Referensi
CBC News, “We Know Junk Food Isn’t Healthy, but Scientists Are Trying to Determine If It’s Also Bad for Our Brains,” diakses 19 Oktober 2026.
Medical Xpress, “Ultra-Processed Food Intake Linked to Possible Signs of Silent Strokes,” diakses 19 Oktober 2026.
Russell J. de Souza et al., “Ultraprocessed Food Intake and Adiposity, Vascular Brain Injury, and Cognition in Middle-Aged Adults,” JAMA Network Open 9, no. 10 (2026): e2639118, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.39118.
Studi Temukan Tanda Cedera Otak pada Konsumsi UPF Tinggi

Studi terhadap 8.783 orang dewasa menemukan kaitan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dan peluang lebih besar memiliki tanda cedera pembuluh darah otak pada MRI.
Pada kelompok konsumsi tertinggi, UPF mencakup sekitar 45 persen porsi makanan harian, dibanding 16,5 persen pada kelompok terendah; temuan menilai pola makan keseluruhan, bukan konsumsi sesekali.
Peneliti tidak menemukan hubungan bermakna dengan dua tes kognitif dan belum dapat memastikan sebab-akibat, karena pola makan, MRI, serta kognisi diukur pada waktu yang sama.
Sepulang kerja, setelah perjalanan panjang atau hari yang padat, makanan yang cepat disiapkan sering terasa paling mungkin dijangkau. Mi instan, camilan kemasan, sereal manis, dan minuman ringan bisa mengisi perut tanpa ribet.
Namun, peneliti sedang mencari tahu apakah pola konsumsi makanan ultra proses (ultra-processed food/UPF) dalam jangka panjang berkaitan dengan kesehatan otak.
Sebuah studi terbaru menemukan tanda perubahan pembuluh darah otak lebih sering pada orang dewasa dengan konsumsi UPF yang tinggi. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open.
Table of Content
Temuan MRI
Studi tersebut menganalisis data 8.783 orang dewasa di Kanada berusia 35–69 tahun tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.
Para peserta mengisi kuesioner tentang pola makan dan menjalani pemindaian otak menggunakan MRI. Peneliti kemudian membandingkan kelompok dengan konsumsi UPF terendah dan tertinggi.
Tanda cedera pembuluh darah otak dalam penelitian ini mencakup infark otak tersembunyi—kerusakan kecil yang tidak selalu menimbulkan gejala jelas—atau tingginya beban perubahan pada substansi putih otak yang tampak di MRI. Temuan semacam ini kadang disebut sebagai tanda “silent stroke”.
Setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain, kelompok dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki odds 40 persen lebih tinggi untuk menunjukkan tanda cedera tersebut dibanding kelompok dengan konsumsi terendah.
Yang dihitung adalah pola makan, bukan satu camilan

ilustrasi makanan ultra proses, ultraprocessed foods (magnific.com/magnific) Contoh UPF yang disebut dalam laporan studi meliputi camilan kemasan, sereal sarapan manis, minuman ringan, mi instan, dan makanan beku siap santap. Pada kelompok dengan konsumsi tertinggi, UPF mencakup sekitar 45 persen dari seluruh porsi makanan harian. Pada kelompok dengan konsumsi terendah, angkanya sekitar 16,5 persen.
Ini menggambarkan kebiasaan makan kelompok peserta, bukan dampak dari satu bungkus mi instan atau satu kali menyantap camilan. Penelitian tersebut juga tidak menguji apakah mengurangi jenis makanan tertentu dapat mencegah cedera otak.
Dalam analisis tambahan, kaitan antara konsumsi UPF dan tanda cedera otak tampak lebih kuat pada peserta perempuan. Namun, analisis berdasarkan jenis kelamin ini bersifat eksploratif dan bukan tujuan utama yang ditetapkan sejak awal. Hasil tersebut perlu diuji kembali sebelum disimpulkan sebagai perbedaan risiko yang pasti antara perempuan dan laki-laki.
Belum terlihat kaitan dengan hasil tes kognitif
Meski MRI menunjukkan adanya perbedaan pada otak, tetapi peneliti tidak menemukan hubungan yang bermakna antara konsumsi UPF dan hasil dua tes kognitif yang digunakan. Artinya, studi ini belum menunjukkan bahwa peserta yang lebih banyak mengonsumsi UPF mengalami penurunan daya ingat atau kemampuan berpikir.
Penting juga untuk melihat keterbatasan studi ini. Pola makan, hasil MRI, dan kemampuan kognitif diukur pada waktu yang sama, bukan dipantau selama bertahun-tahun. Karena itu, peneliti belum bisa memastikan apakah konsumsi UPF menyebabkan perubahan pada otak atau justru sebaliknya. Studi ini juga belum dapat menjawab apakah temuan pada MRI tersebut akan berkembang menjadi stroke atau gangguan ingatan di kemudian hari.
UPF sering dipilih karena lebih mudah didapat, hemat waktu, atau lebih terjangkau. Karena itu, hasil studi ini bukan alasan untuk merasa bersalah setelah sesekali makan makanan jenis ini. Temuan ini hanya cuma kemungkinan hubungan antara pola makan dan tanda perubahan pada pembuluh darah otak. Untuk memahami apakah hubungan tersebut benar-benar berdampak pada kesehatan otak seiring bertambahnya usia, masih diperlukan penelitian jangka panjang.




![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)
















