokter mengamati frekuensi dan kekuatan denyut nadi, lalu menghubungkannya dengan kondisi lain seperti rasa panas, menggigil, dan perubahan keadaan pasien. Pernapasan serta perjalanan penyakit juga menjadi bagian dari pengamatan klinis.

    Namun, denyut nadi cepat tidak selalu menandakan demam. Nyeri, ketakutan, aktivitas fisik, dehidrasi, dan gangguan kesehatan lain juga dapat mempercepat denyut jantung. Karena itu, penilaian berdasarkan nadi tetap memiliki keterbatasan.

  3. 3. Termometer muncul, tetapi belum langsung praktis

    Ilustrasi tangan seorang praktisi memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan pasien dalam pemeriksaan kesehatan.
    ilustrasi mengecek denyut nadi (pixabay.com/kian2018)

    Alat untuk mengukur perubahan suhu mulai berkembang pada akhir abad ke-16. Galileo Galilei membuat alat awal yang disebut termoskop sekitar 1592. Alat ini dapat menunjukkan perubahan suhu, tetapi skala angkanya belum seragam.

    Pada awal abad ke-17, dokter Italia Santorio Santorio mengembangkan alat yang dapat digunakan untuk mengukur suhu tubuh melalui mulut. Ia juga menambahkan skala pada alat sejenis termoskop sehingga perubahan suhu dapat dicatat secara lebih terukur.

    Meski menjadi langkah penting, tetapi alat tersebut berukuran besar, sulit digunakan, dan butuh waktu lama untuk menghasilkan pembacaan.

  4. 4. Carl Wunderlich mengubah cara demam dipahami

    Perkembangan besar dalam pengukuran suhu tubuh terjadi pada abad ke-19 melalui karya dokter Jerman, Carl Reinhold August Wunderlich. Pada 1868, ia menerbitkan penelitian tentang suhu tubuh pada berbagai penyakit.

    Wunderlich mengumpulkan banyak data suhu dan memperkenalkan pencatatan suhu secara berkala untuk melihat pola penyakit. Dari sinilah muncul penggunaan kurva demam, yaitu catatan perubahan suhu pasien dari waktu ke waktu.

    Sejak itu, termometri tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah seseorang demam. Pola perubahan suhu juga membantu dokter menilai perkembangan penyakit dan respons pasien terhadap pengobatan.

  5. 5. Apa yang berubah setelah ada termometer?

    Sebelum termometer digunakan, penilaian demam sangat bergantung pada pengalaman dan kepekaan pemeriksa. Setelah termometer digunakan secara luas, suhu tubuh dapat diukur dengan angka, dicatat, dan dibandingkan dari waktu ke waktu.

    Perubahan ini membuat penilaian demam menjadi lebih objektif. Dokter dapat mengetahui apakah suhu sedang meningkat, tetap tinggi, atau mulai menurun. Namun, suhu tubuh tetap perlu dinilai bersama kondisi pasien karena tingkat keparahan penyakit tidak ditentukan oleh suhu saja.

    Perkembangan termometer menunjukkan perubahan dalam praktik medis, dari mengandalkan pengamatan indera menjadi menggunakan pengukuran yang lebih terstandar. Jika sebelumnya tubuh yang terasa panas hanya dinilai melalui sentuhan, termometer memungkinkan kondisi tersebut diukur dan dipantau secara lebih objektif.

    Referensi

    J. M. S. Pearce, “A Brief History of the Clinical Thermometer,” QJM: An International Journal of Medicine 95, no. 4 (2002): 251–252, https://doi.org/10.1093/qjmed/95.4.251.

    J. Worth Estes, “Quantitative Observations of Fever and Its Treatment before the Advent of Short Clinical Thermometers,” Medical History 35, no. 2 (1991): 189–216, https://doi.org/10.1017/S0025727300053485.

    Fabrizio Bigotti, “The Weight of the Air: Santorio’s Thermometers and the Early History of Medical Quantification Reconsidered,” Journal of Early Modern Studies 7, no. 1 (2018): 73–103, https://doi.org/10.13128/JEMS-22795.

    Philip A. Mackowiak and Gretchen Worden, “Carl Reinhold August Wunderlich and the Evolution of Clinical Thermometry,” Clinical Infectious Diseases 18, no. 3 (1994): 458–467, https://doi.org/10.1093/clinids/18.3.458.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More