Cerita Baskara Mahendra Suka Baca Buku Sejarah, 1-2 Hari Kelar

- Baskara Mahendra mengaku menyukai sejarah sejak sekolah dan mampu menamatkan buku paket dalam satu-dua hari, meski tidak hafal tanggal penting.
- Ketertarikan pada sejarah membuat Baskara antusias bergabung di Lobang Buaya dan berdiskusi dengan Hanung Bramantyo, sementara film mengolah sejarah melalui fiksi, misteri, serta horor.
- Dalam Lobang Buaya, Baskara memerankan Letnan Soegeng, aparat penyelidik teror di Desa Lobang Buaya; ia menyiapkan postur, rambut, dan tampilan kulit karakternya.
Jakarta, IDN Times - Ketertarikan Baskara Mahendra terhadap sejarah ternyata membawanya ke film Lobang Buaya (2026). Aktor kelahiran Jakarta 33 tahun silam tersebut dipercaya memerankan Letnan Soegeng, seorang aparat yang ditugaskan mengungkap misteri teror di Desa Lobang Buaya menjelang salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Rumah produksi Adhya Pictures dan Dapur Films sendiri merilis cuplikan dan poster final film Lobang Buaya yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026. Film arahan Hanung Bramantyo ini mengambil latar satu tahun sebelum peristiwa 1965 dan memadukan sejarah, misteri, serta horor dalam kisah pemburuan "7 Setan Desa."
1. Baskara Mahendra akui suka baca buku sejarah dari bangku sekolah

Baskara Mahendra setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Ketertarikan Baskara terhadap sejarah ternyata bukan hal yang baru muncul setelah dirinya bergabung dalam proyek Lobang Buaya. Sejak sekolah, ia mengaku justru menjadi salah satu siswa yang tertarik membaca buku pelajaran sejarah.
"Sebenarnya kalau buatku pribadi, ya aku memang senang banget sama sejarah. Dan memang pelajaran yang kalau buku paketnya datang tuh aku malah baca sejarah. Karena memang buatku kayak banyak baca buku cerita, kayak baca buku fiksi gitu," ucapnya saat konferensi pers di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).
Bahkan, ketika mendapatkan buku paket sejarah dari sekolah, Baskara bisa langsung menyelesaikannya dalam waktu relatif singkat. Namun, kesukaannya terhadap sejarah tidak otomatis membuatnya hafal berbagai tanggal penting yang biasanya menjadi materi ujian.
"Jadi datang buku paket buku sejarah tuh langsung aku selesain dalam sehari dua hari. Tapi tetap enggak hafal tanggal-tanggal karena ujiannya kan tetap tanggal-tanggal itu. Kalau urusan tanggal aku enggak hafal, tapi aku senang sama ceritanya, apa yang terjadi sama negara ini gitu," lanjutnya.
Ketertarikannya terhadap sejarah juga membuat Baskara menyadari bahwa ada sejumlah bagian dari sejarah Indonesia yang tidak banyak didapatkan ketika masih duduk di bangku sekolah. Salah satunya adalah berbagai peristiwa yang terjadi setelah periode berdarah yang menjadi latar film Lobang Buaya.
"Cuman memang kalau spesifik untuk apa yang terjadi setelah film ini terjadi gitu ya, tahun '65 kan memang kita tidak mendapatkan itu di buku paket (sekolah)," tutur Baskara.
2. Suka diskusi sejarah, sampai bahas plot film dengan Hanung

Baskara Mahendra setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Ketika mendapat tawaran untuk bermain dalam Lobang Buaya, mantan suami Sherina Munaf tersebut langsung tertarik karena proyek tersebut membuka ruang untuk membicarakan sejarah Indonesia dari perspektif berbeda.
"Aku pribadi juga mungkin kenapa senang diajak Mas Hanung ke film ini, aku juga tipe orang yang senang nongkrong di warung sama teman-teman ngebahas ginian, kayak 'Ini tuh siapa sih sebenarnya dalangnya? Ini tuh apa sih sebenarnya yang terjadi? Kenapa banyak ditutupin? Kenapa dulu pas zaman kita sekolah tiap tanggal 30 harus nonton ini?'," aku Baskara.
Karena itu, Baskara melihat Hanung sebagai sosok yang menarik untuk diajak berdiskusi. Ketertarikan keduanya terhadap sejarah kemudian menjadi salah satu hal yang membuat proses pengerjaan film terasa semakin menarik bagi Baskara.
"Kayaknya memang Mas Hanung teman diskusi yang menarik untuk ngebahas kayak ginian," ucapnya.
Meski memiliki ketertarikan terhadap sejarah, Baskara juga memahami bahwa Lobang Buaya bukanlah film sejarah yang berusaha memberikan satu klaim mutlak mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Hanung justru menggunakan elemen fiksi dan horor untuk mengolah berbagai ketegangan yang muncul sepanjang cerita.
"Mas Hanung mungkin juga sadar betul enggak bisa membuat teorinya beliau soal apa yang (sebenarnya) terjadi. Jadi menggunakan setan untuk menjadi dalangnya, gitu ya. Tapi kalau disuruh baca (materi sejarah) kayaknya enggak usah disuruh aku udah senang sih kebetulan sama apa yang terjadi sama Indonesia," tambahnya.
3. Totalitas Baskara perankan Letnan Soegeng, hingga spill karakter di film

Baskara Mahendra setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Selain melakukan pendalaman terhadap latar cerita, Baskara juga mempersiapkan penampilannya untuk memerankan Letnan Soegeng. Karakter tersebut merupakan seorang aparat yang bertugas melakukan investigasi terhadap berbagai kejadian misterius yang terjadi di Desa Lobang Buaya.
"Kalau fisik, mungkin enggak spesifik seperti bentuk badan, tapi postur badan iya. Pastinya postur badan aparat enggak klemar-klemer lah, gitu ya. Terus, itu sih paling postur. Kalau misalnya potongan rambut pasti juga disesuaikan," jelasnya.
Penyesuaian tersebut bahkan mencakup warna kulit. Ketika ditanya apakah dirinya sampai harus berjemur untuk mendapatkan tampilan yang sesuai dengan karakter, Baskara justru mengungkapkan bahwa kebutuhan tersebut dibantu melalui makeup.
"Bahkan warna kulit juga, Mas? (menengok ke Hanung) Warna kulit juga disesuaikan, kalau maunya Mas Hanung. Pakai make-up," ujarnya.
Dari sisi cerita, Letnan Soegeng memiliki posisi penting karena menjadi karakter yang berusaha mencari jawaban di tengah teror yang semakin meresahkan warga. Baskara menggambarkan Soegeng sebagai sosok yang menjalankan investigasi layaknya seorang detektif.
"Karakter Soegeng ini 'kan dia melakukan investigasi, ya. Jadi perannya di sini lebih seperti detektif kali ya? Mencari tahu siapa yang melakukan kejahatan tersebut. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," jelasnya.
Menurut Baskara, alur Lobang Buaya akan membawa penonton untuk mengungkap misteri tersebut secara perlahan. Berbagai fakta mengenai kasus yang sedang diselidiki Soegeng akan terbuka satu per satu seiring cerita berjalan.
"Seperti novel atau film whodunnit gitu. Jadi perlahan-lahan kita akan reveal satu per satu apa yang terjadi, siapa yang melakukan kira-kira, terus hubungannya apa dengan kehidupan Soegeng karena ternyata perlahan kehidupan Soegeng juga terbawa," pungkas Baskara.





















