Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terpapar Asap Karhutla tapi Tak Bergejala, Perlu Cek Paru?

3 min read
Terpapar Asap Karhutla tapi Tak Bergejala, Perlu Cek Paru?
Langit Kota Kupang diliputi asap karhutla. (IDN Times/Putra Bali Mula)
  • Jika paparan asap hanya melalui udara sekitar, kini tidak ada keluhan, dan kamu tidak memiliki kondisi berisiko, pemeriksaan paru tidak otomatis diperlukan.

  • Belum ada anjuran untuk semua orang tanpa gejala menjalani rontgen, CT scan, atau tes fungsi paru setelah terpapar asap. Namun, paparan sangat pekat atau langsung dari kebakaran perlu dinilai berbeda.

  • Cari pertolongan bila muncul sesak, batuk yang tak kunjung reda, mengi, nyeri dada, atau keluhan lain yang menetap. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung perlu lebih waspada.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabut asap sudah menipis, kamu kembali beraktivitas seperti biasa dan merasa tidak mengalami masalah pernapasan. Dalam keadaan seperti ini, wajar jika kamu merasa sehat dan tidak perlu memeriksakan kesehatan paru-paru.

Pada umumnya, paparan asap saja tidak berarti setiap orang harus langsung menjalani pemeriksaan paru. Panduan kesehatan publik menekankan pemantauan gejala dan perhatian khusus bagi kelompok berisiko.

Artinya, orang yang sehat, hanya terpapar asap dari lingkungan sekitar, dan tidak mengalami gejala biasanya tidak perlu buru-buru meminta rontgen, CT scan, atau spirometri hanya untuk memastikan paru-parunya baik-baik saja. Dokter dapat mempertimbangkan tes jika ada alasan klinis, seperti keluhan yang menetap, penyakit sebelumnya, atau paparan yang sangat berat.

  1. Tidak bergejala bukan berarti semua risiko sama

    Asap karhutla mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Dampaknya beragam: mata dan tenggorokan terasa perih, batuk, mengi, sesak, sakit kepala, hingga nyeri dada. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit jantung lebih rentan mengalami dampak yang lebih berat.

    Karena itu, kalau kamu termasuk kelompok tersebut, paparan asap yang berlangsung lama atau pekat sebaiknya dibicarakan dengan dokter, walaupun meski belum ada keluhan. Konsultasi tidak selalu berarti perlu tes paru. Dokter dapat menilai riwayat kesehatan, tingkat paparan, dan apakah pemeriksaan lanjutan memang dibutuhkan.

    Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan lebih cepat apabila kamu berada sangat dekat dengan kebakaran, menghirup asap dalam ruangan tertutup, atau mengalami paparan langsung saat memadamkan api. Situasi ini berbeda dari menghirup asap yang terbawa angin karena kebakaran dapat menghasilkan gas beracun dan udara panas yang mencederai saluran napas.

  2. Perhatikan perubahan setelah asap mereda

    Ilustrasi batuk dan sesak napas sebagai gambaran keluhan pernapasan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
    ilustrasi batuk dan sesak napas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Tidak semua dampak kesehatan muncul sebagai keluhan berat. Dalam studi retrospektif terhadap 1.381 orang dewasa yang terdampak kebakaran di California, Amerika Serikat, pada 2018, paparan PM2.5 dari asap yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan yang memerlukan pertolongan medis setidaknya sebulan setelah kebakaran, serta serangan asma yang dilaporkan menetap.

    Jadi, perhatikan jika setelah paparan muncul batuk yang tidak mereda, sesak, mengi, dada terasa berat, atau keluhan napas yang mengganggu aktivitas. Segera cari pertolongan darurat jika sesak berat atau nyeri dada. Orang dengan keluhan napas yang menetap juga perlu menghubungi tenaga kesehatan.

    Selama kualitas udara belum membaik, tetap kurangi waktu di luar ruangan, hindari olahraga berat di area berasap, dan ikuti informasi kualitas udara dari otoritas setempat. Jika tidak ada gejala, langkah itu serta pemantauan kondisi tubuh umumnya lebih disarankan daripada menjalani pemeriksaan paru tanpa indikasi.

    Referensi

    U.S. Preventive Services Task Force, “Chronic Obstructive Pulmonary Disease: Screening,” diakses 22 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke Exposure Poses Threat to At-Risk Populations,” diakses 22 Oktober 2026.

    World Health Organization, “Wildfires,” diakses 22 Oktober 2026.

    Gabrielle Y. Liu et al., “Wildfire Smoke Exposure and Persistent Respiratory Symptoms and Illness: A Retrospective Cohort Study,” Respiratory Research 27 (2026): article 275, https://doi.org/10.1186/s12931-026-03694-3.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and People with Chronic Conditions,” diakses 22 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More