Comscore Tracker

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, ya

Pemulihan kesehatan mental menjadi prioritasmu

Terapis atau dalam bahasa Inggris disebut therapist adalah sebutan untuk tenaga profesional yang memberikan pelayanan terapi kejiwaan reguler. Terapis merupakan istilah umum yang merujuk pada profesional yang membantu pengobatan kesehatan mental.

Istilah lain untuk tenaga profesional ini adalah konselor, psikolog atau psikiater, yang masing- masing memiliki sedikit perbedaan cakupan pekerjaan namun memiliki dasar ilmu yang sama. 

Mengunjungi terapis untuk melakukan pengobatan atau pemulihan kesehatan mental sudah cukup lumrah di lakukan di Indonesia, seiring dengan semakin kuatnya kampanye tentang kesehatan mental yang digaungkan saat ini. Namun, nyatanya berkonsultasi dengan seorang terapis tidak selalu mudah untuk dilakukan.

Ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa seorang terapis tidak selalu tepat saat bertemu dengan seorang pasien atau klien. Ada ketidakcocokan yang justru timbul di antara mereka.

Untuk itu, kamu bisa menyimak deretan ciri atau tanda terapis yang perlu kamu hindari dan mungkin tidak tepat untuk memberikan pemulihan kesehatan mental kepadamu, agar tujuan kesehatan mental yang ingin kamu capai bisa terlaksana dengan baik.

1. Merasa malu atau dihakimi oleh terapismu

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi saat dihakimi atau dipermalukan (unsplash.com/emilianovittoriosi)

Ciri yang pertama adalah timbulnya perasaan malu, seperti dipermalukan atau dihakimi (being judged) oleh sang terapis atas cerita yang kamu utarakan kepadanya. Ini merupakan tanda yang cukup jelas bisa kamu rasakan sejak sesi pertama pertemuan dengan terapismu. 

Seorang terapis berhak memiliki opini, sama seperti orang lainnya di dunia ini. Namun sebenarnya terapis tidak diperbolehkan memberikan opini pribadi mereka kepada klien secara bebas. Terutama jika itu terkait dengan ras, agama, orientasi seksual, atau profesi yang dimiliki klien. 

Jika di sesi konsultasi kamu merasa seolah dipermalukan atau dihakimi atas peristiwa yang kamu alami, maka sebaiknya kamu mencari terapis lain untuk sesi konsultasi yang selanjutnya. 

2. Terapis memiliki etika yang buruk

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi sikap memaksa (pexels.com/alex-green)

Seorang terapis sejatinya adalah orang yang berpendidikan, berpengalaman di bidangnya dan telah menjalani pelatihan khusus sebelum mereka memberikan bantuan kesehatan mental kepada orang lain. Namun, itu semua tetap tidak bisa menjamin bahwa mereka memiliki etika yang baik.

Kamu bisa saja bertemu dengan seorang terapis yang bahkan melakukan tindakan agresif yang melanggar kode etik profesional mereka. Misalnya, memaksa kamu untuk melakukan sesi konseling di dalam kamar, menyentuh bagian tubuhmu secara berlebihan, atau bahkan melakukan pelecehan seksual kepadamu. 

Jika kamu menemui terapis yang seperti itu, maka segera akhiri sesi konselingmu dan laporkan terapis tersebut kepada otoritas yang berwenang untuk segera ditindaklanjuti. 

3. Terapis tidak menerapkan batasan profesional

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi proses konseling (pexels.com/alex-green)

Seorang terapis seharusnya memposisikan diri sebagai pendengar, dan memberikan komentar atau diagnosis secukupnya berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka tidak seharusnya bertindak sebagai 'teman' yang juga ikut membagikan cerita pribadi yang mereka alami kepada klien.

Jika selama sesi konsultasi mereka berusaha untuk mendekatimu untuk menjalin hubungan baik itu pertemanan, hubungan romantis, atau bahkan sekedar ingin bertukar akun media sosial, itu merupakan tanda bahwa mereka tidak bisa menerapkan batasan profesional antara terapis dengan kliennya.

Hal tersebut tentu bisa saja membuat kamu sebagai klien merasa tidak nyaman. Untuk itu, jika menemui terapis yang seperti ini kamu bisa segera mengakhiri sesi konseling dengannya dan mencari terapis pengganti berikutnya.

4. Terapis tidak lulus kualifikasi atau kurang berpengalaman untuk kasusmu

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi seorang terapis sedang berbicara (pexels.com/shvets-production)

Jika kamu memiliki case khusus yang menjadi fokus utama pemulihanmu, sebaiknya kamu mencari terapis yang sesuai dengan case tersebut. Carilah terapis yang memang lulus kualifikasi dan telah mengikuti pelatihan khusus yang sejalan dengan permasalahanmu.

Sebagai contoh kamu ingin berkonsultasi tentang trauma masa kecil, tentang masalah seksual, kecanduan, atau tentang trauma akibat konflik/perang, maka sebaiknya carilah terapis yang berpengalaman di bidang yang sama dengan issue tersebut. 

Hal tersebut akan lebih efektif karena mereka akan lebih mudah memahami apa kebutuhanmu.

Baca Juga: Siapkan Hal-hal Ini Saat Pertama Kali Menemui Psikolog atau Psikiater

5. Terapis tidak bisa diandalkan

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yafoto jam menunjukkan pukul tiga (unsplash.com/bamin)

Sifat terapis yang sering mengabaikan kliennya merupakan contoh bahwa terapis tersebut tidak bisa diandalkan. Saat mereka sering datang terlambat, lebih sering menggunakan handphone saat konseling, atau bahkan membatalkan secara sepihak janji konseling yang sudah disepakati oleh kalian.

Hal tersebut menunjukkan bahwa terapis tersebut tidak memiliki kepedulian tinggi terhadapmu, mereka bahkan terkesan tidak sepenuh hati ingin membantu kesehatan mentalmu. 

Ketika memutuskan untuk menemui seorang terapis profesional, tentu kamu berharap dapat mengandalkan mereka untuk membantumu memperoleh kembali kesehatan mental. Namun jika ternyata terapis tersebut tidak bisa diandalkan, maka sebaiknya kamu mempertimbangkan kembali sesi konseling dengannya.

6. Kehilangan koneksi dengan terapis

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi perasaan empati terhadap seseorang (pexels.com/alex-green)

Melakukan sesi konseling untuk pemulihan kesehatan mental tentu tidak cukup dilakukan hanya satu kali, apalagi jika kasus yang kamu bawa cukup serius dan cukup berat. Saat pertemuan awal kamu mungkin merasa senang karena merasa bertemu dengan terapis yang tepat untukmu.

Namun saat pertemuan berikutnya kamu melanjutkan cerita yang kamu alami, kamu merasa koneksi antara kamu dan terapis malah menghilang. Kamu merasa bahwa simpati yang ditunjukkan oleh mereka tidak tulus atau rasanya seperti mereka tidak bisa benar- benar memahami situasi yang sedang kamu alami.

Hal tersebut mungkin saja terjadi karena adanya perbedaan latar belakang atau keyakinan tertentu antara kamu dan terapis tersebut. Terapis juga seorang manusia biasa yang memiliki latar belakang tertentu, yang meskipun mereka telah bekerja secara profesional, namun kamu tetap bisa merasakan bahwa mereka tidak bisa benar- benar terhubung denganmu. 

Jika hal ini terjadi, kamu bisa mempertimbangkan terlebih dahulu apakah akan melanjutkan konseling dengannya atau tidak.

7. Terapis bersikap terlalu pushy

7 Ciri Kamu Bertemu Terapis yang Kurang Tepat, Perhatikan, yailustrasi perasaan kecewa dan cemas (pexels.com/alex-green)

Seorang terapis sebaiknya tidak terlalu berlebihan dalam mendorongmu melakukan sesuatu. Mereka berhak untuk memberikan saran kepadamu terutama jika kamu memang memintanya, namun mereka tidak diperkenankan untuk memberi perintah kepadamu.

Sebagai contoh, kamu menceritakan bahwa kamu tidak terbiasa sarapan karena jika sarapan kamu akan sakit perut, sang terapis justru memerintahkanmu untuk selalu sarapan setiap hari. Saat kamu menceritakan sedang rutin menabung Rp50 ribu per hari, terapismu justru meminta kamu untuk menabung Rp100 ribu setiap hari tanpa mempertimbangkan kondisi keuanganmu secara keseluruhan.

Terapis hanya boleh memberikan saran, bukan menyuruhmu untuk melakukan sesuatu sesuai pendapatnya sendiri. Sebaiknya hindari bertemu dengan terapis yang terlalu mendorongmu untuk melakukan banyak hal, karena yang paling tahu kondisimu adalah dirimu sendiri. 

Baca Juga: 5 Cara Menemukan Terapis Kesehatan Mental yang Tepat

Shera Suprapto Photo Verified Writer Shera Suprapto

Jika tak sanggup berucap, berbicaralah melalui tulisan

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya