Anggi Noen Akui Tak Semua Isi Novel Laut Bercerita Diangkat ke Film

Sutradara Yosep Anggi Noen dan penulis Leila S. Chudori menyeleksi bagian-bagian novel Laut Bercerita yang paling sinematik, karena tidak seluruh cerita dari novel tebal itu dapat diangkat ke film.
Film menonjolkan perasaan serta tema kehidupan, persahabatan, dan keluarga melalui pilihan adegan yang dinilai paling kuat dan menyentuh.
Eva Celia memerankan Anjani sebagai tokoh sentral, sementara filmnya mengisahkan Biru Laut yang bergabung dengan aktivis kelompok diskusi hingga jadi kambing hitam peristiwa kekerasan politik.
Jakarta, IDN Times – Sutradara Yosep Anggi Noen kembali berkarya melalui film Indonesia terbarunya, Laut Bercerita, yang diangkat dari novel karya Leila S. Chudori. Sineas 43 tahun itu tentu tidak melakukannya seorang diri karena turut bekerja sama dengan Leila dalam penulisan naskah.
Namun, mengubah cerita novel menjadi bentuk naskah film bukan perkara yang mudah. Anggi mengungkapkan, ada pertimbangan yang membuat tidak semua isi cerita novel bisa diangkat ke layar lebar.
1. Novel yang cukup tebal membuat tak semua cerita bisa masuk ke film

Potret Yosep Anggi Noen saat dijumpai dalam media luncheon film Laut Bercerita di Jakarta, Jumat (21/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi) Anggi menjelaskan, mengangkat kisah Laut Bercerita menjadi film bukan berarti memindahkan seluruh isi novel menjadi adegan demi adegan. Mengingat novel aslinya cukup tebal, ia dan Leila justru memilih bagian cerita yang dinilai lebih memungkinkan untuk diwujudkan secara sinematik sekaligus dapat menunjukkan feeling atau perasaan.
"Kita mencoba menunjukkan feeling atau perasaan. Hal-hal yang kemudian memang menusuk, menginspirasi, hal-hal yang kemudian membuat hangat, membuat orang jadi memaknai lagi kehidupan, persahabatan, keluarga kayak gitu, kita munculkan dalam bentuk yang paling unggul," ucapnya dalam media luncheon film Laut Bercerita di Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
2. Laut Bercerita banyak bahas persahabatan Laut dan penantian keluarga

Potret cast dan crew saat dijumpai dalam media luncheon film Laut Bercerita di Jakarta, Jumat (21/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi) Meski demikian, Anggi mengatakan bahwa porsi sudut pandang Asmara dan Laut dalam film Laut Bercerita diusahakan tetap berimbang. Namun, ia menyebut, cerita film lebih banyak membahas tentang persahabatan Laut dan teman-temannya di awal cerita, dan pada bagian belakang akan memperlihatkan keluarga yang menantikan kembalinya Laut.
"Bagaimana mengisahkan sudut pandang antara Asmara dan Laut? Sedapat mungkin berimbang. Cuman memang saya harus mengakui akan lebih banyak kita membicarakan mengenai persahabatan Laut dan teman-teman, di awal. Di belakang adalah penantian tentu saja. Bapak, ibu, bahkan Asmara yang menanti," imbuh sang sutradara.
3. Anggi sebut Anjani menjadi tokoh sentral dalam film Laut Bercerita

Still cut film Laut Bercerita menampilkan Eva Celia (Anjani) dan Yunita Siregar (Asmara) (dok. Pal 8 Pictures/Laut Bercerita) Sementara itu, Anggi menyebut karakter Anjani yang diperankan oleh Eva Celia memiliki posisi yang sentral di Laut Bercerita. Menurutnya, karakter tersebut mengalami perubahan yang cukup drastis, baik secara fisik maupun emosional, di sepanjang cerita berjalan.
"Posisi Anjani di film ini sentral, karena dia adalah sebuah tokoh yang punya lompatan physicly dan emotionally drastis. Mulai dari orang yang begitu ceria, berkesenian, kemudian penuh cinta dengan Laut. Kenapa saya sebut sebagai tokoh sentral? Karena lompatan karakternya signifikan," pungkas Anggi.
Segera tayang di bioskop, Laut Bercerita mengisahkan mahasiswa bernama Biru Laut yang tumbuh dari keluarga yang hangat. Suatu hari, ia bergabung dengan aktivis kelompok diskusi bernama Winatra yang dipimpin Bram dan Kasih Kinanti. Laut bersama sahabatnya aktif dalam diskusi buku, serta berusaha membentuk organisasi politik, aktivitas yang dilarang pada masa itu.
Kelompok tersebut bahkan juga aktif turun ke jalan, membela kelompok yang lemah dan terpinggirkan. Namun, tak semua berjalan mulus karena diduga ada pengkhianatan di dalam. Hingga pada satu waktu, kelompok diskusi itu dijadikan kambing hitam peristiwa kekerasan politik.





















