Mengutip laporan UNAIDS pada September 2022, Indonesia memulai program PrEP untuk mencegah HIV/AIDS pada kelompok berisiko pada tahun 2021. Meski begitu, Bagus mengatakan bahwa program PrEP di Indonesia masih dalam periode percontohan, jadi hanya tersedia di fasilitas kesehatan tertentu.
Dimulai dengan 12 kota, kini program PrEP di Indonesia sudah tersedia di 21 kota dan sekitar 60 fasilitas kesehatan dengan sasaran 7.000 penerima. PrEP hadir di beberapa kota besar Indonesia, seperti:
- Jakarta
- Bogor
- Depok
- Tangerang
- Bekasi
- Bandung
- Semarang
- Yogyakarta
- Surabaya
- Sidoarjo
- Samarinda
- Balikpapan
- Batam
- Makassar
- Denpasar
- Badung
Bagus mengatakan bahwa pemilihan 21 kota Indonesia ini atas dasar pertimbangan tingkat kasus dan penularan HIV/AIDS tertinggi. Tersebar dari Sumatra ke Sulawesi, Bagus menyayangkan daerah Indonesia Timur masih belum tercapai. Meski begitu, ia mengatakan bahwa ke depannya program ini akan mencapai daerah-daerah tersebut.
Situs sayaberani.org sediakan layanan PrEP untuk masyarakat Indonesia. (sayaberani.org)
Layanan PrEP bisa diakses dengan membuka situs web sayaberani.org. Lalu, kamu akan diminta mengisi kuesioner penapisan dan diarahkan untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan PrEP.
Tentunya, setelah dipastikan HIV negatif lewat cek laboratorium, Bagus mengatakan bahwa masyarakat bisa mengikuti program PrEP. Meski begitu, selain HIV positif, laman tersebut mencantumkan bahwa yang tidak ditujukan menerima PrEP adalah orang dengan:
- Penyakit ginjal.
- HIV akut.
- Alergi terhadap obat yang digunakan sebagai PrEP.
- Hepatitis B (kontraindikasi relatif).
Sayaberani.org menjabarkan bahwa PrEP ditujukan untuk:
- Tidak konsisten menggunakan kondom dengan semua pasangan seksual.
- Berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan seksual dalam periode enam bulan.
- Memiliki pasangan seksual yang memiliki pasangan seksual lain dan mungkin sudah terinfeksi atau berisiko tinggi terhadap infeksi HIV.
- Melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang menyuntikkan narkoba dan berbagi peralatan injeksi dengan orang lain.
- Menyuntikkan narkoba dan berbagi peralatan injeksi.
- Berhubungan seks ketika minum alkohol dan/atau menggunakan narkoba dan/atau chemsex.
- Terdiagnosa infeksi menular seksual, seperti gonore, sifilis, chancroid, atau herpes.
- Memiliki pasangan seks yang baru terdiagnosa infeksi menular seksual termasuk HIV.
- Melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang HIV positif yang tidak menggunakan terapi ARV, atau yang menggunakan terapi ARV tetapi belum mencapai penekanan viral load ke tingkat yang tidak terdeteksi (belum undetectable).
- Pasangan tidak tahu status HIV-nya.