Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Tidur Kurang dari 5 Jam Dikaitkan dengan 37 Risiko Penyakit

3 min read
Studi: Tidur Kurang dari 5 Jam Dikaitkan dengan 37 Risiko Penyakit
ilustrasi kurang tidur (pexels.com/cottonbro studio)
  • Studi baru menganalisis 95.559 peserta UK Biobank dengan sensor tidur selama 7 hari dan catatan kesehatan median 8,9 tahun.

  • Tidur kurang dari 5 jam dikaitkan dengan 37 dari 41 peningkatan risiko penyakit yang signifikan, dibandingkan durasi tidur 6–8 jam.

  • Penelitian observasional ini tidak membuktikan sebab-akibat; kualitas dan keteraturan tidur juga penting, sementara masalah tidur rutin disarankan dikonsultasikan ke dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alarm berbunyi, tetapi tubuh terasa belum cukup beristirahat. Bagi beberapa orang, malam yang pendek terjadi karena giliran kerja, perjalanan, anak yang terbangun, rasa sakit, atau pikiran tak tenang. Satu malam seperti itu berbeda dari pola tidur singkat yang terus berulang. Namun, seberapa jauh kebiasaan tidur pendek berkaitan dengan kesehatan dalam jangka panjang?

Sebuah studi yang terbit dalam jurnal PLOS Medicine pada September 2026 menelusuri pertanyaan itu lewat data tidur dan catatan kesehatan puluhan ribu orang.

  1. Temuan peneliti

    Tim peneliti menganalisis data 95.559 peserta UK Biobank. Peserta mengenakan sensor gerak di pergelangan tangan selama 7 hari; algoritme memperkirakan durasi dan pola tidur mereka. Setelah itu, para peneliti menelusuri catatan kesehatan peserta selama median 8,9 tahun. Studi ini memeriksa hubungan antara pola tidur dan 1.049 hasil kesehatan yang tercatat.

    Dalam analisis durasi tidur yang dibagi menjadi lima kelompok—kurang dari 5 jam, 5–6 jam, 6–8 jam, 8–9 jam, dan 9 jam atau lebih—peneliti menemukan 41 hubungan signifikan dengan risiko penyakit yang lebih tinggi dibandingkan kelompok 6–8 jam. Sebanyak 37 di antaranya muncul pada kelompok yang tidur kurang dari 5 jam.

    Studi ini juga menemukan bahwa, dari 86 kondisi dengan hubungan durasi tidur yang tidak berbentuk garis lurus, titik risiko terendah untuk sebagian besar, yaitu 69 kondisi, berada di rentang 6–8 jam.

  2. Temuan studi bukan sebab akibat

    Penelitian ini bersifat observasional. Jadi, temuan tidak memastikan bahwa tidur kurang dari 5 jam menjadi penyebab munculnya penyakit.

    Faktor lain yang berkaitan dengan tidur dan kesehatan mungkin ikut berperan, meski analisis telah memperhitungkan sejumlah hal seperti usia, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, dan lingkungan.

    Ada batasan lain. Durasi tidur diperkirakan dari pengukuran selama 7 hari, sehingga belum tentu menggambarkan kebiasaan seseorang sepanjang tahun.

    Hasil kesehatan yang dianalisis terutama berasal dari diagnosis rawat inap.

    Peserta juga rata-rata berusia 56 tahun dan sebagian besar berkulit putih, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada semua kelompok usia dan populasi.

    Batas 5 jam dalam penelitian ini adalah batas kategori untuk membandingkan kelompok, bukan garis biologis yang berarti tubuh langsung mengalami bahaya setelah satu malam tidur kurang dari 5 jam. Studi ini mengamati pola tidur dalam sepekan dan hubungannya dengan catatan kesehatan pada tahun-tahun berikutnya.

  3. Lama tidur yang dianjurkan

    Ilustrasi seseorang tidur nyenyak di tempat tidur dengan suasana malam yang tenang dan nyaman.
    ilustrasi tidur nyenyak (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

    Para ahli secara umum menyarankan orang dewasa usia 18–60 tahun tidur setidaknya 7 jam; untuk usia 61–64 tahun, 7–9 jam; dan usia 65 tahun ke atas, 7–8 jam.

    Tidur yang baik bukan hanya soal jumlah jam. Kualitas dan keteraturan juga berpengaruh. Sering terbangun, sulit mulai tidur, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup dapat menjadi tanda bahwa tidur tidak memulihkan tubuh. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika masalah tidur rutin terjadi.

    Bagi orang yang sesekali tidur singkat, temuan ini bukan alasan untuk panik. Namun, jika waktu tidur terus-menerus kurang atau tidur terasa tidak menyegarkan, mencari tahu penyebabnya dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan.

    Referensi

    Jingsong Luo et al., “Accelerometer-Derived Real-World Sleep Stages and Risk of Incident Diseases: A UK Biobank Cohort Study and Phenome-Wide Association Analysis,” PLOS Medicine 23, no. 9 (2026): e1005213, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1005213.

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Sleep,” diakses 11 Oktober 2026.

    Nathaniel F. Watson et al., “Recommended Amount of Sleep for a Healthy Adult: A Joint Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society,” Journal of Clinical Sleep Medicine 11, no. 6 (2015): 591–92, https://doi.org/10.5664/jcsm.4758.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More