Panik Beri Anak Nugget? Simak Penilaian Ahli Gizi soal Makanan UPF

- Nugget termasuk UPF, tetapi klasifikasi ini tidak otomatis menentukan kualitas gizi atau membuat satu porsi langsung merusak pola makan anak.
- Konsumsi UPF tinggi berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan dalam studi observasional, namun bukti yang ada tidak membuktikan bahwa setiap UPF langsung menyebabkan penyakit.
- Nugget tetap menyumbang protein, tetapi lemak dan garamnya perlu diperhatikan; sajikan secukupnya bersama sayur, buah, dan makanan beragam.
Memberikan nugget kepada anak mungkin pernah bikin kamu merasa serba salah. Di satu sisi, makanan ini praktis dan biasanya cukup disukai anak, tapi di sisi lain nugget sering masuk dalam pembahasan soal ultra-processed food atau UPF. Kekhawatiran tersebut makin besar karena sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dengan berbagai masalah kesehatan.
Namun, apakah satu porsi nugget otomatis membuat pola makan anak menjadi gak sehat? Seorang ahli diet yang diwawancarai BBC justru mengingatkan bahwa kamu perlu melihat pola makan secara keseluruhan, bukan langsung memberi label buruk pada satu makanan.
1. UPF gak otomatis berarti makanan buruk

ilustrasi makanan ultra proses (magnific.com/magnific) UPF merupakan istilah yang digunakan dalam sistem klasifikasi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Makanan dalam kategori ini umumnya dibuat melalui proses industri dan dapat mengandung bahan seperti emulsifier, perisa, pewarna, pemanis, atau bahan tambahan lain yang jarang digunakan ketika memasak di rumah. Nugget ayam juga termasuk salah satu contoh makanan yang dapat masuk kategori UPF. Namun, klasifikasi tersebut gak otomatis menjelaskan seluruh kualitas gizi dari suatu produk.
Menurut penelitian dalam The BMJ, konsumsi UPF yang lebih tinggi ditemukan berhubungan dengan risiko lebih tinggi terhadap sejumlah masalah kesehatan. Penelitian tersebut merupakan umbrella review yang menggabungkan 45 analisis dengan total hampir 9,9 juta peserta dan menemukan hubungan dengan berbagai masalah, termasuk penyakit kardiometabolik, gangguan kesehatan mental, obesitas, diabetes tipe 2, serta kematian. Meski begitu, penelitian tersebut membahas hubungan atau asosiasi, sehingga hasilnya bukan berarti setiap makanan UPF secara langsung menyebabkan penyakit tertentu.
Karena itu, kamu gak perlu langsung menganggap semua makanan yang masuk kategori UPF harus dihilangkan dari menu anak. Jenis makanan, kandungan gizinya, jumlah yang dikonsumsi, serta makanan lain sepanjang hari tetap perlu diperhatikan. Bahkan, pembahasan BBC tersebut menekankan bahwa tingkat pemrosesan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan ketika menilai kualitas makanan.
2. Nugget tetap punya nilai gizi, tapi perlu dibatasi

ilustrasi makanan olahan (unsplash.com/Tyson) Dikutip BBC, ahli diet Maeve Hanan menilai nugget ayam tetap bisa memberikan asupan protein. Namun, kandungan lemak dan garamnya dapat lebih tinggi dibandingkan dada ayam tanpa olahan. Karena itu, ia menyarankan agar nugget dikonsumsi secukupnya sebagai bagian dari pola makan yang tetap seimbang.
Artinya, kamu gak harus merasa panik ketika sesekali menyajikan nugget untuk anak. Perhatian yang lebih penting adalah bagaimana makanan tersebut dipadukan dengan menu lainnya. Misalnya, nugget bisa disajikan bersama sayuran, sumber karbohidrat, dan buah agar anak tetap mendapatkan variasi makanan sepanjang hari.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan gagasan bahwa satu makanan gak bisa menentukan kualitas pola makan secara keseluruhan. Anak yang makan nugget pada satu waktu, tapi sepanjang hari juga mengonsumsi buah, sayuran, sumber protein lain, serta makanan beragam, tentu memiliki pola makan yang berbeda dengan anak yang hampir setiap hari hanya mengandalkan makanan tinggi garam, gula, atau lemak.
3. Jangan langsung takut melihat daftar bahan

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari (magnific.com/rawpixel.com) Salah satu hal yang sering membuat orangtua khawatir adalah daftar bahan pada kemasan makanan. Beberapa nama memang terdengar asing dan seperti istilah kimia, sehingga mudah menimbulkan anggapan bahwa bahan tersebut pasti berbahaya. Padahal, keberadaan bahan tambahan perlu dilihat berdasarkan fungsi dan aturan keamanan pangan yang berlaku, bukan sekadar dari nama yang terdengar sulit.
Dalam contoh nugget yang dibahas BBC, Maeve Hanan menjelaskan bahwa beberapa bahan digunakan untuk tujuan tertentu dalam proses pembuatan makanan. Ia juga menerangkan bahwa bahan yang terdengar seperti istilah kimia telah melalui proses pengujian atau persetujuan berdasarkan regulasi pangan di Inggris. Meski begitu, hal tersebut bukan berarti kamu bisa mengabaikan kandungan gizinya, ya.
Ada pula hal lain yang perlu dipahami tentang definisi UPF. Dalam BBC dijelaskan bahwa gak ada satu ciri tunggal yang selalu bisa digunakan untuk menentukan apakah sebuah makanan termasuk UPF. Sistem NOVA melihat tingkat serta karakter pemrosesan makanan, sehingga daftar bahan dan keberadaan zat tambahan bisa menjadi petunjuk, tapi konteks keseluruhan produk tetap penting.
4. Bukti soal UPF masih terus dipelajari

ilustrasi sosis daging olahan (pexels.com/mali maeder) Pembahasan tentang UPF memang gak sesederhana makanan sehat versus makanan buruk. Penelitian dalam The BMJ menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dan berbagai dampak kesehatan, tapi para peneliti juga mencatat adanya keterbatasan pada bukti yang tersedia. Dari 45 analisis yang ditinjau, kualitas bukti berdasarkan GRADE bervariasi, dengan sebagian besar berada pada tingkat rendah atau sangat rendah.
Penelitian dalam eClinicalMedicine juga menemukan hubungan antara konsumsi UPF dan risiko kanker dalam studi terhadap peserta UK Biobank. Penelitian tersebut melibatkan hampir 200 ribu orang dewasa berusia 40–69 tahun dan menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker serta kematian akibat kanker. Namun, karena penelitian ini merupakan studi observasional, hasilnya tetap menunjukkan hubungan dan gak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa UPF secara langsung menyebabkan kanker.
Sementara itu, penelitian dalam jurnal Obesity menunjukkan bahwa makanan ultra-proses sering kali memiliki karakteristik yang juga ditemukan pada makanan yang sangat menggugah selera atau hyper-palatable food, serta makanan dengan kepadatan energi tinggi. Ketiga kategori tersebut ternyata memiliki banyak kemiripan, terutama dalam hal kandungan dan karakteristik makanan yang dapat membuat seseorang lebih mudah mengonsumsinya dalam jumlah banyak. Artinya, ketika membahas dampak UPF terhadap kesehatan, kamu gak bisa hanya melihat seberapa jauh makanan tersebut diproses, tapi juga perlu memperhatikan kandungan dan karakteristik makanannya secara keseluruhan.
5. Fokus pada pola makan, bukan rasa bersalah

ilustrasi kentang goreng (magnific.com/mrsiraphol) Kehidupan sehari-hari juga perlu menjadi pertimbangan ketika membicarakan makanan anak. Gak semua orangtua punya waktu untuk memasak dari nol setiap kali anak makan, terutama ketika harus bekerja, mengurus rumah, atau menghadapi anak yang sangat pemilih soal makanan. Dalam situasi tertentu, makanan praktis bisa membantu orangtua memastikan anak tetap mendapatkan makanan ketika pilihan lainnya tidak mudah dilakukan.
Ahli diet Maeve Hanan yang diwawancarai BBC juga mengingatkan bahwa ketakutan berlebihan terhadap makanan bisa membuat orangtua melihat makanan secara terlalu hitam-putih. Ia menilai pola makan perlu dilihat dari keseimbangan berbagai kelompok makanan dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kalau anak makan beberapa potong nugget bersama wortel dan pasta, kamu gak perlu langsung merasa telah memberikan makanan yang buruk.
Pada akhirnya, nugget bisa ditempatkan sebagai salah satu bagian dari menu, bukan menjadi dasar seluruh pola makan anak. Kamu bisa memperhatikan ukuran porsi, frekuensi konsumsi, serta makanan pendamping seperti sayur dan buah. Prinsipnya bukan mencari pola makan yang sempurna setiap hari, melainkan membangun kebiasaan makan yang beragam dan seimbang dalam jangka panjang.
Memberikan nugget kepada anak sesekali juga gak perlu membuatmu dihantui rasa bersalah. Bukti ilmiah memang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dan sejumlah masalah kesehatan, tapi penelitian tersebut bukan berarti satu makanan langsung menentukan kesehatan anak.
Perhatikan keseluruhan pola makan, kandungan gizi, variasi makanan, serta frekuensi konsumsinya. Dengan begitu, kamu bisa tetap realistis dalam memenuhi kebutuhan makan anak tanpa harus panik setiap kali melihat label UPF.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)
























