ilustrasi ibu hamil (IDN Times/Novaya Siantita)
Asap kebakaran hutan mengandung partikel halus dan berbagai zat berbahaya. Saat vegetasi dan bangunan terbakar, logam berat serta polutan toksik dilepaskan ke udara dan dapat terhirup. Partikel-partikel ini, bahkan tanpa sifat racun sekalipun, dapat memicu peradangan dan stres biologis dalam tubuh.
Trimester ketiga kehamilan adalah periode ketika otak janin berkembang sangat cepat. Gangguan pada fase ini—termasuk akibat paparan polusi udara—diduga dapat memengaruhi jalur perkembangan saraf. Temuan ini sejalan dengan studi Harvard University tahun 2021 yang juga menemukan peningkatan risiko autisme pada anak yang terpapar polusi udara pada akhir masa kehamilan.
Dalam studi ini, ibu dari anak dengan diagnosis autisme cenderung berusia lebih tua, lebih sering mengalami kehamilan pertama, serta memiliki prevalensi diabetes dan obesitas sebelum hamil yang lebih tinggi. Selain itu, diagnosis autisme ditemukan empat kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Para peneliti menegaskan bahwa riset lanjutan masih sangat dibutuhkan untuk memahami bagaimana paparan asap kebakaran hutan berinteraksi dengan faktor biologis, genetik, dan lingkungan lainnya. Di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran hutan akibat perubahan iklim, pemahaman ini menjadi krusial untuk merancang kebijakan pencegahan yang lebih baik—terutama demi melindungi ibu hamil dan generasi yang akan lahir.
Referensi
"Prenatal wildfire smoke exposure linked to higher autism risk in children." News Medical Life Sciences. Diakses Januari 2026.
David G. Luglio et al., “Prenatal Exposure to Wildfire and Autism in Children,” Environmental Science & Technology, January 20, 2026, https://doi.org/10.1021/acs.est.5c08256.