Comscore Tracker

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasi

Gelisah, ingin bunuh diri, dan apatis merupakan gejalanya

Belakangan isu kesehatan mental marak digalakkan sebagai upaya untuk menjunjung tinggi self-awareness, self-acceptance, dan self-love. Menyangkut hal ini, depresi merupakan isu yang tak pernah luput dari perhatian.

Menurut laporan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang diperbarui pada Januari 2020 lalu mengungkapkan bahwa depresi adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi 264 juta jiwa pada semua usia secara global.

Depresi sendiri ada beberapa jenis. Salah satu tipe gangguan depresi adalah depresi agitasi, yang kadang dianggap sebagai bagian dari gangguan bipolar oleh sebagian ahli. Apa itu depresi agitasi? Berikut ini ulasannya.

1. Depresi agitasi adalah tipe gangguan kesehatan mental yang kompleks

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasiilustrasi gangguan depresi (pexels.com/Kat Jayne)

Agitasi adalah jenis gangguan depresi klinis yang relatif parah, yang merupakan gabungan dari perasaan-perasaan serta perilaku negatif yang umum dialami oleh orang-orang dengan depresi. Adanya tekanan serta situasi sulit yang terjadi merupakan kondisi umum yang dapat menyebabkan seseorang mengidap gangguan agitasi. 

Sebagian ahli menilai bahwa gangguan depresi agitasi termasuk dalam kategori gangguan bipolar. Sebab, gangguan yang dirasakan kompleks dan masif serta menyerupai berbagai kondisi dari gejala depresi lainnya. Ini memungkinkan pengidapnya merasakan berbagai macam emosi negatif dan perasaan-perasaan yang mengganggu sekaligus. 

Umumnya, mereka yang mengalami gangguan ini akan merasakan beberapa kondisi seperti kesedihan yang berlarut-larut, mudah marah, tidak bersemangat, putus asa, hingga berperilaku tidak stabil dan apatis, yang cenderung dapat menyakiti diri sendiri.

Gangguan depresi agitasi juga memungkinkan pengidapnya mengalami insomnia, memiliki suasana hati yang buruk, serta pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dalam satu waktu. 

Meski begitu, dokter dan para peneliti meyakini bahwa gangguan depresi, mania, dan kesehatan mental secara umum ada dalam satu spektrum, sehingga berbagai penamaan dapat digunakan dalam menggambarkan kondisi depresi seseorang. Begitu juga kondisi agitasi yang dimungkinkan memiliki penamaan berbeda tergantung dokter yang menangani.  

2. Gejala gangguan depresi agitasi

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasiilustrasi seseorang yang mengalami kesedihan (Pexels.com/Karolina Grabowska)

Sesuai namanya, depresi agitasi mengacu pada kondisi gangguan depresi yang gelisah. Gangguan ini merupakan gabungan dari perasaan-perasaan atau gejala yang ada pada gejala depresi secara umum.

Menurut keterangan dari National Institute of Mental Health (NIMH), tanda dan gejala depresi agitasi mencakup beberapa gejala khas depresi, seperti:

  • Suasana hati yang tidak bahagia, tidak bersemangat dan tidak punya motivasi
  • Kelelahan
  • Merasa tidak berharga, malu, kosong, dan bersalah
  • Insomnia atau bisa juga terlalu banyak tidur
  • Tidak punya ketertarikan pada apa pun
  • Makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
  • Pesimis
  • Kesedihan
  • Ada keinginan atau upaya untuk bunuh diri
  • Merasa perlu menyerang 
  • Bicara tak henti-henti
  • Menggigit kuku, meremas-remas tangan, dan/atau mengorek kulit, pakaian, dan/atau rambut
  • Pemikiran yang meledak-ledak dan balapan
  • Gerakan berlebihan (mondar-mandir, gelisah)
  • Berteriak

Setiap pasien mungkin mengalami kombinasi unik, yang merupakan gangguan dari setiap gejala depresi yang kemudian muncul bersama-sama sebagai depresi agitasi. Walau pada umumnya gejala-gejala tersebut dapat dialami oleh depresi jenis lain, pada kasus depresi agitasi, masalah-masalah ini akan lebih menonjol dan menetap. 

Baca Juga: 7 Aktivitas Positif Ini Bantu Cegah Depresi saat Pandemi COVID-19

3. Bagaimana mendiagnosis depresi agitasi?

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasiilustrasi kemarahan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Depresi agitasi perlu mendapat perhatian khusus untuk didiagnosis oleh dokter atau psikiater yang menangani. Para ahli kesehatan mental akan terlebih dulu meninjau riwayat medis pasien sebelum melakukan diagnosis.

Seperti dijelaskan sebelumnya, depresi agitasi adalah gangguan mental yang kompleks dan menyerupai berbagai kondisi depresi, termasuk gangguan bipolar. Diagnosisnya sendiri mungkin tidak mudah. Kadang, pasien hanya didiagnosis sebatas depresi umum di awal, sebelum didiagnosis lebih dalam setelah diketahui secara detail kondisi pasien melalui terapi.

Dokter atau psikiater akan sangat hati-hati mengevaluasi kondisi pasien dengan mengamati perubahan suasana hati dan perilaku. Mereka akan melakukan peninjauan yang lebih detail dalam mengamati riwayat kesehatan pasien untuk menggali informasi-informasi penting untuk membedakan depresi agitasi dengan gangguan lainnya seperti bipolar. 

Gejala dari kondisi depresi agitasi muncul setidaknya selama dua minggu. Dua gejala agitasi fisik dan/atau agitasi mental akan dialami bersamaan dengan gejala khas depresi lainnya dalam waktu tersebut.  

Berbeda dengan gejala bipolar yang mendatangkan kegelisahan atau kegembiraan dalam kurun waktu yang tidak tentu dan silih berganti, gejala depresi agitasi justru dialami secara konstan dan bersamaan dengan gejala depresi lainnya. Depresi agitasi juga lebih ekstrim dan konsisten dibanding gangguan lain semacam bipolar.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Leventhal, dkk., berjudul "Agitated depression in substance dependence" dalam jurnal Drug and Alcohol Dependence tahun 2011, pengidap depresi agitasi juga dimungkinkan untuk dilakukan evaluasi terhadap kecenderungan penggunaan zat tertentu, menyakiti diri sendiri, dan keinginan bunuh diri. 

4. Faktor penyebab yang memengaruhi depresi agitasi

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasiilustrasi seseorang mengalami depresi (pexels.com/Andrew Neel)

Penyebab atau pemicu depresi agitasi tergolong kompleks dan diperkirakan merupakan gabungan dari beberapa faktor, termasuk keturunan, trauma masa kecil, masalah pada otak, tekanan emosional, faktor lingkungan, masalah kesehatan dan faktor lainnya.

Dilansir Verywell Mind, beberapa faktor risiko umum dan faktor yang berkontribusi dalam memengaruhi kondisi depresi gelisah meliputi:

  • Kehidupan keluarga yang disfungsional
  • Perasaan kehilangan
  • Perasaan rendah diri, penyesalan, dan merasa tidak berharga
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Hipotiroidisme
  • Kondisi kesehatan lainnya seperti gangguan bipolar, defisit perhatian dan gangguan hiperaktif (attention deficit and hyperactivity disorder/ADHD)
  • Gangguan kecemasan
  • Stres berkepanjangan
  • Peristiwa traumatis

Selain itu, beberapa obat untuk depresi dapat memicu perilaku agitasi pada orang yang meminumnya, yang menyebabkan orang tersebut mengalami depresi agitasi sebagai hasilnya.

5. Pengobatan dan perawatan yang tepat

Mirip Gangguan Bipolar, Ini 5 Fakta Medis Depresi Agitasiilustrasi seseorang yang mengalami depresi (pexels.com/Polina Zimmerman)

Pada dasarnya, terapi dan pengobatan yang dilakukan terhadap pengidap depresi gelisah sama saja dengan depresi jenis lainnya. Ini meliputi beberapa hal, termasuk terapi bicara dan obat-obatan.

Terapi perilaku kognitif, yang berusaha membantu seseorang mengenali dan mengubah pola pikir negatif atau destruktif, sering digunakan dalam pengobatan depresi agitasi. Antidepresan, penstabil suasana hati, dan/atau obat anti-kecemasan juga sering dikombinasikan dengan terapi.

Menurut NIMH, untuk mendapat hasil maksimal dari kinerja obat serta menentukan dosis yang tepat biasanya dibutuhkan waktu sampai dua bulan atau bahkan lebih. Dalam kasus yang lebih parah, ketika perawatan lain tidak berhasil, terapi kejang listrik juga dapat digunakan.

Depresi agitasi adalah kondisi yang masih sulit untuk dilakukan pengobatan, sehingga konsistensi pengobatan dan perawatan intensif sangat diperlukan. Mendapat perawatan yang tepat pada awal periode depresi juga memungkinkan keberhasilan pengobatan jadi lebih efektif.

Itulah penjelasan seputar depresi agitasi. Bila kamu mengalami gejala-gejala yang ada di atas beserta faktor risikonya, sebaiknya segera cari bantuan agar mendapat pengobatan yang tepat. Selain itu, untuk mengoptimalkan perawatan, penting juga untuk tidur cukup, rutin olahraga, merawat diri, mengelola stres dengan baik, serta menghindari diri dari hal-hal negatif.

Baca Juga: Media Sosial Bikin Depresi? Ini 8 Fakta dan Solusinya

Nurul Zahara Photo Verified Writer Nurul Zahara

Hanya mencoba menguraikan isi kepala.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya