Anne Herefoss Davidsen, Stian Andersen, Peder Andreas Halvorsen, Henrik Schirmer, Eirik Reierth, and Hasse Melbye, “Diagnostic Accuracy of Heart Auscultation for Detecting Valve Disease: A Systematic Review,” BMJ Open 13, no. 3 (2023): e068121, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2022-068121.
Abraham Bohadana, Gabriel Izbicki, and Steve S. Kraman, “Fundamentals of Lung Auscultation,” New England Journal of Medicine 370, no. 8 (2014): 744–51, https://doi.org/10.1056/NEJMra1302901.
Seth Felder, David Margel, Zuri Murrell, and Phillip Fleshner, “Usefulness of Bowel Sound Auscultation: A Prospective Evaluation,” Journal of Surgical Education 71, no. 5 (2014): 768–73, https://doi.org/10.1016/j.jsurg.2014.02.003.
Birgitte M. Breum, Bo Rud, Thomas Kirkegaard, and Tyge Nordentoft, “Accuracy of Abdominal Auscultation for Bowel Obstruction,” World Journal of Gastroenterology 21, no. 34 (2015): 10018–24, https://doi.org/10.3748/wjg.v21.i34.10018.
American Heart Association, “Heart Murmurs,” diakses Agustus 2026.
Global Initiative for Asthma, "Global Strategy for Asthma Management and Prevention: 2026 Update (2026)", diakses Agustus 2026.
5 Masalah Kesehatan yang Bisa Terdengar lewat Stetoskop

Stetoskop dapat menangkap perubahan suara pada jantung, paru-paru, hingga saluran pencernaan yang memberi petunjuk adanya penyakit.
Murmur, mengi, ronki, atau irama jantung yang tidak teratur bukan diagnosis, karena satu suara dapat muncul pada beberapa kondisi berbeda.
Temuan auskultasi yang mencurigakan biasanya perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan seperti ekokardiografi, spirometri, elektrokardiogram, rontgen, atau tes lain.
Stetoskop ditempelkan beberapa detik di dada, punggung, atau perut. Suara yang masuk ke telinga dokter dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana darah mengalir melalui jantung, apakah udara bergerak bebas di saluran napas, hingga aktivitas usus. Proses mendengarkan suara tubuh ini disebut auskultasi.
Dokter menilai karakter suara, termasuk intensitas, durasi, lokasi, dan waktunya. Namun, stetoskop bukan alat diagnosis tunggal. Bahkan studi tentang auskultasi jantung menyimpulkan kemampuan pemeriksaan ini mendeteksi penyakit katup cukup bervariasi sehingga hasilnya perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan lain.
Lantas, masalah kesehatan apa yang bisa meninggalkan suara khas yang bisa terdeteksi lewat stetoskop? Terus baca, ya!
Table of Content
1. Penyakit katup jantung
Detak jantung normal memiliki pola suara tertentu ketika katup membuka dan menutup. Namun, aliran darah yang menjadi turbulen dapat menghasilkan suara tambahan yang disebut murmur jantung.
Pada orang dewasa, murmur abnormal sering berkaitan dengan masalah katup jantung. Katup dapat mengalami stenosis, yaitu tidak dapat membuka penuh, atau regurgitasi, ketika katup tidak menutup sempurna sehingga darah mengalir kembali ke arah yang salah.
Lokasi, waktu muncul, kualitas, dan kerasnya murmur dapat memberi petunjuk katup mana yang bermasalah. Contohnya termasuk stenosis aorta atau regurgitasi mitral.
Namun, tidak semua murmur berarti penyakit jantung. Murmur yang disebut innocent murmur (murmur fisiologis atau murmur yang tidak berbahaya) bisa terjadi tanpa kelainan struktur jantung, terutama pada anak. Karena itu, murmur mencurigakan biasanya ditindaklanjuti dengan ekokardiografi untuk melihat struktur dan fungsi katup secara langsung.
2. Asma dan penyempitan saluran napas
Suara seperti siulan bernada tinggi saat bernapas disebut mengi (wheezing). Suara ini muncul ketika udara melewati saluran napas yang menyempit.
Pada asma, mengi merupakan salah satu temuan yang paling sering didengar melalui auskultasi, terutama ketika mengembuskan napas. Namun, pemeriksaan paru pada orang dengan asma juga bisa normal ketika penyakit sedang tidak aktif. Diagnosis asma tetap harus didukung bukti adanya variasi aliran udara ekspirasi, misalnya melalui spirometri.
Mengi juga tidak eksklusif untuk asma. Suara serupa dapat muncul pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran napas, maupun gangguan lain yang menyempitkan jalan napas.
Jadi, mendengar mengi bisa memberi petunjuk pada dokter tentang adanya penyempitan saluran napas, tetapi tidak menjawab penyebabnya.
3. Pneumonia, cairan di paru, hingga fibrosis

ilustrasi memeriksa anak dengan stetoskop (pexels.com/Pavel Danilyuk) Ada pula suara pendek yang terdengar seperti letupan atau bunyi rambut digosok dekat telinga. Dalam pemeriksaan paru, suara ini disebut ronki atau bunyi krepitasi (crackles).
Ronki terjadi ketika struktur kecil di paru membuka secara tiba-tiba atau ada perubahan pada saluran napas dan jaringan paru. Karakter ronki dapat membantu mempersempit kemungkinan penyebabnya.
Ronki dapat ditemukan pada pneumonia, tetapi juga dapat terdengar ketika cairan menumpuk di paru akibat gagal jantung. Sebagai contoh, ronki paru akibat penumpukan cairan merupakan salah satu temuan yang dapat muncul pada gagal jantung.
Ronki yang halus saat menarik napas juga memberi petunjuk pada penyakit paru interstisial. Keberadaan ronki inspirasi dapat membantu identifikasi awal, meski pemeriksaan pencitraan tetap diperlukan seperti dengan rontgen atau CT scan.
4. Irama jantung yang tidak teratur
Selain mencari suara, dengan stetoskop, dokter juga mendengarkan kecepatan dan keteraturan detak jantung.
Denyut yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan dapat mengarah pada dugaan gangguan irama jantung atau aritmia. Salah satu contohnya adalah fibrilasi atrium, yang dapat menghasilkan irama denyut yang tidak teratur. Jika irama mencurigakan ditemukan, elektrokardiogram (EKG/ECG) diperlukan untuk merekam aktivitas listrik jantung dan memastikan diagnosis.
5. Sumbatan atau gangguan usus
Dengan menempelkan stetoskop di perut, dokter akan mencoba mendengarkan bowel sounds atau bunyi usus yang muncul akibat pergerakan gas dan cairan di saluran pencernaan.
Secara tradisional, bunyi yang sangat aktif, berubah karakter, atau menghilang dikaitkan dengan kondisi seperti obstruksi usus atau ileus, yaitu ketika gerakan usus sangat berkurang atau berhenti.
Namun, bunyi usus tidak sespesifik yang dulunya diperkirakan. Dalam studi prospektif yang meminta dokter membedakan rekaman bunyi usus normal, sumbatan usus kecil, dan ileus pascaoperasi, sensitivitas auskultasi hanya sekitar 22–32 persen, tergantung kategori yang dinilai.
Studi lain terhadap pasien yang dicurigai mengalami sumbatan usus juga menemukan akurasi dan kesepakatan antar dokter relatif rendah.
Stetoskop memberi petunjuk

ilustrasi stetoskop (magnific.com/Dragana_Gordic) Manfaat stetoskop terletak pada kemampuannya memberi informasi dengan cepat tanpa radiasi, jarum, atau prosedur invasif. Namun, suara tubuh sering tidak spesifik.
Studi tentang penyakit katup jantung menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas auskultasi sangat bervariasi antarpenelitian. Para peneliti menyimpulkan bahwa dokter tidak seharusnya terlalu mengandalkan auskultasi sendirian untuk menyingkirkan penyakit katup jantung.
Termasuk pemeriksaan pada paru-paru dan perut, mengi tidak selalu berarti asma, ronki tidak selalu berarti pneumonia, dan perubahan bunyi usus tidak otomatis berarti ada sumbatan.
Stetoskop memang bisa mendeteksi masalah kesehatan lewat suara tertentu. Akan tetapi, yang didengar dokter pada dasarnya adalah petunjuk biologis. Diagnosis tetap ditegakkan dari kombinasi gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta tes penunjang jika dibutuhkan.
Referensi














![[QUIZ] Dari Kondisi Fisikmu, Kamu Lebih Mungkin Ikut Fun Walk, Lari 5K, atau Lari 10K?](https://image.idntimes.com/post/20260803/diana-rafira-vfojnmghefs-unsplash_932aeaeb-ed67-4019-a246-e864c46025bf.jpg)






![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Lari karena FOMO atau Beneran Suka](https://image.idntimes.com/post/20260508/1000023808_ede40a8d-fa4b-4901-ba71-809fd59ebf2e.jpg)