“Anemia pada remaja, jika tidak diantisipasi, akan berlanjut menjadi anemia pada ibu hamil dan meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk perdarahan yang dapat berujung pada kematian ibu,” katanya dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Jakarta, pada Kamis (08/01/2026).
Anemia Tak Tertangani Sejak Remaja Berujung Komplikasi Fatal Ibu Hamil

- Anemia pada remaja dapat berujung pada risiko komplikasi fatal ibu hamil, termasuk perdarahan yang dapat berujung pada kematian ibu.
- Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, disebabkan oleh anemia yang tidak tertangani sejak dini dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.
- Bidan memegang peran kunci dalam pendampingan keluarga untuk mendeteksi dini anemia dan masalah gizi sebelum kehamilan terjadi, karena anemia pada remaja dapat mengancam kualitas generasi masa depan.
Anemia kerap dianggap sebagai masalah kesehatan ringan yang bisa diselesaikan dengan suplemen saat kehamilan. Namun, pandangan ini justru menutup akar persoalan yang lebih dalam.
Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM, menegaskan bahwa tingginya angka kematian ibu di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari anemia yang sudah terjadi sejak masa remaja.
Data AKI dan target yang terlampau jauh
Data menunjukkan bahwa persoalan kematian ibu di Indonesia masih jauh dari kata selesai. Saat ini, AKI tercatat berada di kisaran 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup, sementara target nasional masih terpaut jauh.
Kondisi ini menandakan berbagai upaya yang dilakukan belum sepenuhnya menyentuh akar masalah kesehatan reproduksi perempuan. Dokter Ade menjelaskan bahwa salah satu penyumbang utama tingginya AKI adalah anemia yang tidak tertangani sejak dini.
Ketika perempuan memasuki masa kehamilan dalam kondisi anemia, risiko komplikasi seperti perdarahan antepartum maupun postpartum meningkat secara signifikan, sehingga keselamatan ibu berada dalam posisi yang sangat rentan, terutama saat persalinan.
Terkait pendampingan ibu hamil

Dalam upaya memutus rantai anemia yang berujung pada risiko kehamilan, bidan memegang peran kunci sebagai garda terdepan layanan kesehatan reproduksi. Dokter Ade menekankan bahwa pendampingan tidak boleh dimulai saat perempuan sudah hamil, melainkan sejak masa remaja dan calon pengantin.
Melalui program pendampingan keluarga, bidan melakukan observasi kondisi kesehatan calon ibu, termasuk deteksi dini anemia dan masalah gizi, sebelum kehamilan terjadi.
“Kalau kita ingin kehamilan yang sehat, maka persiapannya harus dimulai jauh sebelum hamil. Calon pengantin perlu dipastikan bebas anemia agar risiko komplikasi kehamilan bisa ditekan,” ujar Dr. Ade.
Menurutnya, pendekatan preventif ini memungkinkan intervensi gizi dan kesehatan dilakukan lebih awal, sehingga kehamilan dapat berlangsung lebih aman bagi ibu maupun bayi.
Ancaman kualitas generasi masa depan
Anemia pada perempuan sejak remaja bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan ancaman serius bagi kualitas generasi masa depan. Kondisi yang tidak tertangani meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga gangguan tumbuh kembang yang berujung pada stunting.
Dokter Ade menegaskan, pencegahan anemia merupakan fondasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
“Stunting itu bukan terjadi tiba-tiba saat anak lahir, tetapi akumulasi masalah kesehatan ibu sejak remaja. Kalau ibunya anemia, dampaknya bisa panjang ke kualitas anak,” ujarnya.
Tanpa intervensi yang konsisten dan berkelanjutan, upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi berisiko gagal karena generasi yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan justru tumbuh dengan keterbatasan fisik dan kognitif sejak awal kehidupan.


















