Comscore Tracker

Pengaruh Depresi terhadap Seks, Waspadai Turunnya Libido

Bila tidak ditangani bisa menghancurkan hubungan percintaan

Tidak hanya masalah fisik, masalah kesehatan mental seperti depresi juga bisa sangat memengaruhi kehidupan seksual seseorang. Ini bisa membuat penderitanya merasa kesulitan untuk merasa aman secara emosional bersama pasangan.

Terlebih lagi, dilansir Healthline, kebanyakan obat antidepresan memiliki efek samping terhadap hormon atau bahkan bisa menyebabkan impotensi atau kemandulan. Oleh sebab itu, depresi dan kehidupan seksual memiliki hubungan yang sangat erat. 

Apa saja pengaruh depresi terhadap seks dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya di bawah ini. 

1. Depresi menurunkan hasrat seksual

Salah satu efek dari depresi adalah menurunnya libido. Libido adalah hasrat seksual yang dipengaruhi oleh biologi, psikologis, dan faktor sosial. Mengutip Health, orang dengan depresi akan cenderung kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal yang mereka sukai.

Karena hal ini, banyak dari penderitanya yang memutuskan untuk menghindar dari seks atau tidak lagi tertarik dengan pasangannya secara seksual. Kondisi ini juga bisa memperparah keadaan jika seseorang memiliki kondisi gangguan seksual dan impotensi.

2. Kekurangan energi

Pengaruh Depresi terhadap Seks, Waspadai Turunnya Libidoilustrasi lelah (unsplash.com/Vladislav Muslakov)

Terus-terusan merasa lelah merupakan salah satu gejala utama depresi. Gejala ini bisa menyebabkan kekurangan atau kelebihan tidur. Orang yang hidup dengan depresi bisa beristirahat cukup dan tetap merasa lelah.

Hal tersebut akan sangat berpengaruh dengan kehidupan seksual, karena seks membutuhkan upaya dan energi. Gejala ini tentunya juga mempunyai kaitan erat dengan penurunan hasrat seksual.

3. Merasa lebih sensitif

Dilansir WebMD, orang dengan depresi akan cenderung menganalisis sesuatu secara berlebihan. Ini termasuk dengan masalah kecil yang terjadi dalam hubungan percintaan.

Saat suatu masalah terjadi, mereka akan salah menafsirkan sesuatu dan menghindar untuk membicarakannya bersama pasangan. Hal ini tak terkecuali dengan masalah yang muncul saat berhubungan seksual.

Masalah ini biasanya diperparah dengan perasaan tidak cukup yang menyebabkan pengidap depresi menyalahkan diri sendiri. Akhirnya, mereka memilih untuk tidak melakukan hubungan seksual ataupun mencoba menyelesaikan masalahnya.

Baca Juga: Mengenal Orgasmolepsy, Kondisi Lumpuh saat Orgasme

4. Efek samping obat antidepresan

Pengaruh Depresi terhadap Seks, Waspadai Turunnya Libidoilustrasi antidepresan (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Salah obat paling umum untuk mengatasi depresi atau masalah psikologis lainnya adalah selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Jenis obat ini bisa menurunkan hasrat seksual dan menghambat orgasme. Untuk laki-laki yang mengonsumsi SSRIs, obat ini bisa memengaruhi ereksi.

Walaupun efek samping ini sifatnya tidak permanen, tetapi hal ini tentunya bisa sangat berdampak pada proses penyembuhan serta hubungan percintaan pengidapnya secara keseluruhan.

5. Penanganan

Jika faktor utama hilangnya hasrat seksual diakibatkan oleh obat SSRIs, pengidap depresi bisa berkonsultasi dengan psikiater untuk mencari alternatif obat. Dilansir Healthline, beberapa jenis obat depresi seperti mirtazapine, nefazodone, dan bupropion tidak memiliki efek samping terhadap hasrat seksual. 

Selain itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengomunikasikan masalah ini bersama pasangan. Bersikap terbuka dan jujur bisa menjadi awal untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh depresi.

Orang dengan depresi juga bisa mendapatkan manfaat dari terapis seks profesional untuk konsultasi dan menemukan solusi yang lebih tepat.

Itulah pengaruh depresi terhadap hubungan seks seseorang. Depresi bisa menjadi masalah yang serius dan memiliki dampak yang berkepanjangan. Bila kamu merasa mengalami gejala-gejala depresi, atau depresi yang dialami telah memengaruhi banyak aspek kehidupan, carilah bantuan dari tenaga kesehatan mental profesional untuk penanganan yang efektif.

Baca Juga: Prolonged Grief Disorder: Gejala, Penyebab, Penanganan

Topic:

  • Nurulia
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya