Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Penyebab Mata Berkedip Berlebihan, Apa yang Salah?

6 Penyebab Mata Berkedip Berlebihan, Apa yang Salah?
ilustrasi mata berkedip berlebihan (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
  • Mata yang sering berkedip biasanya merupakan respons terhadap permukaan mata yang kering, gatal, atau teriritasi.

  • Pada anak, kedipan berulang juga dapat muncul sebagai tic yang umumnya bersifat sementara, tetapi gangguan penglihatan tetap perlu disingkirkan.

  • Periksakan mata jika kedipan berlangsung beberapa minggu, membuat mata menutup paksa, disertai nyeri atau gangguan penglihatan, maupun menjalar ke satu sisi wajah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap kedipan membantu meratakan air mata, membersihkan partikel kecil, dan menjaga permukaan mata tetap nyaman. Ketika mata terasa kering, gatal, silau, atau seperti kemasukan sesuatu, mata secara refleks akan berkedip lebih sering.

Karena itu, mata berkedip berlebihan tidak selalu menandakan gangguan saraf. Sebagian besar kasus, terutama pada anak, disebabkan oleh kondisi yang ringan atau dapat membaik setelah pemicunya diatasi. Namun, pola kedipan yang berubah atau baru muncul, terus berlangsung, atau disertai gejala lain perlu diperiksa oleh dokter.

1. Mata kering dan iritasi permukaan mata

Mata kering terjadi ketika produksi air mata kurang atau air mata terlalu cepat menguap. Permukaan mata kemudian terasa perih, berpasir, terbakar, merah, sensitif terhadap cahaya, atau sesekali buram. Berkedip lebih sering menjadi usaha tubuh untuk kembali meratakan lapisan air mata.

Keluhan ini dapat dipicu atau diperburuk oleh penggunaan lensa kontak, asap, angin, pendingin ruangan, kurang tidur, dan terlalu lama menatap layar. Saat bekerja di depan komputer, kedipan juga cenderung menjadi kurang sempurna. Permukaan mata dapat mengering, lalu muncul dorongan untuk berkedip atau mengucek mata.

Kamu disarankan untuk mengistirahatkan mata secara berkala dari layar, letakkan layar sedikit di bawah garis pandang, hindari embusan AC langsung, dan ingat untuk berkedip penuh. Jika keluhan berulang, dokter mata dapat menilai produksi dan kestabilan air mata sebelum menentukan obat tetes yang sesuai.

2. Alergi, konjungtivitis, atau radang kelopak mata

Alergi mata dapat menimbulkan rasa gatal, berair, merah, dan bengkak. Konjungtivitis akibat virus atau bakteri juga dapat menyebabkan sensasi terbakar, kotoran mata, serta perasaan seperti ada yang mengganjal. Ketidaknyamanan ini pada akhirnya memicu orang untuk terus berkedip.

Penyebab lain adalah blefaritis atau peradangan pada tepi kelopak mata. Kelopak dapat terasa gatal dan perih, sedangkan pangkal bulu mata tampak berminyak, bersisik, atau berkerak. Gangguan pada kelenjar minyak kelopak juga dapat membuat air mata lebih cepat menguap sehingga mata makin mudah teriritasi.

Hindari mengucek mata dan hentikan sementara penggunaan riasan atau lensa kontak bila mata merah dan iritasi. Jangan menggunakan antibiotik atau obat tetes yang mengandung steroid tanpa pemeriksaan karena pengobatan harus disesuaikan dengan penyebabnya.

3. Debu, bulu mata, atau luka pada kornea

Close-up mata dengan bulu mata panjang dan lentik, menyoroti detail iris berwarna cokelat dan kulit di sekitarnya.
ilustrasi bulu mata (pixabay.com/PublicDomainPictures)

Partikel kecil, bulu mata yang mengarah ke dalam, atau goresan pada kornea dapat memicu kedipan berulang, air mata berlebihan, dan rasa mengganjal. Keluhan ini biasanya lebih terasa pada salah satu mata dan dapat disertai nyeri atau sensitif terhadap cahaya.

Jika terasa ada partikel kecil, kedipkan mata beberapa kali dan bilas dengan air bersih mengalir atau larutan saline. Jangan mengucek mata karena dapat menggores kornea. Benda yang menancap atau tidak bisa dikeluarkan perlu ditangani dokter.

Segera cari pertolongan apabila mata terkena bahan kimia, cedera, nyerinya berat, sangat merah, atau perubahan penglihatan.

4. Gangguan refraksi atau posisi mata

Rabun jauh, rabun dekat, astigmatisme, dan masalah koordinasi kedua mata dapat membuat seseorang bekerja lebih keras untuk melihat dengan jelas.

Pada anak, keluhannya belum tentu disampaikan sebagai penglihatan buram. Anak mungkin lebih sering berkedip, menyipitkan mata, memiringkan kepala, mendekatkan wajah ke layar, atau mengeluhkan sakit kepala.

Penelitian prospektif terhadap 99 anak dengan kedipan berlebihan menemukan beragam penyebab, termasuk masalah pada permukaan atau kelopak mata, gangguan refraksi, strabismus, tic, dan kebiasaan. Mayoritas kasus bersifat ringan atau dapat membaik, tetapi pemeriksaan mata tetap diperlukan untuk menemukan penyebabnya.

Jadwalkan pemeriksaan jika kedipan sering muncul saat membaca, menonton, atau melihat benda jauh. Anak juga perlu diperiksa oleh dokter jika salah satu mata tampak bergeser, sering menyipit, atau kemampuan membacanya menurun.

5. Tic, stres, dan kelelahan

Kedipan berulang bisa merupakan tic motorik, yaitu gerakan cepat dan berulang yang sulit dikendalikan sepenuhnya.

Tic lebih sering dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat meningkat ketika anak lelah, cemas, bersemangat, atau mendapat tekanan. Kedipan dapat muncul bersama gerakan lain, seperti mengerutkan hidung, mengangkat bahu, atau berdeham.

Tidak semua tic berarti sindrom Tourette. Jenis gangguan tic ditentukan berdasarkan bentuk gerakan atau suara dan durasinya. Dalam sebuah penelitian terhadap anak yang datang dengan keluhan sering berkedip, sebagian besar yang didiagnosis mengalami tic memiliki gangguan tic sementara.

Orang tua sebaiknya tidak terus menegur atau meminta anak menghentikan kedipan karena itu dapat menambah stres. Catat kapan gejala muncul dan rekam video singkat untuk diperlihatkan kepada dokter. Konsultasi diperlukan jika tic berlangsung lama, mengganggu sekolah atau pergaulan, menimbulkan cedera, atau disertai gerakan dan suara lain.

6. Blefarospasme atau spasme separuh wajah

Blefarospasme adalah gangguan gerak yang menyebabkan kedua kelopak berkedip atau menutup tanpa dapat dikendalikan. Kondisi ini biasanya dimulai dari kedutan ringan, kemudian dapat berkembang menjadi kedipan yang makin sering dan mata menutup secara paksa. Pada kasus berat, aktivitas membaca, berjalan, atau berkendara dapat terganggu.

Di sisi lain, hemifacial spasm biasanya hanya mengenai satu sisi wajah. Kedutan kerap dimulai di sekitar satu mata, kemudian dapat menjalar ke pipi atau sudut mulut pada sisi yang sama. Penyebab terseringnya adalah iritasi atau tekanan pembuluh darah pada saraf wajah, meskipun ada juga penyebab lain yang perlu dinilai oleh dokter.

Gangguan neurologis ini jauh lebih jarang dibandingkan mata kering, iritasi, atau tic. Namun, pemeriksaan diperlukan jika mata menutup paksa, kedutan hanya terjadi pada satu sisi, atau bagian wajah lain ikut bergerak.

Kapan perlu menemui dokter?

Dokter mata perempuan menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien pria di ruang periksa dengan alat optometri di belakang mereka.
ilustrasi dokter mata menjelaskan pada pasien (pexels.com/Antoni Shkraba)

Coba amati apakah kedipan berkaitan dengan layar, kurang tidur, kafein, lensa kontak, paparan debu, atau mata yang terasa gatal dan kering. Mengurangi pemicu selama beberapa hari dapat membantu pada keluhan ringan.

Temui dokter mata apabila:

  • Kedipan tidak membaik selama beberapa minggu.
  • Mata terasa nyeri, sangat merah, silau, atau terjadi perubahan pada penglihatan.
  • Kotoran mata banyak atau benda terasa tetap tersangkut.
  • Kelopak menutup sepenuhnya tanpa dapat dikendalikan.
  • Kedutan menjalar ke pipi atau mulut.
  • Anak juga menyipitkan mata, melihat terlalu dekat, atau posisi kedua matanya tidak sejajar.

Kedipan berlebihan paling sering merupakan cara mata merespons rasa tidak nyaman. Meski begitu, penyebabnya tidak dapat ditentukan hanya dari seberapa sering seseorang berkedip. Pola gejala, kondisi permukaan mata, ketajaman penglihatan, serta adanya gerakan pada wajah juga perlu dinilai.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Diagnosing Tic Disorders.” Diakses Juli 2026.

Chopade, Tripti R., Forshing Lui, dan Pradeep C. Bollu. “Hemifacial Spasm.” StatPearls. Diakses Juli 2026.

Coats, David K., Edward G. Paysse, Mary Ann Kim, dan Evelyn M. Simons. “Excessive Blinking in Childhood: A Prospective Evaluation of 99 Children.” Ophthalmology 108, no. 9 (2001): 1556–61. https://doi.org/10.1016/S0161-6420(01)00644-3.

Eberhardt, Markus, et al. “Blepharitis.” StatPearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459305/.

Jung, H. Y., et al. “Tic Disorders in Children with Frequent Eye Blinking.” Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry 15, no. 1 (2004): 75–81. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15088052/.

National Eye Institute (NEI). “Blepharospasm.” Diakses Juli 2026.

NEI. “Corneal Conditions.” Diakses Juli 2026.

NEI. “Dry Eye.” Diakses Juli 2026.

NEI. “Pink Eye.” Diakses Juli 2026.

Portello, Jennifer K., Mark Rosenfield, Yonatan Bababekova, Jennifer M. Estrada, dan Andrea Leon. “Blink Rate, Incomplete Blinks and Computer Vision Syndrome.” Optometry and Vision Science 90, no. 5 (2013): 482–87. https://doi.org/10.1097/OPX.0b013e31828f09a7.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More