National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). “Preventing Chronic Kidney Disease.” Diakses Juli 2026.
D. Alan Nelson, Eric S. Marks, Patricia A. Deuster, Francis G. O’Connor, dan Lianne M. Kurina. “Association of Nonsteroidal Anti-inflammatory Drug Prescriptions With Kidney Disease Among Active Young and Middle-aged Adults.” JAMA Network Open 2, no. 2 (2019): e187896, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2018.7896.
NIDDK. “Keeping Kidneys Safe: Smart Choices about Medicines.” Diakses Juli 2026.
Craig L. Chapman, Blair D. Johnson, Matthew D. Parker, David Hostler, Riana R. Pryor, dan Zachary J. Schlader. “Kidney Physiology and Pathophysiology during Heat Stress and the Modification by Exercise, Dehydration, Heat Acclimation and Aging.” Temperature 8, no. 2 (2021): 108–59, https://doi.org/10.1080/23328940.2020.1826841.
Ewa Murawska-Ciałowicz et al., “Risk of Rhabdomyolysis and Kidney Injury after Intensive Exercise.” Journal of Human Kinetics 101, special issue (2026): 199–226, https://doi.org/10.5114/jhk/218100.
World Health Organization. “Sodium Reduction.” Diakses Juli 2026.
Ga Young Heo, Hee Byung Koh, Jung Tak Park, Seung Hyeok Han, Tae-Hyun Yoo, Shin-Wook Kang, dan Hyung Woo Kim. “Sweetened Beverage Intake and Incident Chronic Kidney Disease in the UK Biobank Study.” JAMA Network Open 7, no. 2 (2024): e2356885, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2023.56885.
Jia Xia, Lin Wang, Zhiheng Ma, Liping Zhong, Ying Wang, Yachan Gao, Liqun He, dan Xuefeng Su. “Cigarette Smoking and Chronic Kidney Disease in the General Population: A Systematic Review and Meta-analysis of Prospective Cohort Studies.” Nephrology Dialysis Transplantation 32, no. 3 (2017): 475–87, https://doi.org/10.1093/ndt/gfw452.
National Center for Complementary and Integrative Health. “10 Things to Know about Dietary Supplements for Children and Teens.” Diakses Juli 2026.
Masih Muda Bisa Gagal Ginjal karena 6 Kebiasaan Ini

Gagal ginjal biasanya bukan akibat satu kebiasaan yang dilakukan sesekali, melainkan cedera berat atau kerusakan yang berlangsung dan menumpuk.
Penggunaan obat antinyeri tertentu, dehidrasi, latihan ekstrem, merokok, serta pola makan yang memicu hipertensi dan diabetes dapat meningkatkan risiko.
Penyakit ginjal stadium awal sering tidak menimbulkan keluhan. Orang yang memiliki faktor risiko mungkin memerlukan pemeriksaan darah dan urine.
Banyak orang menganggap saat masih muda ginjal pasti sehat. Obat nyeri diminum setiap kali badan pegal atau sakit kepala, latihan berat tetap diteruskan meski belum pulih, sedangkan tekanan darah dan gula darah tidak pernah diperiksa karena merasa terlalu muda untuk sakit.
Sebagian kebiasaan tersebut memang tidak langsung menyebabkan gagal ginjal. Namun, itu dapat memicu cedera ginjal akut atau meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Jika kerusakan berlangsung berat atau terus berkembang, fungsi ginjal bisa menurun sampai seseorang memerlukan dialisis atau transplantasi.
Perlu diingat, tidak semua gagal ginjal pada usia muda disebabkan oleh gaya hidup. Ada juga pengaruh dari faktor keturunan dan penyakit tertentu. Tujuan mengenali kebiasaan di bawah ini adalah mencegah risiko yang masih bisa diubah.
Table of Content
1. Terlalu sering mengonsumsi obat antinyeri
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS atau NSAID), seperti ibuprofen, naproksen, dan diklofenak, dapat mengurangi aliran darah menuju ginjal. Risikonya meningkat jika obat digunakan terlalu sering, melebih dosis yang dianjurkan, dikombinasikan dengan OAINS lain, atau diminum ketika tubuh sedang dehidrasi.
Penelitian terhadap 764.228 tentara Amerika Serikat dengan usia rata-rata sekitar 29 tahun menemukan bahwa paparan OAINS dosis lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko cedera ginjal akut dan penyakit ginjal kronis. Peningkatan risiko individualnya tergolong kecil, tetapi hasil tersebut menunjukkan bahwa usia muda bukan berarti ginjal kebal.
Gunakan obat sesuai dosis dan durasi pada label atau resep. Jangan menggabungkan beberapa obat nyeri tanpa memeriksa kandungannya. Berkonsultasilah jika nyeri membuatmu perlu minum obat berulang kali, terutama jika sedang muntah, diare, demam, atau kekurangan cairan.
2. Membiarkan tubuh berulang kali mengalami dehidrasi
Kehilangan cairan berat menurunkan volume darah dan aliran darah ke ginjal. Kondisi ini dapat menyebabkan cedera ginjal akut, terutama ketika terjadi bersamaan dengan paparan panas, aktivitas fisik berat, muntah, diare, atau penggunaan OAINS.
Orang yang berulang kali bekerja atau berolahraga berat dalam cuaca panas tanpa cukup kesempatan minum, beristirahat, dan menurunkan suhu tubuh lebih berisiko. Kombinasi panas, olahraga, dan dehidrasi meningkatkan beban pada ginjal serta risiko cedera ginjal.
Jadi, minumlah secara berkala saat bekerja atau berolahraga saat terpapar cuaca panas dan istirahat di tempat sejuk. Jangan menunggu sampai pusing berat atau hampir pingsan. Hindari pula penggunaan OAINS ketika sedang dehidrasi.
3. Memaksakan latihan ekstrem tanpa adaptasi

Olahraga memang menyehatkan, tetapi intensitas yang melonjak drastis dapat memicu rhabdomyolysis, yaitu kerusakan otot berat yang melepaskan mioglobin dan berbagai isi sel otot ke dalam darah. Zat-zat tersebut dapat membebani ginjal dan menyebabkan cedera ginjal akut.
Kondisi ini dapat dialami orang muda yang sehat, terutama setelah latihan yang sangat berat, tidak biasa, dilakukan saat cuaca panas, atau dipaksakan ketika tubuh belum pulih.
Nyeri otot ekstrem, pembengkakan, kelemahan yang tidak wajar, urine berwarna teh atau kola, dan berkurangnya jumlah urine harus diwaspadai.
Yang bisa kamu lakukan, naikkan volume dan intensitas latihan secara bertahap. Berikan waktu pemulihan setelah lama tidak berolahraga. Segera cari pertolongan medis jika muncul urine gelap disertai nyeri, bengkak, atau kelemahan otot berat.
4. Terbiasa makan makanan sangat asin dan sering minum minuman manis
Makanan tinggi garam tidak langsung membuat ginjal rusak. Namun, asupan natrium berlebihan dapat menaikkan tekanan darah, sedangkan hipertensi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kurang dari 2.000 miligram natrium (setara kurang dari 5 gram garam) per hari untuk orang dewasa.
Minuman berpemanis juga perlu dibatasi. Dalam studi UK Biobank terhadap 127.830 orang, konsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis gula per hari dikaitkan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih tinggi. Penelitian observasional ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, tetapi memperkuat alasan untuk mengganti minuman manis dengan air putih.
Kebiasaan makan tinggi garam dan gula juga dapat mendorong kenaikan berat badan, hipertensi, serta diabetes—dua kondisi terakhir merupakan penyebab utama gagal ginjal.
Mulai sekarang kurangi konsumsi mi instan, makanan kemasan, daging olahan, camilan asin, serta saus dan bumbu komersial. Jadikan minuman manis sebagai konsumsi sesekali.
5. Merokok
Dampak rokok pada ginjal sering kalah populer dibanding dampaknya pada paru-paru dan jantung. Yang banyak orang tidak tahu, merokok dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan memperburuk faktor metabolik yang juga membebani ginjal.
Metaanalisis terhadap 15 studi kohort prospektif menemukan bahwa perokok aktif memiliki risiko penyakit ginjal kronis sekitar 34 persen lebih tinggi dibanding orang yang tidak pernah merokok. Perokok aktif juga memiliki risiko penyakit ginjal tahap akhir yang lebih tinggi, walaupun angka tersebut tetap dapat dipengaruhi perbedaan karakteristik antarpenelitian.
Berhenti merokok tetap bermanfaat meskipun sudah merokok selama bertahun-tahun. Dukungan konseling dan terapi tertentu dapat meningkatkan peluang keberhasilan dibanding cuma mengandalkan kemauan.
6. Mengonsumsi jamu atau suplemen tanpa mengetahui kandungannya

Label “alami” tidak menjamin sebuah produk aman. Suplemen penurun berat badan, pembentuk otot, peningkat performa, atau pereda nyeri dapat mengandung bahan yang tidak tercantum pada label, dosisnya tidak jelas, atau berinteraksi dengan obat lain.
Sejumlah produk binaraga yang dipasarkan sebagai suplemen ditemukan mengandung steroid atau zat menyerupai steroid, yang dapat menyebabkan cedera serius, termasuk gagal ginjal. Selain itu, beberapa jamu pegal linu dan pelangsing ilegal atau tidak jelas izin edarnya juga dapat mengandung bahan kimia obat.
Hindari produk yang menjanjikan hasil cepat atau tidak mencantumkan komposisi dan dosis secara jelas. Jangan mengonsumsi beberapa suplemen sekaligus. Beri tahu dokter mengenai seluruh jamu, suplemen, dan produk olahraga yang dikonsumsi.
Jangan menunggu sampai pinggang terasa sakit
Penyakit ginjal tahap awal sering tidak menimbulkan gejala. Ginjal yang bermasalah juga tidak selalu menimbulkan nyeri pinggang. Karena itu, merasa sehat atau masih bisa beraktivitas bukan jaminan bahwa fungsi ginjal pasti normal.
Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk mendeteksi gangguan ginjal meliputi tes darah untuk memperkirakan laju filtrasi ginjal atau eGFR dan tes urine untuk mencari albumin. Bicarakan mengenai pemeriksaan ginjal dengan dokter jika kamu memiliki hipertensi, diabetes, obesitas, riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, pernah mengalami cedera ginjal akut, atau menggunakan obat yang dapat memengaruhi ginjal.
Segera cari pertolongan medis jika jumlah urine turun drastis, tubuh membengkak, sesak napas, muntah terus-menerus, kebingungan, atau urine menjadi gelap setelah latihan berat. Kerusakan ginjal tidak selalu bisa dicegah, tetapi mengenali paparan berisiko dan memeriksakan diri lebih awal dapat membantu mencegah masalah makin serius.
Referensi





![[QUIZ] Kapan Kamu Perlu Mulai Diet? Temukan Jawabannya dengan Tes Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)




.jpg)


![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)

![[QUIZ] Tebak Risiko Penyakit dari Kebiasaan Kamu Minum Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/16576_5a2f7a67-3d4e-4672-9881-c5c068073f61.jpg)

