Konferensi pers Asia Pacific International Music Festival Association (APIMFA) di MINQ Jakarta, Jumat (21/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Yuta menambahkan, salah satu persoalan yang masih dihadapi industri festival musik Asia-Pasifik adalah banyaknya pasar yang berkembang secara individual. Kondisi tersebut membuat koneksi antarpromotor dan pelaku industri dari berbagai negara belum maksimal. Diharapkan APIMFA menjadi jembatan yang memperkuat komunikasi sekaligus membuka ruang kolaborasi antarpasar di kawasan.
"Di sisi lain, nilai ekonomi industri ini semakin menarik. Aktivitas festival musik kini tidak hanya menggerakkan industri musik, tetapi juga pariwisata dan hospitality, ekonomi kreatif, bisnis, serta sektor lokal," jelas Yuta.
Ia mencontohkan bagaimana industri festival memiliki dampak ekonomi yang cukup besar di sejumlah negara. Di Jepang, pasar festival disebut memiliki nilai sekitar 43,4 juta yen, dengan pertumbuhan 11,5 persen. Sementara di Australia, nilainya mencapai sekitar 331,3 juta dolar Australia, dengan jumlah penonton lebih dari dua juta orang.
Di Asia Selatan sendiri, penyelenggaraan festival musik tercatat menghasilkan dampak ekonomi sekitar 495 juta dolar AS. Sementara itu, di Korea Selatan, dampak ekonomi dari industri pertunjukan langsung disebut mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS.
Yuta pun menyadari setiap negara memiliki metode pengukuran dan karakteristik pasar yang berbeda. Namun, menurutnya, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa festival musik memiliki efek berantai yang jauh lebih luas daripada sekadar penjualan tiket dan pertunjukan artis.
"Metriknya mungkin berbeda-beda. Namun, yang pasti, ekosistem musik regional yang lebih kuat dapat menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar daripada festival itu sendiri," katanya.