Kota sudah memiliki polusi dari berbagai sumber sebelum kabut asap karhutla datang. Kendaraan, industri, dan aktivitas lain menghasilkan partikel serta gas pencemar. Ketika asap karhutla terbawa angin ke kawasan perkotaan, polutan dari berbagai sumber itu dapat hadir bersamaan di udara yang dihirup warga.
Dalam laporan pada 17 Oktober 2026, BMKG menyebut asap karhutla sempat terpantau memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, sehari sebelumnya. Asap itu kemudian bergerak menjauh. BMKG juga menegaskan bahwa deteksi satelit saat itu tidak menunjukkan dampak pada kualitas udara di permukaan.
Pada laporan yang sama, pengukuran PM2.5 di Kemayoran berkisar 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik. Kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah stasiun Jakarta bervariasi dari baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Data tersebut menunjukkan kondisi udara yang terukur di beberapa titik.
