Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Psikolog Ungkap Alasan Pelaku Terus Menganiaya Pasangan, Bukan Khilaf
ilustrasi kekerasan dalam hubungan (IDN Times/Novaya)
  • Psikolog menjelaskan bahwa kekerasan berulang terhadap pasangan bukan karena emosi sesaat, melainkan pola perilaku untuk menguasai dan mengendalikan korban.

  • Kekerasan biasanya mengikuti siklus abuse: ketegangan meningkat, terjadi kekerasan, pelaku menyesal atau bersikap manis, lalu siklus kembali terulang.

  • Faktor penyebab mencakup kebutuhan kontrol tinggi, kesulitan kelola emosi, keyakinan salah soal kekerasan, pengalaman masa kecil penuh kekerasan, serta rendahnya empati.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus penyekapan dan penganiayaan perempuan di Bandung memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat soal mengapa seseorang tega berulang kali menyakiti orang yang disebutnya sebagai pasangan?

Sebagian orang menganggap tindakan tersebut terjadi karena pelaku tidak mampu mengendalikan amarah. Namun, menurut Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist dan Direktur Personal Growth, kekerasan yang terjadi berulang umumnya bukan sekadar ledakan emosi sesaat, melainkan pola perilaku yang bertujuan menguasai dan mengendalikan korban.

Ingin mengontrol pasangan

Penganiayaan yang dilakukan berulang mengindikasikan adanya sebuah pola perilaku yang bukan semata-mata karena dorongan emosi sesaat.

“Jadi bukan karena dorongan spontan, atau impulsif akibat marah, jengkel, dan emosi lain yang serupa. Ini merupakan adanya pola perilaku yang bertujuan mempertahankan kontrol dan dominasi atas seseorang, yaitu pasangannya,” ujar Ratih kepada IDN Times.

Kekerasan menjadi cara pelaku untuk memastikan pasangan tetap patuh, takut, atau tidak berani meninggalkan hubungan.

Dalam banyak kasus, kekerasan berulang mengikuti pola yang dikenal sebagai cycle of abuse, yaitu ketegangan meningkat, terjadi ledakan kekerasan, kemudian pelaku meminta maaf, berjanji berubah, atau bersikap sangat baik (fase bulan madu), sebelum siklus tersebut kembali terulang.

Faktor yang berperan

ilustrasi kekerasan dalam hubungan (IDN Times/Nathan Manaloe)

Beberapa faktor psikologis yang dapat berperan terhadap perilaku kekerasan berulang pada pasangan, antara lain:

  • Kebutuhan yang tinggi untuk mengendalikan pasangan.

  • Kesulitan mengelola emosi, terutama kemarahan, rasa cemburu, atau frustrasi.

  • Keyakinan bahwa kekerasan adalah cara yang dapat dibenarkan untuk menyelesaikan konflik.

  • Riwayat tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan sehingga perilaku tersebut dipelajari sebagai sesuatu yang ‘normal’.

  • Rendahnya empati terhadap penderitaan pasangan.

  • Faktor lain seperti penyalahgunaan alkohol atau narkoba dapat meningkatkan risiko kekerasan, meskipun bukan penyebab utama.

Terkait masalah kejiwaan?

Pelaku kekerasan belum tentu punya masalah kejiwaan, menurut Ratih.

“Menurut saya para pelaku kekerasan terhadap pasangan tidak selalu memenuhi kriteria gangguan mental. Banyak pelaku yang mampu berfungsi dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial, tetapi menggunakan kekerasan sebagai cara mengendalikan pasangannya,” jelasnya.

Meski demikian pada sebagian kasus, sangat mungkin ditemukan kondisi khusus yang ikut berkontribusi, antara lain adanya:

  • Gangguan penggunaan zat.

  • Gangguan pengendalian impuls.

  • Gangguan kepribadian tertentu, seperti beberapa kasus yang melibatkan ciri-ciri Antisocial Personality Disorder atau Narcissistic Personality Disorder.

“Dengan catatan bahwa memiliki gangguan kepribadian bukan berarti pasti menjadi pelaku kekerasan, dan sebaliknya, banyak pelaku kekerasan tidak memiliki diagnosis tersebut,” imbuh Ratih.

Psikologi modern menekankan bahwa kekerasan pasangan lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor seperti karakter individu, pola pengasuhan dalam keluarga, pengalaman hidup sejak masa kecil, cara mengelola emosi, keyakinan tentang relasi serta faktor sosial dan budaya.

Editorial Team

Related Article