Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Bangsawan Kerajaan yang Melepaskan Gelarnya, Terbaru Pangeran Harry
Pangeran Harry dan Megan Markle (instagram.com/@sussexroyal)
  • Sejumlah bangsawan melepaskan gelar atau tugas kerajaan karena pernikahan, pilihan pribadi, pengunduran diri, hingga pencabutan status oleh kerajaan.
  • Raja Edward VIII turun takhta pada 1936 demi menikahi Wallis Simpson, lalu memperoleh gelar Duke of Windsor dan menikah di Prancis.
  • Putri Mako kehilangan status kekaisaran setelah menikahi Kei Komuro pada 2021, menolak kompensasi pemerintah Jepang, dan kemudian menetap di New York.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi bagian dari keluarga kerajaan membuat seseorang memiliki gelar sekaligus berbagai tanggung jawab. Namun, status tersebut ternyata gak selalu bisa dipertahankan seumur hidup.

Sepanjang sejarah, terdapat sejumlah bangsawan kerajaan yang melepaskan gelarnya. Alasannya pun beragam, ada yang melepaskan status kerajaan setelah menikah hingga langsung menyerahkan takhtanya kepada penerusnya.

Lantas, siapa saja bangsawan kerajaan yang melepaskan gelarnya? Yuk, simak daftar lengkapnya sampai habis!

1. Pangeran Andrew

Duke of York, Pangeran Andrew (twitter.com/TheDukeOfYork)

Pangeran Andrew merupakan salah satu anggota keluarga Kerajaan Inggris yang baru-baru ini kehilangan seluruh gelar kerajaannya. Putra ketiga Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip ini sebelumnya mengumumkan mundur dari tugas kerajaan pada November 2019.

Dilansir People.com, pada Januari 2022, Ratu Elizabeth II mencabut gelar militer dan patronase kerajaannya. Dengan demikian, pada 17 Oktober 2025, Andrew menyatakan gak akan lagi menggunakan gelar dan kehormatan kerajaannya.

Beberapa hari kemudian, Raja Charles III secara resmi mencabut seluruh gelar tersebut. Kabar tebarunya, pada 19 Februari 2026 lalu, Andrew terlibat kasus dugaan penyalahgunaan jabatan publik dan ditangkap oleh Kepolisian Thames Valley.

Menanggapi hal tersebut, Raja Charles III pun menyampaikan keprihatinannya atas kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa proses hukum harus tetap berjalan secara adil dan sesuai ketentuan pihak berwenang.

2. Raja Edward VIII

Berikutnya ada Raja Edward VIII, sosok yang memilih turun takhta demi menikahi perempuan yang dicintainya. Edward menjadi Raja Inggris pada 20 Januari 1936 setelah ayahnya, Raja George V meninggal dunia.

Namun, masa pemerintahannya hanya berlangsung kurang dari setahun. Pada 10 Desember 1936, Edward turun takhta karena ingin menikahi perempuan asal Amerika, Wallis Simpson.

Setelah turun takhta, Edward pun mendapatkan gelar Duke of Windsor dari adiknya, Raja George VI. Pada 3 Juni 1937, Edward dan Wallis Simpson akhirnya melangsungkan pernikahan di Prancis.

3. Pangeran Harry dan Meghan Markle

Pangeran Harry (instagram.com/sussexroyal)

Pangeran Harry dan Meghan Markle juga termasuk anggota keluarga Kerajaan Inggris yang memilih mundur dari tugas kerajaan. Pada 8 Januari 2020, pasangan ini mengumumkan rencana untuk mundur sebagai anggota senior keluarga kerajaan.

Setelah keputusan tersebut, Harry dan Meghan sempat tinggal di Kanada sebelum akhirnya menetap di California, Amerika Serikat. Meski sudah mundur dari tugas kerajaan, tetapi Harry masih berada dalam garis suksesi takhta Inggris. Saat ini, ia berada di posisi kelima setelah kakaknya, Pangeran William, serta ketiga anak William, yaitu Pangeran George, Putri Charlotte, dan Pangeran Louis.

4. Putri Mako

Berikutnya ada Putri Mako yang benar-benar kehilangan status kerajaan karena pernikahan. Keponakan Kaisar Naruhito ini menikah dengan kekasihnya, Kei Komuro pada 26 Oktober 2021.

Sayangnya, Komuro merupakan laki-laki yang bukan berasal dari keluarga kerajaan. Berdasarkan aturan Kekaisaran Jepang, perempuan dari keluarga kekaisaran yang menikah dengan laki-laki dari kalangan biasa harus meninggalkan status kerajaannya.

Oleh karena itu, Mako kehilangan gelar kerajaan beserta haknya sebagai putri setelah pernikahan tersebut. Menariknya, Mako juga menolak uang sekitar 1,3 juta dolar atau sekitar Rp22,8 miliar dari pemerintah Jepang.

Uang tersebut, biasanya diberikan kepada perempuan yang kehilangan status kerajaan mereka karena menikah. Akhirnya, keduanya memilih untuk menetap di New York.

5. Putri Märtha Louise

Putri Märtha Louise (instagram.com/heartsmart_convos)

Dari Norwegia, ada Putri Märtha Louise yang memilih mengurangi keterlibatannya dalam aktivitas kerajaan. Ia merupakan anak pertama sekaligus putri satu-satunya dari Raja Harald V dan Ratu Sonja.

Märtha Louise dikenal aktif dalam praktik terapi alternatif dan spiritual. Ia bahkan menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki kemampuan clairvoyant.

Pada Agustus 2019, ia sepakat untuk gak menggunakan sebutan putri dalam aktivitas bisnisnya. Keputusan tersebut muncul setelah keluarga kerajaan Norwegia keberatan dengan penggunaan gelarnya dalam kegiatan bisnis.

Ia bahkan menggelar tur bertajuk “Princess and the Shaman” bersama tunangannya, Durek Verrett. Pada November 2022, Märtha Louise mengambil langkah lebih berani, yaitu melepaskan seluruh patronase kerajaannya dan mundur dari peran sebagai anggota kerajaan.

6. Ratu Beatrix

Selanjutnya ada Ratu Beatrix dari Belanda yang memilih turun takhta setelah memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade. Ia mulai menjadi ratu pada 1980 setelah ibunya, Ratu Juliana turun takhta.

Beatrix akhirnya menyerahkan takhta kepada putra sulungnya, Raja Willem-Alexander pada 2013 setelah memerintah selama 33 tahun. Pada tahun yang sama, putra keduanya, Pangeran Friso, meninggal akibat komplikasi setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski.

7. Pangeran Philip

potret Pangeran Philip bersama Ratu Elizabeth II (instagram.com/theroyalfamily)

Sebelum menikah dengan Putri Elizabeth, Pangeran Philip harus rela melepaskan gelar kerajaan yang dimilikinya dari Yunani dan Denmark. Philip lahir di Yunani dan merupakan pangeran dari dua kerajaan tersebut.

Namun, untuk menikahi Elizabeth dan menjadi bagian dari Kerajaan Inggris, ia harus menjadi warga negara Inggris. Philip akhirnya menggunakan nama keluarga Mountbatten yang berasal dari sang Ibu.

Setelah menikah pada 20 November 1947, Philip kemudian menyandang gelar sebagai Duke of Edinburgh. Ia dan Elizabeth pun menjalani pernikahan selama 73 tahun hingga Philip meninggal dunia pada 2021.

8. Lima cucu Raja Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia

Pada Agustus 2019, lima cucu Raja Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia dari Swedia gak lagi menjadi anggota Swedish Royal House. Keputusan tersebut, diambil oleh Raja Carl XVI Gustaf untuk mengurangi jumlah keluarga kerajaan yang nantinya bakal menjalankan tugas resmi kerajaan.

Sehingga, Lima cucu tersebut kehilangan sebutan Their Royal Highnesses setelah sang kakek mencabut gelar tersebut. Selain itu, keputusan ini juga bertujuan agar kelima cucunya bisa memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan kehidupan dan masa depan masing-masing.

Sayangnya, keputusan ini gak berlaku untuk Putri Estelle dan Pangeran Oscar, yaitu anak dari Putri Mahkota Victoria. Keduanya tetap menjadi bagian dari Swedish Royal House karena memiliki posisi penting dalam garis suksesi kerajaan.

9. Putri Diana

ilustrasi Putri Diana (flickr.com/Joe Haupt)

Buat yang belum tahu, Putri Diana juga pernah kehilangan salah satu status kerajaannya, lho. Setelah bercerai dari Pangeran Charles pada 1996, Diana kehilangan sebutan resmi Her Royal Highness.

Meski demikian, Diana masih mempertahankan sejumlah hak dan fasilitasnya. Ia tetap mendapatkan tunjangan, tinggal di apartemennya di Kensington Palace, serta memiliki akses untuk menggunakan St. James' Palace.

Sayangnya, gak lama setelah itu, ia mengelami kecelakaan mobil pada 31 Agustus 1997 yang merenggut nyawanya. Namun, hingga kini sosok Putri Diana masih menjadi salah satu figur paling populer dari keluarga Kerajaan Inggris.

10. Kaisar Akihito

Terakhir, ada Kaisar Akihito dari Jepang yang turun takhta pada 2019. Ia menyerahkan posisi tersebut kepada putra sulungnya yang kemudian menjadi Kaisar Naruhito.

Keputusan Akihito menjadi momen bersejarah bagi pemerintahan Jepang. Pasalnya, momen turun takhta bukanlah hal yang umum dalam monarki Jepang.

Bahkan, sebelum Akihito, kaisar Jepang terakhir yang melakukan hal serupa telah turun takhta hampir 200 tahun sebelumnya. Namun, keputusan ini gak semata-mata diambil karena keinginan untuk menyerahkan kekuasaan kepada penerusnya.

Akihito memilih mundur karena faktor usia dan kondisi kesehatan yang membuatnya khawatir akan kesulitan menjalankan tugas sebagai simbol negara. Sebelumnya, ia pernah menjalani operasi kanker prostat pada 2003 serta operasi bypass jantung pada 2012.

Sebelum resmi turun takhta, Akihito juga menjalani ritual sakral bernama Shinetsu no Gi di Kuil Ise Grand Shrine. Ritual tersebut menjadi bagian dari proses pengunduran dirinya sebagai kaisar sekaligus menandai dimulainya proses suksesi kepada Naruhito.

Gelar kerajaan ternyata gak selalu menjadi status yang harus dipertahankan seumur hidup, ya. Dari 10 bangsawan kerajaan yang melepaskan gelarnya di atas, kisah siapa yang menurut kamu paling menarik?

Curated For You

Editorial Team

Related Article