Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Pacemaker: Dari Alat 7 Kg hingga Tanpa Kabel

8 min read
Sejarah Pacemaker: Dari Alat 7 Kg hingga Tanpa Kabel
ilustrasi pacemaker atau alat pacu jantung (commons.wikimedia.org/Steven Fruitsmaak)
  • Pacemaker bermula dari alat eksternal berukuran besar sebelum berkembang menjadi perangkat kecil yang dapat ditanam dalam tubuh.

  • Pemasangan pacemaker pertama di Indonesia tercatat berlangsung pada 1974 terhadap anak berusia 9 tahun bernama Dewi Sartika.

  • Pacemaker membantu mengatasi gangguan irama jantung yang terlalu lambat, tetapi berbeda dari defibrillator dan tetap membutuhkan pemantauan rutin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada 8 Oktober 1958, seorang pria Swedia bernama Arne Larsson kondisinya kritis. Ia mengalami gangguan hantaran listrik jantung yang membuat denyutnya sangat lambat dan beberapa kali berhenti. Dokter Åke Senning dan insinyur Rune Elmqvist kemudian mencoba menanamkan sebuah alat yang dapat membantu menjaga irama jantungnya.

Alat itu belum menyerupai alat pacu jantung atau pacemaker modern. Ukurannya lebih besar, teknologinya sederhana, dan baterainya hanya bertahan sekitar 3 jam. Keesokan harinya, alat tersebut diganti. Namun, percobaan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kedokteran.

Larsson akhirnya menerima lebih dari 20 alat pacu jantung sepanjang hidupnya dan tetap bertahan hingga tahun 2001. Dari kasus inilah, teknologi pacemaker terus berkembang menjadi lebih kecil, lebih tahan lama, lebih cerdas, dan pada jenis tertentu bahkan tidak lagi butuh kabel.

  1. 1. Sebelum pacemaker bisa ditanam dalam tubuh

    Jauh sebelum pacemaker dikenal seperti sekarang, para peneliti telah mencoba memahami apakah listrik dapat merangsang jantung.

    Pada 1889, dokter asal Inggris John A. McWilliam menerbitkan penelitian mengenai stimulasi listrik pada jantung manusia. Penelitian tersebut belum menghasilkan alat pacu jantung yang dapat digunakan secara klinis, tetapi menjadi salah satu dasar penting bagi perkembangan stimulasi jantung.

    Pada akhir 1920-an, dokter asal Australia Mark Lidwill mengembangkan alat eksternal yang dapat memberikan rangsangan listrik ke jantung. Alat ini menggunakan sumber listrik dari luar tubuh dan belum praktis digunakan dalam jangka panjang.

    Pada 1932, dokter asal Amerika Serikat (AS) Albert Hyman mengembangkan perangkat yang disebut artificial pacemaker. Alat tersebut beratnya sekitar 7,3 kilogram dan harus diputar dengan tangan secara berkala agar tetap bekerja. Perangkat itu belum dapat ditanam di dalam tubuh, tetapi menunjukkan bahwa denyut jantung dapat dibantu dengan rangsangan listrik buatan.

    Perkembangan berikutnya berlangsung pada 1950-an. John Hopps mengembangkan alat pacu jantung eksternal berbasis elektronik. Beberapa tahun kemudian, Paul Zoll menggunakan teknik stimulasi listrik melalui permukaan kulit untuk membantu pasien dengan gangguan denyut jantung. Teknik lain juga dikembangkan dengan memasukkan elektroda melalui pembuluh darah menuju jantung, meskipun masih bersifat sementara.

    Singkatnya, pacemaker pertama bisa berupa alat eksternal, alat sementara, atau alat yang ditanam secara permanen di dalam tubuh.

  2. 2. Tahun 1958: pacemaker permanen mulai ditanam

    Citra sinar-X dada memperlihatkan alat pacu jantung dengan kabel menuju atrium kanan dan ventrikel kanan.
    Foto sinar-X alat pacu jantung dengan kabel (lead) atrium dan ventrikel kanan. (commons.wikimedia.org/Stephanie C Torres-Ayala, Guido Santacana-Laffitte, and José Maldonado)

    Tonggak paling penting terjadi di Stockholm, Swedia, pada 8 Oktober 1958. Dokter Åke Senning dan insinyur Rune Elmqvist menanamkan pacemaker pada Arne Larsson, pasien dengan gangguan hantaran listrik jantung berat.

    Prosedur tersebut dilakukan melalui pembedahan di dada. Dua elektroda ditempatkan pada permukaan jantung, sedangkan generator ditanam di dalam tubuh. Alat pertama hanya bekerja selama sekitar 3 jam sebelum mengalami kerusakan. Namun, dokter segera menggantinya dengan perangkat baru.

    Larsson tidak hanya menjadi pasien pertama dalam prosedur tersebut. Ia juga menjadi bagian dari proses panjang penyempurnaan teknologi pacemaker. Sepanjang hidupnya, ia menjalani sejumlah operasi penggantian alat karena teknologi baterai, sirkuit, dan elektroda terus berkembang.

    Dua tahun kemudian, pada 6 Juni 1960, dokter William Chardack menanamkan pacemaker yang dirancang Wilson Greatbatch pada seorang pria berusia 77 tahun dengan blok jantung total di AS. Perangkat tersebut membantu memperpanjang hidup pasien selama sekitar 18 bulan.

    Peristiwa 1960 sering disebut sebagai tonggak penting dalam sejarah pacemaker di AS. Sementara itu, tindakan pada 1958 di Swedia menjadi salah satu catatan awal implantasi pacemaker permanen pada manusia. Keduanya tidak bertentangan karena merujuk pada pencapaian yang berbeda dalam perkembangan teknologi pacemaker.

  3. 3. Pemasangan pacemaker pertama di Indonesia

    Alat pacu jantung eksternal Medtronic tahun 1961 berupa perangkat kotak dengan kabel, dalam dokumentasi hitam-putih.
    Alat pacu jantung eksternal Medtronic pada tahun 1961. (commons.wikimedia.org/Warren K. Leffler)

    Berdasarkan catatan jurnal dan institusi pendidikan kedokteran, pemasangan pacemaker pertama di Indonesia tercatat berlangsung pada tahun 1974 di Jakarta.

    Pasien tersebut adalah seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Dewi Sartika. Jurnal Kardiologi Indonesia menyebut tindakan itu sebagai pemasangan alat pacu jantung pertama di Indonesia. Catatan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga mencatat bahwa pada 1974 dilakukan pemasangan pacemaker permanen pertama pada anak di Lakarnas Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

    Sebelumnya, pada tahun 1970, fasilitas yang sama telah menggunakan pacemaker sementara. Pemasangan permanen pada 1974 menjadi langkah penting karena pasien tidak lagi bergantung pada perangkat dari luar tubuh.

    Namun, terlihat persoalan lain yang dihadapi dunia kesehatan pada masa itu, bahwa akses terhadap teknologi medis masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan Yayasan Jantung Indonesia, kasus Dewi Sartika dibicarakan dalam Kongres Kardiologi Nasional pertama di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

    Alat yang dibutuhkan harus didatangkan dari luar negeri dan harganya sangat mahal. Dukungan dari Menteri Kesehatan Prof. G.A. Siwabessy, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, para dokter, serta masyarakat kemudian membantu pengadaan alat tersebut.

    Dukungan sosial itu berkembang menjadi pendirian Yayasan Jantung Indonesia Dewi Sartika pada 4 Oktober 1974.

  4. 4. Cara kerja pacemaker dan fakta yang perlu diketahui

    • Pacemaker membantu ketika denyut jantung terlalu lambat

    Jantung memiliki sistem listrik alami yang mengatur kapan otot jantung berkontraksi. Jika sistem ini terganggu, jantung dapat berdetak terlalu lambat atau sinyal listrik tidak tersalurkan dengan baik dari satu ruang jantung ke ruang lainnya.

    Pacemaker tradisional terdiri atas generator kecil, baterai, sensor, dan satu atau lebih kabel yang disebut lead. Generator biasanya ditempatkan di bawah kulit dekat tulang selangka. Kabel kemudian diarahkan melalui pembuluh darah menuju ruang jantung.

    Perangkat tersebut memantau aktivitas jantung. Jika denyut jantung terlalu lambat atau jeda antardenyut terlalu panjang, pacemaker mengirimkan impuls listrik kecil untuk membantu menjaga irama jantung.

    Pacemaker dapat dipertimbangkan pada kondisi seperti denyut jantung yang terlalu lambat disertai gejala, gangguan hantaran listrik tingkat tinggi, atau kelainan pada pusat pengatur irama jantung. Keputusan pemasangan tidak hanya berdasarkan satu hasil pengukuran denyut nadi, tetapi juga mempertimbangkan pemeriksaan elektrokardiogram, gejala, dan penyebab gangguan irama.

    • Pacemaker berbeda dari defibrillator

    Pacemaker terutama membantu mengatasi denyut jantung yang terlalu lambat. Alat ini tidak sama dengan implantable cardioverter-defibrillator (ICD).

    ICD dapat mendeteksi irama jantung yang sangat cepat dan berbahaya, lalu memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung. Beberapa ICD juga memiliki fungsi pacemaker, tetapi pacemaker biasa umumnya tidak dirancang untuk memberikan kejutan listrik besar.

    • Baterai tidak bertahan seumur hidup

    Baterai pacemaker dapat bertahan selama bertahun-tahun. Lamanya bergantung pada jenis perangkat, seberapa sering alat memberikan impuls, serta kondisi pengguna. Sumber medis menyebut masa pakai baterai umumnya berkisar 5 hingga 15 tahun.

    Pasien tetap perlu menjalani pemeriksaan berkala untuk memantau fungsi alat dan sisa baterai. Jika baterai mendekati akhir masa pakai, generator biasanya diganti melalui prosedur yang lebih sederhana dibandingkan pemasangan pertama.

    • MRI tidak otomatis dilarang

    Pasien yang menggunakan pacemaker perlu memberi tahu dokter dan petugas radiologi sebelum menjalani MRI. Meski demikian, keberadaan pacemaker tidak selalu menjadi larangan mutlak untuk pemeriksaan ini.

    Tim medis perlu memeriksa jenis pacemaker, kabel yang digunakan, status keamanan MRI perangkat, serta protokol pemeriksaan yang sesuai. Keputusan dilakukan secara individual untuk mengurangi risiko terhadap pasien dan perangkat.

    • Indonesia memasuki era pacemaker tanpa kabel

    Pada tahun 2016, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dilaporkan menjadi rumah sakit pertama yang berhasil memasang pacemaker permanen tanpa kabel.

    Perangkat tersebut berukuran sekitar 25,9 milimeter dan berat sekitar 2 gram. Pemasangannya dilakukan melalui pembuluh darah di paha menuju jantung sehingga tidak membutuhkan sayatan besar di dada, kantong generator di bawah kulit, maupun kabel yang menghubungkan generator dengan jantung.

    Pacemaker tanpa kabel tidak ditujukan untuk semua pasien. Pemilihannya bergantung pada jenis gangguan irama, kondisi jantung, kebutuhan stimulasi, serta penilaian dokter spesialis jantung.

    • Dari alat besar menuju teknologi yang makin kecil

    Dalam waktu kurang dari satu abad, pacemaker berubah dari perangkat eksternal seberat beberapa kilogram menjadi alat kecil yang dapat ditanam di tubuh. Baterai menjadi lebih tahan lama, perangkat dapat diprogram, pemeriksaan bisa dilakukan dari jarak jauh, dan sebagian pasien dapat menggunakan teknologi tanpa kabel.

    Namun, tujuannya tetap sama, yaitu membantu menjaga denyut jantung ketika sistem listrik alami tubuh tidak mampu bekerja secara memadai.

    Referensi

    John A. McWilliam, “Electrical Stimulation of the Heart in Man,” British Medical Journal 1, no. 1468 (1889): 348–350, https://doi.org/10.1136/bmj.1.1468.348.

    Albert Shudarsono, Dicky A. Hanafy, and Yoga Yuniadi, “Alat Pacu Jantung Tanpa Kabel,” Jurnal Kardiologi Indonesia 37, no. 1 (2016): 47–56.

    N. M. van Hemel and E. E. van der Wall, “8 October 1958, D Day for the Implantable Pacemaker,” Netherlands Heart Journal 16, suppl. 1 (2008): S3–S4, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2572009/.

    Hiroko Beck et al., “50th Anniversary of the First Successful Permanent Pacemaker Implantation in the United States: Historical Review and Future Directions,” American Journal of Cardiology 106, no. 6 (2010): 810–818, https://doi.org/10.1016/j.amjcard.2010.04.043.

    Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, “Tentang Sejarah,” diakses September 2026.

    Yayasan Jantung Indonesia, “Sejarah YJI,” diakses September 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Pertama di Indonesia, RSJPD Harapan Kita Lakukan Operasi Pasang Alat Pacu Jantung Permanen Tanpa Kabel,” diakses September 2026.

    American Heart Association, “Pacemaker,” diakses September 2026.

    National Heart, Lung, and Blood Institute, “Pacemakers: What Are Pacemakers?,” diakses September 2026.

    American Heart Association, “Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD),” diakses September 2026.

    Mayo Clinic, “Pacemaker,” diakses September 2026.

    National Health Service, “Having a Pacemaker Fitted,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More