Referensi
U.S. Environmental Protection Agency, “Wildfire Smoke—A Complex Mixture,” diakses 17 Oktober 2026.
Rosana Aguilera, Thomas Corringham, Alexander Gershunov, Sydney Leibel, dan Tarik Benmarhnia, “Fine Particles in Wildfire Smoke and Pediatric Respiratory Health in California,” Pediatrics 147, no. 4 (2021): e2020027128, https://doi.org/10.1542/peds.2020-027128.
Shuang Zhou et al., “Impact of Global Short-Term Landscape Fire-Sourced PM2.5 Exposure on Child Cause-Specific Morbidity: A Study in Multiple Countries and Territories,” Nature Communications 16 (2025): 9347, https://doi.org/10.1038/s41467-025-64411-0.
Timothy Lam, Jennifer L. Catto, Gillian Kay, Nick Dunstone, Rosa Barciela, dan Anna B. Harper, “Major Fires in Indonesian Borneo Are Possible under All ENSO Phases,” npj Natural Hazards 3, no. 1 (2026): 46, https://doi.org/10.1038/s44304-026-00209-4.
IDAI: Asap Karhutla Lebih Toksik, Anak Lebih Rentan

Asap yang tampak seperti kabut bisa membawa campuran polutan jauh dari titik api. Di dalamnya ada partikel halus seperti PM2.5, serta gas dan senyawa kimia yang jenis dan kadarnya bergantung pada bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran. PM2.5 berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil sehingga dapat masuk jauh ke paru-paru.
Dijelaskan oleh dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp.Respi(K) dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, PM2.5 dari kebakaran hutan memiliki komposisi kimia berbeda dari partikel yang berasal dari sumber lain. Partikel dan senyawa kimia dalam asap dapat memicu stres oksidatif serta peradangan saluran napas, ujarnya dalam seminar media IDAI yang digelar secara daring pada Jumat (16/10).
PM2.5 dari kebakaran dapat membawa risiko lebih besar
Sejumlah penelitian menemukan bahwa PM2.5 dari asap kebakaran dapat berdampak lebih besar terhadap saluran pernapasan dibandingkan PM2.5 dari sumber lain.
Dalam studi di San Diego, California, Amerika Serikat (AS), setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik PM2.5 yang dikaitkan dengan kebakaran berhubungan dengan kenaikan 30 persen kunjungan anak ke layanan gawat darurat dan perawatan mendesak karena gangguan pernapasan. Untuk PM2.5 dari sumber nonkebakaran, kenaikannya 3,7 persen. Peneliti memperkirakan dampak PM2.5 kebakaran terhadap kesehatan pernapasan anak sekitar 10 kali lebih besar dalam studi tersebut.
Penelitian lintas negara yang terbit pada 2025 juga menemukan bahwa paparan partikel dari kebakaran lahan terkait dengan lebih banyak rawat inap anak dan remaja akibat gangguan pernapasan. Dalam analisis terhadap 1.012 komunitas di tujuh negara dan wilayah, kenaikan 10 mikrogram per meter kubik partikel tersebut berhubungan dengan peningkatan risiko rawat inap pernapasan sebesar 1,9 persen. Anak usia 5–9 tahun termasuk kelompok yang lebih terdampak.
Kerentanan anak juga berkaitan dengan tubuhnya yang masih tumbuh. “Anak-anak itu tubuhnya kecil, tapi dia bukan miniatur orang dewasa,” kata dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, Subsp.Respi(K), dari Satgas Penanggulangan Bencana IDAI. Paparan polutan dapat memperburuk asma atau infeksi saluran napas yang sudah ada. Dokter Dimas juga mengingatkan bahwa paparan berkepanjangan berpotensi mengubah struktur saluran napas anak.
El Niño dapat memperbesar risiko

Sesi media daring Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) "Dampak Asap Karhutla pada Anak dan Pertolongan Pertama saat Karhutla", Jumat (16/10/2026). Dalam pemaparannya, dr. Fifi mengatakan, “Kondisi ini diperparah dengan adanya fenomena El Niño dan kekeringan yang meluas.”
El Niño dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga lahan lebih kering dan kebakaran berisiko membesar atau berlangsung lebih lama.
Sebuah studi pemodelan iklim 2026 tentang Kalimantan Indonesia memperkirakan bahwa El Niño meningkatkan risiko kebakaran besar—setara atau lebih parah dari kebakaran 1997 dan 2015—dengan faktor 2,7. Namun, kebakaran besar tetap mungkin terjadi pada fase iklim lain.
El Niño bukan satu-satunya pemicu dan tidak serta-merta mengubah asap menjadi lebih toksik. Dampak utamanya adalah kondisi kering yang dapat memperbesar peluang kebakaran dan memperpanjang paparan asap. Pembukaan lahan dan deforestasi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Bagi anak, paparan asap bukan hanya soal batuk atau mata perih hari itu. Asap dapat mengganggu saluran napas yang masih berkembang, sementara karhutla yang berlangsung lama memperpanjang waktu mereka menghirup udara beracun.











![[QUIZ] Apa Fitness Love Language Kamu? Jawab 1 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)
![[QUIZ] Dari Keluhan Kamu, Mungkin Ini Jenis Magnesium yang Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)







