The Hunger Games (dok. Lionsgate/The Hunger Games)
Setelah pemberontakan meluas, konflik antara distrik dan Capitol berubah menjadi perang terbuka. Distrik 13 mulai mengorganisasi kekuatan militer dan menyerang titik-titik strategis yang menjadi sumber kekuatan Capitol. Salah satu target penting adalah Distrik 2 yang memiliki peran strategis bagi pertahanan Capitol. Ketika pemberontak berhasil mengambil alih wilayah tersebut, kekuatan militer Capitol semakin terdesak.
Sementara pasukan pemberontak bertempur secara langsung, Katniss dan timnya menjalankan misi propaganda sekaligus operasi militer. Katniss kemudian bergabung dengan Star Squad, kelompok yang ditugaskan menuju Capitol. Namun, Capitol bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Kota tersebut dipenuhi berbagai pods, yaitu perangkap mematikan yang dirancang untuk membunuh atau menghambat pasukan pemberontak.
Perjalanan menuju pusat Capitol pun berubah menjadi perang jalanan yang brutal. Setiap sudut kota dapat menjadi jebakan, sementara pasukan pemberontak harus terus bergerak menuju kediaman Presiden Snow. Di tengah situasi tersebut, perang mencapai titik paling tragis ketika terjadi serangan bom di sekitar kediaman Snow. Ledakan tersebut menewaskan banyak anak-anak Capitol, termasuk Primrose Everdeen, adik Katniss.
Kematian Prim menjadi pukulan terbesar bagi Katniss sekaligus memperlihatkan bahwa perang telah mengubah semua pihak. Belakangan, Katniss menyadari bahwa serangan tersebut kemungkinan bukan sekadar strategi Capitol. Ia mencurigai bom kedua yang menewaskan para korban justru merupakan bagian dari strategi pihak pemberontak. Tujuannya adalah menciptakan situasi yang membuat Capitol semakin kehilangan dukungan dan mempercepat penyerahan diri.
Setelah Capitol akhirnya jatuh, Presiden Snow ditangkap. Namun, kemenangan tersebut tidak serta-merta berarti Panem telah terbebas dari pemerintahan otoriter. Alma Coin mulai menunjukkan ambisi politiknya. Katniss menyadari bahwa Coin memiliki kecenderungan untuk menggunakan kekuasaan dengan cara yang tidak jauh berbeda dari Snow.
Dalam salah satu momen paling penting di akhir cerita, Coin mengusulkan Hunger Games terakhir yang melibatkan anak-anak Capitol sebagai bentuk pembalasan. Katniss kemudian menyadari bahwa jika Coin berkuasa, siklus kekerasan Panem mungkin hanya akan berganti wajah. Karena itu, saat eksekusi publik Snow digelar, Katniss tidak membunuh Snow seperti yang diperkirakan banyak orang.
Ia justru mengarahkan busurnya kepada Alma Coin dan membunuhnya. Snow sendiri kemudian tewas dalam kekacauan massa. Dengan kematian kedua pemimpin tersebut, struktur kekuasaan lama akhirnya benar-benar runtuh. Setelah itu, Komandan Paylor dari Distrik 8 dipilih sebagai pemimpin baru Panem. Sistem Hunger Games dihentikan dan Panem memasuki era pemerintahan baru yang lebih demokratis.
Hal penting dari akhir cerita ini adalah bahwa revolusi tidak sekadar mengganti siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Katniss memilih menghentikan siklus tersebut agar Panem tidak kembali memiliki pemimpin yang menggunakan ketakutan dan kekerasan sebagai alat untuk mengontrol rakyat.