Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pneumonia Bakteri vs Virus, Ini Perbedaan Gejalanya

4 min read
Pneumonia Bakteri vs Virus, Ini Perbedaan Gejalanya
ilustrasi seseorang mengalami pneumonia (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Pneumonia bakteri dan virus sama-sama dapat menyebabkan batuk, demam, sesak, dan nyeri dada.

  • Awal gejala, jenis batuk, atau dahak dapat memberi petunjuk, tetapi tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.

  • Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan karena penyebabnya menentukan penanganan; antibiotik tidak bekerja untuk infeksi virus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang dapat disebabkan oleh berbagai kuman, termasuk bakteri dan virus. Gejalanya sering kali mirip, seperti batuk, demam, sesak napas, dan rasa lelah. Karena itu, banyak orang mengira semua pneumonia sama, padahal penyebabnya dapat memengaruhi perjalanan penyakit, pilihan pengobatan, dan proses pemulihan.

Meski ada beberapa pola gejala yang lebih sering ditemukan pada pneumonia bakteri atau pneumonia virus, tetapi perbedaannya tidak selalu jelas. Seseorang dengan pneumonia virus bisa mengalami gejala yang berat, sementara pneumonia bakteri kadang tidak menunjukkan tanda yang khas. Oleh karena itu, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebabnya. Namun, memahami perbedaan yang umum ditemui dapat membantu kamu mengenali kapan perlu mencari pertolongan medis dan mengapa dokter mungkin memerlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis.

Berikut beberapa petunjuk yang bisa membantu memahami perbedaan pneumonia akibat bakteri dan virus.

  1. 1. Batuk, demam, dan sesak bisa muncul pada keduanya

    Pneumonia adalah infeksi pada paru-paru. Keluhan yang umum meliputi batuk, demam atau menggigil, napas pendek, rasa lelah, serta nyeri dada saat bernapas atau batuk. Gejala-gejala ini dapat muncul baik pada pneumonia bakteri maupun virus.

    Jadi, satu gejala saja, misalnya demam tinggi atau batuk berdahak, tidak cukup untuk menentukan penyebab pneumonia. Usia dan kondisi kesehatan juga berpengaruh. Pada orang lanjut usia, misalnya, kebingungan atau penurunan kesadaran bisa lebih menonjol daripada demam.

  2. 2. Pneumonia virus dapat bermula perlahan

    Pada pneumonia virus, keluhan sering muncul secara bertahap dan awalnya mungkin belum berat. Gejalanya bisa berupa batuk, demam, menggigil, sesak, sakit kepala, lemas, atau nyeri dada. Virus influenza, RSV, dan SARS-CoV-2 termasuk penyebab pneumonia virus.

    Namun, disebabkan oleh virus bukan berarti penyakitnya pasti ringan. Pneumonia virus juga bisa memburuk, terutama pada kelompok yang rentan. Sebaliknya, pneumonia bakteri pun tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada setiap orang.

  3. 3. Demam, menggigil, dan nyeri dada juga dapat menjadi petunjuk bakteri

    Ilustrasi seseorang memegang bagian dada dengan ekspresi kesakitan, menggambarkan keluhan nyeri dada.
    ilustrasi nyeri dada (magnific.com/Drazen Zigic)

    Pneumonia akibat bakteri, termasuk pneumokokus, dapat menyebabkan batuk, demam atau menggigil, nyeri dada, serta napas cepat atau sesak. Untuk menegakkan diagnosis, dokter tidak hanya melihat gejala, tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasien, hasil pemeriksaan paru, penanda peradangan, dan hasil pencitraan.

    Menurut pedoman American Thoracic Society (ATS), gejala yang memburuk kembali setelah sempat membaik, dahak bernanah, peningkatan penanda peradangan, dan temuan tertentu pada pencitraan dapat meningkatkan kecurigaan adanya infeksi bakteri yang menyertai infeksi virus. Namun, temuan tersebut hanya merupakan petunjuk yang harus dinilai bersama dengan faktor lain.

  4. 4. Gejala saja tidak cukup untuk membedakan penyebabnya

    Penelitian terhadap 230 anak yang dirawat karena pneumonia menemukan bahwa gejala dan tanda klinis pneumonia bakteri dan virus dapat tumpang tindih. Peneliti menyimpulkan bahwa gejala saja tidak cukup spesifik untuk membedakan penyebabnya secara andal.

    Pemeriksaan dapat mencakup wawancara dan pemeriksaan fisik, pengukuran kadar oksigen, serta foto rontgen dada. Tes darah, dahak, atau tes untuk mendeteksi virus dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pasien. Bahkan setelah pemeriksaan, penyebab pasti kadang tidak berhasil ditemukan.

  5. 5. Mengetahui penyebabnya menentukan pengobatan

    Antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, bukan untuk membunuh virus.

    Untuk pneumonia virus, penanganan bergantung pada virus penyebab, tingkat keparahan, dan kondisi pasien. Pada sebagian kasus, dokter dapat mempertimbangkan antivirus yang sesuai. Infeksi bakteri juga dapat terjadi bersamaan dengan infeksi virus, sehingga hasil tes virus positif tidak selalu menutup kemungkinan adanya infeksi lain.

    Jangan memulai antibiotik dari sisa obat atau membagikannya dengan orang lain. Pemeriksaan membantu dokter menentukan apakah obat tersebut diperlukan dan memilih penanganan yang sesuai.

  6. 6. Sesak berat dan kebingungan perlu segera ditangani

    Ilustrasi kondisi sesak napas, ketika seseorang mengalami kesulitan bernapas dan rasa tidak nyaman di dada.
    ilustrasi sesak napas (magnific.com/rawpixel.com)

    Temui dokter apabila batuk disertai sesak, demam, atau nyeri dada, terutama jika keluhan memburuk.

    Kalau kamu mengalami kesulitan bernapas hingga terengah-engah atau sulit berbicara, bibir tampak kebiruan, batuk darah, atau tiba-tiba kebingungan, cari pertolongan darurat segera.

    Intinya, pneumonia bakteri dan virus memiliki sejumlah gejala yang sama. Pola keluhan bisa memberi petunjuk, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk menilai penyebab dan menentukan penanganan dengan tepat.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

    Merck Manual Consumer Version, “Overview of Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

    National Library of Medicine, “Viral Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Pneumococcal Disease Symptoms and Complications,” diakses Oktober 2026.

    Barbara E. Jones et al., “Diagnosis and Management of Community-acquired Pneumonia: An Official American Thoracic Society Clinical Practice Guideline,” American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine 212, no. 1 (2026): 24–44, https://doi.org/10.1164/rccm.202507-1692ST.

    Mejbah U. Bhuiyan et al., “Combination of Clinical Symptoms and Blood Biomarkers Can Improve Discrimination between Bacterial or Viral Community-Acquired Pneumonia in Children,” BMC Pulmonary Medicine 19 (2019): article 71, https://doi.org/10.1186/s12890-019-0835-5.

    Merck Manual Consumer Version, “Overview of Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

    National Health Service, “Pneumonia,” diakses Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More